Roehana Koeddoes, Perempuan yang Mengubah Perjuangan Lewat Pena

Dari Koto Gadang, Roehana Koeddoes memperjuangkan pendidikan dan kemandirian perempuan melalui sekolah, keterampilan, dan dunia pers.

- Jurnalis

Jumat, 14 Agustus 2026 - 17:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Roehana Koeddoes, Perempuan yang Mengubah Perjuangan Lewat Pena (Foto: Wikipedia)

Roehana Koeddoes, Perempuan yang Mengubah Perjuangan Lewat Pena (Foto: Wikipedia)

Kabarinaja.id – Nama Roehana Koeddoes menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan perempuan Indonesia. Dari Koto Gadang, Sumatra Barat, ia menggunakan pendidikan, keterampilan, dan tulisan untuk membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan.

Perjuangannya berlangsung jauh sebelum isu kesetaraan gender menjadi pembahasan luas. Roehana bahkan kemudian dikenang sebagai salah satu pelopor pers perempuan Indonesia dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2019.

Pendidikan Bermula dari Lingkungan Keluarga

Roehana lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat, pada 20 Desember 1884. Ia memiliki nama asli Siti Rohana dan merupakan putri Mohammad Rasjad Maharadja Soetan serta Kiam.

Sejak kecil, lingkungan keluarga membentuk kedekatannya dengan dunia pengetahuan. Ayahnya yang bekerja sebagai jaksa pemerintah Hindia Belanda memiliki kegemaran membaca dan memperkenalkan berbagai bacaan kepada putrinya.

Roehana tidak menempuh pendidikan formal di sekolah. Namun, kesempatan belajar tetap ia peroleh melalui keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya.

Buku, majalah, serta surat kabar menjadi bagian dari proses belajarnya. Dari sana, kemampuan membaca dan wawasan Roehana berkembang dengan cepat.

Ia mempelajari huruf Latin, Arab, dan Arab-Melayu sejak usia dini. Ketika beranjak muda, kemampuan berbahasanya juga berkembang hingga mampu menggunakan bahasa Inggris.

Ketika sang ayah mendapat tugas di Alahan Panjang, Roehana kembali memperoleh kesempatan belajar dari lingkungan sekitar. Ia belajar membaca, menulis, dan berhitung dari Adiesa, istri seorang pejabat setempat yang memperlakukannya seperti anak sendiri.

Pengalaman tersebut membuat Roehana melihat betapa besar manfaat pendidikan bagi kehidupan seseorang. Pada saat yang sama, ia menyadari bahwa kesempatan serupa belum mudah diperoleh banyak perempuan pribumi.

Kerajinan Amai Setia Menjadi Ruang Belajar Perempuan

Kesadaran terhadap keterbatasan pendidikan perempuan kemudian mendorong Roehana mengambil langkah nyata. Pada 11 Februari 1911, ia mendirikan Kerajinan Amai Setia atau KAS di Koto Gadang.

Lembaga tersebut menyediakan ruang bagi perempuan untuk belajar berbagai kemampuan dasar. Materinya mencakup membaca, menulis, berhitung, hingga keterampilan menjahit.

Bagi Roehana, keterampilan tidak sekadar menjadi kegiatan untuk mengisi waktu. Pengetahuan dan kemampuan praktis dapat membantu perempuan menjadi lebih mandiri dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.

Baca Juga :  Gus Kikin Terpilih Pimpin PBNU, Ini Profil dan Nasabnya

Gagasan itu menjadi bagian penting dari perjuangannya. Pendidikan dipandang sebagai jalan untuk memperluas kesempatan perempuan sekaligus meningkatkan posisi mereka di tengah masyarakat.

Namun, Roehana kemudian menyadari bahwa perjuangan tersebut membutuhkan ruang yang lebih luas. Pendidikan secara langsung belum cukup untuk menjangkau masyarakat yang lebih banyak.

Karena itu, ia mulai melihat pers sebagai sarana untuk menyebarkan gagasan.

