Meutya Hafid Ajak Anak Seimbangkan Aktivitas Digital

Melalui sosialisasi PP TUNAS di Tabanan, Bali, Meutya Hafid mendorong anak membangun kebiasaan digital yang sehat dengan berolahraga, bermain, dan berinteraksi langsung.

- Jurnalis

Senin, 12 Oktober 2026 - 11:09 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Meutya Hafid Ajak Anak Seimbangkan Aktivitas Digital (Foto: medcom)

Meutya Hafid Ajak Anak Seimbangkan Aktivitas Digital (Foto: medcom)

Kabarinaja.id – Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengajak anak-anak mengurangi ketergantungan pada aktivitas digital dengan memperbanyak kegiatan fisik. Bersepeda, berolahraga, bermain, dan bertemu teman secara langsung menjadi alternatif untuk membangun kebiasaan sehari-hari yang lebih seimbang.

Pesan tersebut disampaikan Meutya saat berdialog dengan siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Tabanan, Bali, Jumat (9/10/2026). Kegiatan itu merupakan bagian dari sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS.

Meutya Hafid Dorong Anak Aktif di Luar Ruang Digital

Dalam pertemuan tersebut, Meutya menekankan bahwa anak membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan minat dan membangun hubungan sosial di luar internet. Aktivitas fisik juga dapat menjadi pilihan untuk mengisi waktu sekaligus mengalihkan perhatian dari penggunaan perangkat digital yang berlebihan.

“Bukan karena mama papanya enggak sayang kalian. Tapi kita semua bisa mengalihkan energi kita, salah satunya adalah dengan bersepeda,” ujar Meutya.

Dialog itu melibatkan para siswa dan komunitas pesepeda. Melalui kegiatan tersebut, pemerintah mendorong anak mengenal beragam aktivitas yang dapat dilakukan tanpa selalu bergantung pada gawai.

Teknologi tetap memiliki manfaat untuk belajar dan berkomunikasi. Namun, penggunaannya perlu mempertimbangkan usia, kebutuhan, serta kesiapan anak dalam menghadapi berbagai risiko di internet.

PP TUNAS Perkuat Pelindungan Anak di Internet

Pemerintah menerbitkan PP TUNAS untuk memperkuat pelindungan anak ketika menggunakan layanan digital. Kebijakan ini menggunakan pendekatan berbasis risiko dengan menempatkan tanggung jawab pelindungan pada penyelenggara platform sesuai karakteristik layanan masing-masing.

Baca Juga :  Kemenag Buka Seleksi Terbuka Eselon II, Cek Syaratnya

Meutya mengibaratkan kesiapan anak menggunakan layanan digital dengan kemampuan mereka menghadapi situasi di jalan raya. Menurut dia, anak perlu menunggu hingga cukup siap sebelum menghadapi lingkungan yang memiliki risiko tertentu.

“Bukannya dilarang seumur hidup naik mobil, tapi tunggu mereka siap. Karena jalanan itu berbahaya untuk anak kecil. Demikian juga sosial media, game online yang kita anggap risikonya tinggi,” jelasnya.

Perumpamaan tersebut menekankan bahwa pembatasan penggunaan teknologi berkaitan dengan kesiapan anak, bukan sekadar larangan tanpa penjelasan. Anak juga perlu memahami alasan di balik aturan agar dapat mengenali situasi yang berpotensi membahayakan dirinya.

Penipuan dan Perundungan Menjadi Perhatian

Dalam dialog bersama siswa, muncul cerita mengenai pengalaman sejumlah anak yang pernah tertipu ketika melakukan transaksi. Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya pengenalan keamanan digital sejak usia dini.

Meutya turut mengingatkan risiko interaksi dengan orang yang tidak dikenal melalui internet. Ancaman tersebut mencakup penipuan, perundungan, pendekatan manipulatif yang mengarah pada eksploitasi anak atau child grooming, serta penggunaan layanan digital secara berlebihan.

Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi perlu disertai pemahaman tentang keamanan dan batasan pribadi. Anak perlu mengetahui kapan harus berhenti berinteraksi, menghindari transaksi mencurigakan, atau meminta bantuan orang dewasa yang dipercaya.

“Perlindungan anak tidak cukup hanya dengan menetapkan batas usia. Anak perlu memahami alasan di balik aturan tersebut agar dapat mengenali risiko dan mengambil keputusan yang lebih aman ketika menggunakan teknologi,” ungkap Meutya.

Baca Juga :  Cara dan Syarat Dapat Tiket Masuk Ancol Gratis 10 Juli

Orang Tua dan Guru Berperan dalam Kebiasaan Digital Sehat

Pelindungan anak di ruang digital membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Selain tanggung jawab penyelenggara platform, orang tua dan guru memiliki peran dalam mendampingi anak memahami aturan serta menghadapi persoalan ketika menggunakan internet.

Pendampingan tersebut dapat dilakukan dengan menjelaskan risiko layanan digital sesuai usia anak. Orang tua dan tenaga pendidik juga dapat membantu anak menyusun kebiasaan penggunaan perangkat yang sesuai dengan kebutuhan belajar, komunikasi, dan hiburan.

Meutya mengajak keluarga dan sekolah menyediakan pilihan kegiatan yang menarik di luar layar. Kesempatan untuk berolahraga, bermain bersama, dan berinteraksi secara langsung menjadi bagian dari upaya membangun keseimbangan tersebut.

“Sekali lagi saya mengajak orang tua dan tenaga pendidik untuk ikut membangun kebiasaan digital yang sehat. Pendampingan perlu berjalan bersama upaya menciptakan kesempatan bagi anak untuk belajar, bermain, berolahraga, dan berinteraksi secara langsung,” ujarnya.

Sosialisasi PP TUNAS di Tabanan menjadi bagian dari upaya Kementerian Komunikasi dan Digital memperkenalkan penggunaan teknologi yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak. Melalui pendekatan tersebut, pemerintah mendorong lingkungan keluarga, sekolah, dan platform digital ikut mendukung keamanan anak, baik ketika berada di internet maupun saat beraktivitas di dunia nyata. (Wd/*)

Berita Terkait

Mulai 2027, Pensiunan Berpeluang Terima Uang Langsung ke Rekening
Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya
Kebijakan Tinggal Kelas Bisa Berlaku 2027, Ini Penjelasan Mendikdasmen
Biaya Haji 2027 Turun, Ini Besaran Pelunasan Jemaah
Cara Konfirmasi Data ASN yang Tidak Sesuai di MyASN
Pengangkatan Bangkai KM Virgo Ditargetkan Mulai Oktober 2026
Perencanaan Kekayaan Anak Perlu Dimulai Sejak Dini
Jamur Pangan Indonesia Punya Potensi Lebih dari Sekadar Bahan Makanan
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Meutya Hafid Ajak Anak Seimbangkan Aktivitas Digital

Minggu, 11 Oktober 2026 - 13:06 WIB

Mulai 2027, Pensiunan Berpeluang Terima Uang Langsung ke Rekening

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:08 WIB

Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:01 WIB

Kebijakan Tinggal Kelas Bisa Berlaku 2027, Ini Penjelasan Mendikdasmen

Kamis, 8 Oktober 2026 - 11:54 WIB

Biaya Haji 2027 Turun, Ini Besaran Pelunasan Jemaah

Berita Terbaru

Rachel Vennya Buka Suara soal Karhutla Kalimantan (Foto:  Instagram/rachelvennya/medcom)

Showbiz

Rachel Vennya Buka Suara soal Karhutla Kalimantan

Rabu, 14 Okt 2026 - 12:07 WIB

Kombinasi Dinding Polos dan Roster untuk Teras Rumah

Tips & Trik

Kombinasi Dinding Polos dan Roster untuk Teras Rumah

Selasa, 13 Okt 2026 - 09:24 WIB