LPSK Hitung Restitusi Korban Penyekapan di Bandung

Asesmen dilakukan untuk menghitung kerugian korban sekaligus menjadi dasar penentuan nilai restitusi dalam perkara yang kini memasuki tahap P-19.

- Jurnalis

Kamis, 6 Agustus 2026 - 16:03 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Taufik Hidayat pelaku penganiayaan YTR (Foto: dok.LPSK/idntimes)

Taufik Hidayat pelaku penganiayaan YTR (Foto: dok.LPSK/idntimes)

Kabarinaja.id – Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mulai melakukan asesmen restitusi terhadap perempuan berinisial YTR yang di duga menjadi korban penyekapan, kekerasan seksual, dan penganiayaan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Langkah tersebut di lakukan seiring perkembangan proses hukum yang kini telah memasuki tahap P-19.

Perhitungan restitusi menjadi bagian dari upaya pemenuhan hak korban, sekaligus untuk mengukur kerugian yang di timbulkan akibat tindak pidana yang di duga dialaminya.

Asesmen Menjadi Dasar Penentuan Restitusi

Wakil Ketua LPSK Sri Nurherwati menjelaskan asesmen di lakukan untuk mengidentifikasi kerugian yang di alami korban, baik dari sisi materiil maupun dampak lain yang muncul akibat peristiwa tersebut.

“Hasil asesmen menjadi dasar bagi tim penilai dalam menghitung restitusi,” ujar Sri Nurherwati dalam keterangan resmi, Kamis (6/8/2026).

Tim LPSK mulai melakukan penilaian setelah kondisi kesehatan YTR di nilai cukup stabil untuk menerima pendampingan. Penilaian tidak hanya mengacu pada dokumen perkara, tetapi juga mempertimbangkan kondisi nyata yang di alami korban selama proses pendampingan.

Koordinasi Dilakukan dengan Berbagai Instansi

Untuk mempercepat pemenuhan hak korban, LPSK bekerja sama dengan Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, kepolisian, rumah sakit, serta pemerintah daerah.

Baca Juga :  DPR Sahkan Revisi UU P2SK, Atur Kripto dan Danantara

Kolaborasi tersebut bertujuan memastikan seluruh kebutuhan korban dapat di penuhi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk proses rehabilitasi dan pengajuan restitusi.

Pendalaman Dugaan Grooming

Selain menghitung restitusi, LPSK juga menelusuri rangkaian peristiwa yang dialami korban menggunakan pendekatan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS).

Berdasarkan pendampingan yang di lakukan, korban di duga mengalami proses manipulasi atau grooming sebelum tindak pidana terjadi.

LPSK menyebut korban di yakinkan bahwa pelaku merupakan sosok yang memberikan perhatian dan memiliki komitmen untuk menikahinya. Kondisi tersebut membuat korban mempercayai pelaku hingga memutuskan meninggalkan pekerjaan serta membatalkan rencana melanjutkan pendidikan.

Enam Orang Mendapat Perlindungan

Dalam penanganan perkara ini, LPSK memberikan perlindungan kepada enam orang yang terdiri atas korban, anggota keluarga, dan saksi.

Keputusan perlindungan tersebut telah di tetapkan sejak 26 Juni 2026.

YTR memperoleh sejumlah layanan, mulai dari rehabilitasi medis, pendampingan psikologis, pemenuhan hak prosedural selama proses hukum berlangsung, hingga fasilitasi pengajuan restitusi. LPSK juga terus berkoordinasi dengan rumah sakit dan aparat penegak hukum agar pendampingan berjalan optimal.

Baca Juga :  Setelah Berhasil Tangani Sengketa Pemilu Kerinci, Kini Lawyer Asal Jambi ini Hadapi Sengketa Keuangan Besar Yang libatkan Perusahaan Vietnam

Perkara Bermula dari Pertemuan pada 2023

Kasus ini sebelumnya di ungkap oleh Polda Jawa Barat setelah menangkap pelaku utama berinisial Taufik Hidayat (30), yang sempat masuk dalam daftar pencarian.

Hasil penyelidikan menyebut korban mengenal pelaku sejak 2023 setelah keduanya bertemu di sebuah konser musik.

Penyidik menduga korban mengalami penyekapan serta berbagai bentuk kekerasan sejak 2023 hingga Juni 2026.

Selama periode tersebut, pelaku di duga beberapa kali memindahkan lokasi penyekapan, di antaranya di kawasan Cileunyi dan Cinunuk, Kabupaten Bandung, untuk menghindari perhatian masyarakat.

Penyelidikan juga mengungkap bahwa komunikasi korban dengan keluarga di duga di batasi. Keluarga di sebut menerima informasi yang membuat mereka meyakini korban sedang bekerja atau merantau di luar daerah.

Kasus ini menjadi perhatian karena menyoroti pentingnya perlindungan menyeluruh bagi korban, mulai dari pendampingan selama proses hukum hingga pemulihan hak melalui mekanisme restitusi sesuai ketentuan yang berlaku. (Wd/*)

Berita Terkait

Asap Mengganggu Komunikasi, Relawan Karhutla Banjarmasin Butuh Peralatan Tambahan
Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya
Hari Santri 2026, Kemenag Siapkan Lima Program untuk Santri
Hari Santri 2026, Prabowo Soroti Peran Pesantren bagi Bangsa
Ingin Mengetahui Nilai Tanah? Begini Cara Mengeceknya Lewat BHUMI ATR/BPN
Cara Download Kartu Nikah Digital melalui Simkah Kemenag
Meutya Hafid Ajak Anak Seimbangkan Aktivitas Digital
Mulai 2027, Pensiunan Berpeluang Terima Uang Langsung ke Rekening
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:28 WIB

Asap Mengganggu Komunikasi, Relawan Karhutla Banjarmasin Butuh Peralatan Tambahan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:13 WIB

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:04 WIB

Hari Santri 2026, Kemenag Siapkan Lima Program untuk Santri

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:06 WIB

Hari Santri 2026, Prabowo Soroti Peran Pesantren bagi Bangsa

Senin, 19 Oktober 2026 - 07:04 WIB

Ingin Mengetahui Nilai Tanah? Begini Cara Mengeceknya Lewat BHUMI ATR/BPN

Berita Terbaru

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya (Foto:  Pemkab Lumajang/rri)

Nasional

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:13 WIB

 Angga Sasongko Soroti Insentif Pajak Ekonomi Kreatif (Foto: Medcom/Rafi)

Ekonomi

Angga Sasongko Soroti Insentif Pajak Ekonomi Kreatif

Sabtu, 24 Okt 2026 - 06:19 WIB

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk

Kesehatan

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk

Jumat, 23 Okt 2026 - 17:04 WIB