Dari Pendidikan Menuju Dunia Pers

Roehana kemudian berkomunikasi dengan Datuk Sutan Maharadja, tokoh pers sekaligus pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe di Padang.

Dalam komunikasi tersebut, Roehana menyampaikan gagasannya mengenai pentingnya akses pendidikan bagi perempuan. Ia juga menginginkan adanya ruang bagi perempuan untuk menyampaikan pemikiran melalui media.

Gagasan itu akhirnya berkembang menjadi langkah penting dalam sejarah pers Indonesia.

Pada 1912, lahirlah Soenting Melajoe. Surat kabar tersebut menjadi salah satu tonggak dalam perkembangan pers perempuan di Indonesia.

Media tersebut menyediakan ruang bagi perempuan untuk menulis dan membicarakan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Pendidikan, kehidupan sosial, serta kedudukan perempuan menjadi bagian dari isu yang mendapat perhatian.

Bagi Roehana, menulis bukan sekadar menyampaikan informasi. Jurnalistik menjadi alat untuk mengkritisi keadaan sosial yang dianggap membatasi kehidupan perempuan.

Tulisan Menjadi Senjata Perubahan

Melalui pers, Roehana menyampaikan pandangan mengenai berbagai persoalan perempuan. Ia menyoroti keterbatasan akses pendidikan serta praktik sosial yang menurutnya merugikan perempuan.

Salah satu persoalan yang turut mendapat perhatian adalah poligami. Roehana juga membicarakan posisi perempuan dalam keluarga dan masyarakat.

Gagasan tersebut tergolong berani untuk zamannya. Perempuan pada masa itu masih menghadapi berbagai batasan sosial, sementara ruang untuk menyampaikan pendapat secara terbuka belum luas.

Roehana memilih menghadapi keadaan tersebut melalui pengetahuan dan tulisan. Ia tidak menggunakan kekerasan, tetapi memanfaatkan pendidikan, keterampilan, serta media untuk membangun kesadaran.

Perjuangannya pun tidak berhenti di Koto Gadang. Roehana kemudian memiliki kiprah di dunia pers di sejumlah daerah.

Hubungannya dengan sejumlah tokoh pers pada masa Hindia Belanda turut memperlihatkan bahwa perempuan mulai mengambil peran dalam dunia jurnalistik. Mereka bukan hanya menjadi pembaca, tetapi juga penulis dan pengelola media.

Baca Juga :  War Ticket HUT ke-81 RI Resmi Dibuka, Ini Cara Daftar dan Syarat Pesertanya

Dijuluki Kartini dari Sumatra

Perjalanan Roehana membuat namanya dikenal luas sebagai salah satu tokoh perempuan yang memperjuangkan pendidikan dan kemajuan perempuan.

Ia kemudian mendapat julukan “Kartini dari Sumatra”. Sebutan tersebut berkaitan dengan persamaan semangat perjuangan antara Roehana dan R.A. Kartini dalam mendorong pendidikan serta kemajuan perempuan.

Keduanya hidup pada masa ketika perempuan menghadapi berbagai pembatasan sosial. Roehana memilih jalannya sendiri dengan menjadikan pendidikan dan pers sebagai alat perjuangan.

Warisan pemikirannya tidak hanya berkaitan dengan pendidikan. Ia juga menunjukkan bahwa media dapat menjadi ruang bagi perempuan untuk menyampaikan gagasan dan ikut membentuk percakapan publik.

Pengakuan sebagai Pahlawan Nasional

Pengakuan negara terhadap perjuangan Roehana datang puluhan tahun setelah kiprahnya berlangsung.

Pada 2019, Presiden Joko Widodo menetapkan Roehana Koeddoes sebagai salah satu Pahlawan Nasional. Pemerintah Provinsi Sumatra Barat sebelumnya telah mengusulkan namanya sebagai calon penerima gelar tersebut.

Penghargaan itu menjadi pengakuan atas perjalanan panjang Roehana dalam bidang pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan perkembangan pers Indonesia.

