Kabarinaja.id – Festival Golo Koe 2026 menjadi salah satu agenda yang dapat memperkaya pengalaman wisatawan saat berkunjung ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Festival ini berlangsung 10–15 Agustus 2026 dengan rangkaian kegiatan budaya, religi, seni, ekonomi kreatif, dan kepedulian lingkungan.
Pusat kegiatan berada di kawasan Waterfront City dan sejumlah lokasi lain di Labuan Bajo. Bukit Golo Koe juga menjadi bagian penting dari rangkaian acara tersebut.
Festival Golo Koe Masuk KEN 2026
Festival Golo Koe tahun ini kembali mendapat tempat dalam Karisma Event Nusantara atau KEN 2026. Kementerian Pariwisata memasukkan festival tersebut sebagai salah satu dari 125 agenda unggulan yang tersebar di 38 provinsi.
Status tersebut membuat Festival Golo Koe memiliki posisi penting dalam kalender pariwisata nasional. Kehadirannya juga memperkuat pilihan wisata berbasis budaya dan religi di Labuan Bajo.
Festival Golo Koe 2026 mengusung tema “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan”. Rangkaian acaranya menggabungkan pengalaman spiritual dengan seni, tradisi Manggarai, pemberdayaan masyarakat, serta kegiatan ekologis.
Dari Karnaval hingga Pertunjukan Caci
Wisatawan yang datang tidak hanya menemukan pameran produk lokal. Panitia juga menyiapkan pertunjukan seni, karnaval budaya, teater Manggarai, pertunjukan Caci, hingga berbagai kegiatan yang melibatkan komunitas setempat.
Pada 12 Agustus, misalnya, karnaval budaya Maria Assumpta Nusantara menjadi salah satu agenda utama. Sehari setelahnya, pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan Caci dan kegiatan budaya lainnya.
Rangkaian festival juga menghadirkan pameran UMKM dan kuliner lokal. Kegiatan tersebut membuka ruang bagi pelaku ekonomi kreatif untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat serta wisatawan.
Tradisi Religi Menjadi Bagian Utama
Nuansa religi menjadi ciri kuat Festival Golo Koe 2026. Salah satu agenda yang paling menonjol adalah Prosesi Akbar Maria Assumpta Nusantara pada 14 Agustus.
Prosesi tersebut menggabungkan perjalanan melalui jalur laut dan darat. Patung Maria Assumpta diarak menggunakan kapal pinisi serta diiringi sejumlah perahu sebelum rangkaian prosesi berlanjut di daratan.
Sebelum festival utama berlangsung, prosesi Maria Assumpta Nusantara juga telah mengunjungi 26 paroki di wilayah Keuskupan Labuan Bajo. Rangkaian tersebut berlangsung sejak 10 Juli hingga 5 Agustus 2026.
Puncak kegiatan dijadwalkan pada 15 Agustus melalui Misa Akbar Maria Assumpta Nusantara di Waterfront City. Agenda tersebut menjadi penutup rangkaian Festival Golo Koe 2026.
Dampak Festival Menjangkau Ekonomi Lokal
Festival ini juga diarahkan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar. Pameran UMKM, pertunjukan seni, kuliner lokal, serta keterlibatan komunitas menjadi bagian dari ekosistem kegiatan selama festival.
Pada penyelenggaraan 2025, Festival Golo Koe disebut mencatat lebih dari 45 ribu kunjungan wisatawan. Kegiatan tersebut melibatkan 173 pelaku UMKM dan 883 pekerja seni serta menciptakan 1.473 kesempatan kerja.
Perputaran ekonomi pada penyelenggaraan tersebut mencapai sekitar Rp2,82 miliar. Untuk 2026, penyelenggara menargetkan sekitar 50 ribu pengunjung dengan harapan dampak ekonominya dapat meningkat.
Pertumbuhan kunjungan selama festival juga berpotensi memberikan manfaat bagi sektor akomodasi. Hotel, homestay, restoran, transportasi, dan usaha wisata lokal menjadi bagian dari rantai ekonomi yang dapat ikut bergerak.
Wisatawan Bisa Menemukan Sisi Lain Labuan Bajo
Selama ini, Labuan Bajo lebih sering dikenal melalui wisata Komodo, laut, pulau, dan panorama alam. Festival Golo Koe menawarkan pengalaman berbeda dengan mempertemukan wisatawan dan kehidupan budaya masyarakat Manggarai.
Konsep tersebut sejalan dengan arah pengembangan wisata yang menggabungkan alam, budaya, spiritualitas, serta keberlanjutan. Pemerintah juga menempatkan festival sebagai bagian dari upaya memperkaya produk wisata Labuan Bajo Flores.
Uskup Labuan Bajo Maksimus Regus sebelumnya menekankan pentingnya pertumbuhan pariwisata yang tetap memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal. Gagasan tersebut menjadi salah satu dasar agar perkembangan destinasi tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan.
Festival Golo Koe juga melibatkan berbagai unsur, mulai dari Keuskupan Labuan Bajo, Keuskupan Ruteng, pemerintah daerah, komunitas, masyarakat, hingga pelaku ekonomi kreatif. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari penyelenggaraan festival yang menggabungkan berbagai kepentingan lokal.
Bagi wisatawan yang berada di Labuan Bajo pada 10–15 Agustus 2026, Festival Golo Koe dapat menjadi pilihan agenda tambahan. Pengalaman yang ditawarkan bukan sekadar menikmati pertunjukan, tetapi juga mengenal tradisi, seni, kehidupan masyarakat, serta nilai budaya yang berkembang di Flores.
Dengan rangkaian kegiatan tersebut, Festival Golo Koe 2026 memperlihatkan bahwa perjalanan ke Labuan Bajo dapat menghadirkan pengalaman yang lebih luas. Destinasi ini tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga budaya dan kehidupan masyarakat yang menjadi bagian penting dari identitasnya. (Wd/*)










