Proklamasi 17 Agustus 1945 Berlangsung dalam Suasana Tegang

Menjelang pembacaan Proklamasi di Pegangsaan Timur 56, Soekarno-Hatta menghadapi tekanan, keterbatasan waktu, dan kekhawatiran gangguan Jepang.

- Jurnalis

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:08 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Proklamasi 17 Agustus 1945 Berlangsung dalam Suasana Tegang (Foto: Frans Mendoer/Dokumentasi IPPHOS/RRI)

Proklamasi 17 Agustus 1945 Berlangsung dalam Suasana Tegang (Foto: Frans Mendoer/Dokumentasi IPPHOS/RRI)

Kabarinaja.id Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 berlangsung di tengah situasi yang belum sepenuhnya aman. Di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, rakyat berkumpul sambil menunggu Soekarno dan Mohammad Hatta memulai upacara.

Keputusan untuk menggelar pembacaan Proklamasi pukul 10.00 pagi telah di sepakati beberapa jam sebelumnya. Rumusan teks kemerdekaan di susun hingga dini hari di kediaman Laksamana Tadashi Maeda sebelum dibawa ke rumah Soekarno.

Persiapan Dilakukan dalam Waktu Singkat

Sejak pagi, halaman rumah Soekarno mulai di penuhi pemuda dan masyarakat. Mereka datang untuk menyaksikan langsung pernyataan kemerdekaan yang telah lama di nantikan.

Situasi tersebut membuat persiapan di lakukan dengan cepat. Peralatan suara menjadi salah satu kebutuhan utama agar pembacaan Proklamasi dapat terdengar oleh orang-orang yang berkumpul.

Soewirjo meminta Wilopo menyiapkan mikrofon dan pengeras suara. Pada waktu yang sama, Sudiro meminta S. Suhud menyiapkan tiang untuk pengibaran bendera Merah Putih.

Suhud kemudian mengambil sebatang bambu di belakang rumah. Bambu tersebut di bersihkan, diberi tali, lalu di tanam tidak jauh dari teras rumah Soekarno.

Bendera yang akan di kibarkan juga telah tersedia. Bendera Merah Putih tersebut di jahit dengan tangan oleh Fatmawati Soekarno dengan bahan yang ukurannya tidak sepenuhnya sesuai standar.

Soekarno Sempat Sakit Sebelum Upacara

Menjelang pukul 10.00, suasana semakin menegangkan. Masyarakat yang sudah menunggu mulai tidak sabar karena pembacaan Proklamasi belum juga di mulai.

Kondisi Soekarno turut menjadi perhatian. Ia mengalami demam sepanjang malam setelah mengikuti proses perumusan teks Proklamasi hingga dini hari.

Para pemuda kemudian mendesaknya agar segera memulai pembacaan. Namun, Soekarno memilih menunggu Mohammad Hatta karena ingin keduanya hadir bersama dalam momen tersebut.

Baca Juga :  Waspada Monkey Malaria, IDAI Temukan 79 Kasus di Indonesia

Hatta akhirnya tiba sekitar lima menit sebelum acara di mulai. Ia datang mengenakan pakaian putih dan langsung menuju kamar Soekarno.

Setelah menyambut Hatta, Soekarno bangkit dari tempat tidur dan mengenakan pakaian putih. Keduanya kemudian berjalan menuju lokasi upacara.

Pembacaan Proklamasi Dimulai

Upacara di Pegangsaan Timur berlangsung sederhana. Tidak ada protokol resmi seperti pelaksanaan upacara kenegaraan pada masa sekarang.

Latief Hendraningrat memberikan aba-aba kepada barisan pemuda agar berdiri tegak. Setelah itu, Soekarno dan Hatta maju menuju mikrofon untuk memulai rangkaian acara.

Sebelum membaca naskah Proklamasi, Soekarno menyampaikan pengantar singkat. Ia menjelaskan bahwa bangsa Indonesia telah melalui perjuangan panjang untuk mencapai kemerdekaan.

Pesan utama dalam pengantar tersebut adalah penegasan bahwa bangsa Indonesia telah sampai pada momentum untuk menentukan nasibnya sendiri.

Setelah pengantar selesai, Soekarno membacakan teks Proklamasi. Pernyataan tersebut kemudian menjadi penanda resmi lahirnya Indonesia sebagai negara yang merdeka pada 17 Agustus 1945.

Merah Putih Berkibar di Pegangsaan Timur

Rangkaian acara berlanjut dengan pengibaran bendera Merah Putih. Latief Hendraningrat bersama S. Suhud menyiapkan bendera sebelum menaikkannya pada tiang bambu yang telah di pasang.

Ketika bendera mulai di kerek, para hadirin secara spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Pengibaran berlangsung perlahan agar gerakan bendera mengikuti irama lagu.

Momen tersebut menjadi bagian penting dari upacara yang berlangsung tanpa kemewahan. Tidak ada panggung besar atau perlengkapan kenegaraan seperti yang di kenal dalam upacara kemerdekaan masa kini.

Yang hadir adalah rakyat, pemuda, tokoh pergerakan, serta sejumlah orang yang membantu memastikan acara tersebut dapat berlangsung.