Jejaknya juga pernah mendapat perhatian dari Google melalui Google Doodle yang menampilkan sosok Roehana. Penghormatan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan tokoh perempuan dari Koto Gadang itu masih mendapat perhatian hingga masa kini.

Warisan Roehana Koeddoes

Roehana Koeddoes meninggalkan warisan yang melampaui zamannya. Ia memperlihatkan bahwa pendidikan dapat membuka peluang, sementara tulisan mampu membawa persoalan perempuan ke ruang publik.

Perjuangannya dimulai dari lingkungan sederhana di Koto Gadang. Namun, gagasan yang dibawanya berkembang melalui pendidikan, keterampilan, organisasi, dan pers.

Karena itu, nama Roehana tidak hanya tercatat dalam sejarah sebagai tokoh perempuan. Ia juga menjadi bagian dari perjalanan pers Indonesia dan perjuangan memperluas akses pengetahuan bagi perempuan.

Sosoknya mengingatkan bahwa perubahan sosial tidak selalu dimulai dari kekuasaan besar. Pengetahuan, keberanian menyampaikan gagasan, dan konsistensi memperjuangkan pendidikan juga dapat meninggalkan pengaruh panjang.

Sumber: Sekretariat Negara Republik Indonesia, Kementerian Sosial RI, Indonesia.go.id, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (Wd/*)

Berita Terkait

Al-Khawarizmi dan Algoritma yang Mengubah Dunia
AI di Sekolah, Kemendikdasmen Pilih Atur Bukan Larang
Ekonomi Indonesia Ditargetkan Tumbuh 6% pada 2027, Ini Strateginya
Seragam Tim Indonesia di Asian Games 2026 Bawa Motif Wastra Nusantara
Rela Antre Sejak Subuh Demi Bimbel, Ini Pesan Abdul Mu’ti
Cara Update Data Desil DTSEN, Ini 3 Jalurnya
Jangan Asal Pakai Logo, Begini Cara Mengecek Legalitasnya
Profil Gus Kikin, Pengasuh Tebuireng yang Kini Pimpin PBNU
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Al-Khawarizmi dan Algoritma yang Mengubah Dunia

Sabtu, 5 September 2026 - 11:09 WIB

AI di Sekolah, Kemendikdasmen Pilih Atur Bukan Larang

Kamis, 3 September 2026 - 19:03 WIB

Ekonomi Indonesia Ditargetkan Tumbuh 6% pada 2027, Ini Strateginya

Kamis, 3 September 2026 - 18:05 WIB

Seragam Tim Indonesia di Asian Games 2026 Bawa Motif Wastra Nusantara

Kamis, 3 September 2026 - 17:07 WIB

Rela Antre Sejak Subuh Demi Bimbel, Ini Pesan Abdul Mu’ti

Berita Terbaru

IdeaFest 2026 (Foto: medcom)

Teknologi

AI Makin Cepat, Mengapa Keterampilan Manusia Tetap Penting?

Minggu, 6 Sep 2026 - 09:05 WIB

Fitur Tersembunyi Google Maps yang Jarang Diketahui (Foto: medcom)

Teknologi

Fitur Tersembunyi Google Maps yang Jarang Diketahui

Minggu, 6 Sep 2026 - 07:04 WIB

Kolase makanan kekinian yang dapat menjadi inspirasi bagi pemula untuk memulai usaha kuliner dari rumah.

Kuliner

10 Ide Jualan Kekinian yang Bisa Dimulai dari Rumah

Sabtu, 5 Sep 2026 - 21:04 WIB

Ilustrasi yang menggambarkan Al-Khawarizmi mempelajari matematika di masa lalu, sementara konsep algoritma berkembang menjadi bagian penting teknologi digital masa kini.

Tokoh

Al-Khawarizmi dan Algoritma yang Mengubah Dunia

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Seorang penjual mempromosikan kaus melalui siaran langsung dengan bantuan kamera dan ring light. (Foto: pegadaian/Ai)

Ekonomi

Cara Jualan di TikTok Shop agar Produk Lebih Mudah Laku

Sabtu, 5 Sep 2026 - 17:06 WIB