Baca Juga :  Kemenag Buka Seleksi Terbuka Eselon II, Cek Syaratnya

Ada yang Meminta Proklamasi Dibacakan Lagi

Setelah upacara selesai, sekitar seratus anggota Barisan Pelopor datang terlambat ke rumah Soekarno. Mereka kemudian meminta agar pembacaan Proklamasi diulang karena tidak sempat menyaksikannya.

Soekarno tidak memenuhi permintaan tersebut. Ia menjelaskan bahwa Proklamasi hanya di bacakan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya.

Permintaan berikutnya berupa amanat singkat akhirnya di penuhi. Setelah itu, suasana di sekitar rumah Soekarno kembali di warnai ketegangan.

Utusan Jepang Datang Setelah Proklamasi

Tidak lama setelah upacara, tiga pejabat Jepang datang ke rumah Soekarno. Mereka membawa pesan yang pada intinya meminta agar Soekarno tidak mengucapkan Proklamasi.

Namun, permintaan tersebut datang setelah pembacaan Proklamasi selesai. Ketika ditanya mengenai pelaksanaan Proklamasi, Soekarno menjawab singkat, “Sudah saya ucapkan.”

Situasi di sekitar rumah semakin tegang karena para pemuda berada di lokasi. Para utusan Jepang kemudian meninggalkan tempat tersebut setelah menyampaikan pesan mereka.

Momentum yang Mengubah Sejarah

Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak berlangsung melalui upacara besar. Peristiwa tersebut justru lahir dari persiapan singkat, tekanan politik, keterbatasan perlengkapan, serta kekhawatiran terhadap kemungkinan gangguan.

Pembacaan Proklamasi di Pegangsaan Timur 56 menjadi titik penting dalam perjalanan Indonesia. Sejumlah keputusan yang di buat dalam hitungan jam akhirnya menghasilkan peristiwa yang mengubah arah sejarah bangsa.

Kesederhanaan upacara tersebut juga memperlihatkan bahwa kemerdekaan Indonesia diumumkan dalam kondisi yang penuh ketidakpastian. Meski demikian, pernyataan yang dibacakan Soekarno bersama Mohammad Hatta menjadi tonggak berdirinya Indonesia sebagai negara merdeka. (Wd/*)

Berita Terkait

AI di Sekolah, Kemendikdasmen Pilih Atur Bukan Larang
Ekonomi Indonesia Ditargetkan Tumbuh 6% pada 2027, Ini Strateginya
Seragam Tim Indonesia di Asian Games 2026 Bawa Motif Wastra Nusantara
Rela Antre Sejak Subuh Demi Bimbel, Ini Pesan Abdul Mu’ti
Cara Update Data Desil DTSEN, Ini 3 Jalurnya
Jangan Asal Pakai Logo, Begini Cara Mengecek Legalitasnya
Gus Kikin Terpilih Pimpin PBNU, Ini Profil dan Nasabnya
Tentara Jerman di Indonesia Saat Revolusi Kemerdekaan
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 11:09 WIB

AI di Sekolah, Kemendikdasmen Pilih Atur Bukan Larang

Kamis, 3 September 2026 - 19:03 WIB

Ekonomi Indonesia Ditargetkan Tumbuh 6% pada 2027, Ini Strateginya

Kamis, 3 September 2026 - 18:05 WIB

Seragam Tim Indonesia di Asian Games 2026 Bawa Motif Wastra Nusantara

Kamis, 3 September 2026 - 17:07 WIB

Rela Antre Sejak Subuh Demi Bimbel, Ini Pesan Abdul Mu’ti

Senin, 31 Agustus 2026 - 14:53 WIB

Cara Update Data Desil DTSEN, Ini 3 Jalurnya

Berita Terbaru

IdeaFest 2026 (Foto: medcom)

Teknologi

AI Makin Cepat, Mengapa Keterampilan Manusia Tetap Penting?

Minggu, 6 Sep 2026 - 09:05 WIB

Fitur Tersembunyi Google Maps yang Jarang Diketahui (Foto: medcom)

Teknologi

Fitur Tersembunyi Google Maps yang Jarang Diketahui

Minggu, 6 Sep 2026 - 07:04 WIB

Kolase makanan kekinian yang dapat menjadi inspirasi bagi pemula untuk memulai usaha kuliner dari rumah.

Kuliner

10 Ide Jualan Kekinian yang Bisa Dimulai dari Rumah

Sabtu, 5 Sep 2026 - 21:04 WIB

Ilustrasi yang menggambarkan Al-Khawarizmi mempelajari matematika di masa lalu, sementara konsep algoritma berkembang menjadi bagian penting teknologi digital masa kini.

Tokoh

Al-Khawarizmi dan Algoritma yang Mengubah Dunia

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Seorang penjual mempromosikan kaus melalui siaran langsung dengan bantuan kamera dan ring light. (Foto: pegadaian/Ai)

Ekonomi

Cara Jualan di TikTok Shop agar Produk Lebih Mudah Laku

Sabtu, 5 Sep 2026 - 17:06 WIB