Jamur Pangan Indonesia Punya Potensi Lebih dari Sekadar Bahan Makanan

Kandungan protein, serat, vitamin, mineral, dan senyawa aktif membuat jamur berpeluang dikembangkan sebagai pangan fungsional hingga bahan baku obat.

- Jurnalis

Selasa, 29 September 2026 - 13:06 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jamur Pangan Indonesia Punya Potensi Lebih dari Sekadar Bahan Makanan (Foto: DOK BRIN/medcom)

Jamur Pangan Indonesia Punya Potensi Lebih dari Sekadar Bahan Makanan (Foto: DOK BRIN/medcom)

Kabarinaja.id – Jamur pangan Indonesia menyimpan potensi yang lebih luas daripada sekadar bahan masakan. Kandungan protein, serat, vitamin, mineral, serta sejumlah senyawa aktif membuat komoditas ini berpeluang dikembangkan sebagai pangan fungsional.

Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iwan Saskiawan, menjelaskan bahwa tidak semua jenis jamur dapat dikonsumsi. Dari sekitar 10 ribu jenis jamur yang terdapat di dunia, kurang dari 10 persen diketahui termasuk kelompok yang dapat dimakan.

“Dari sekitar sepuluh ribuan jamur yang ada di muka bumi ini, hanya sekitar kurang dari 10% spesies yang dapat dimakan atau edible,” ujar Iwan, dikutip dari laman BRIN, Senin, 28 September 2026.

Kandungan Nutrisi Jamur Cukup Beragam

Menurut Iwan, jamur pangan yang biasa dikonsumsi merupakan bagian tubuh buah dari jamur makroskopis. Organisme ini tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat memproduksi makanan sendiri seperti tumbuhan.

Jamur memperoleh nutrisi melalui enzim yang dilepaskan ke lingkungan. Enzim tersebut membantu menguraikan senyawa kompleks menjadi bentuk lebih sederhana yang kemudian dapat diserap oleh jamur.

Dari sisi kandungan gizi, jamur memiliki sejumlah komponen yang menarik untuk dikembangkan sebagai bahan pangan. Rata-rata kandungan proteinnya berada pada kisaran 19-35 persen.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kandungan protein beras yang sekitar 7,38 persen dan gandum sekitar 13,2 persen. Jamur juga memiliki sekitar sembilan jenis asam amino esensial.

Komponen lemaknya turut menjadi perhatian karena sekitar 72 persen merupakan lemak tidak jenuh. Selain itu, jamur mengandung vitamin B1, B2, niasin, dan biotin.

Mineral yang terdapat dalam jamur antara lain kalium, fosfor, kalsium, natrium, magnesium, dan tembaga. Kandungan seratnya juga berada pada kisaran 7,4-24,6 persen dengan kalori yang relatif rendah.

Baca Juga :  Gambut Jadi Tantangan, Ini Wilayah Karhutla Tersulit di Kalbar

“Kandungan seratnya yang berkisar 7,4-24,6 persen juga menjadikan jamur sebagai salah satu bahan pangan yang dapat mendukung kebutuhan serat, dengan kandungan kalori yang relatif rendah,” kata Iwan.

Jamur Tiram Jadi Salah Satu Komoditas Unggulan

Di Indonesia, jamur tiram atau Pleurotus sp. menjadi salah satu jenis yang cukup luas dikonsumsi dan dibudidayakan. Kandungan proteinnya berada pada kisaran 19-30 persen, sedangkan karbohidratnya sekitar 50-60 persen.

Jamur tiram juga menyediakan asam amino, vitamin B, vitamin C, serta sejumlah mineral. Beberapa di antaranya adalah kalsium, besi, magnesium, fosfor, kalium, sulfur, dan seng.

Potensi jamur tiram semakin menarik karena keberadaan pleuran. Senyawa gula sederhana tersebut disebut memiliki aktivitas antioksidan.

“Jamur tiram mengandung senyawa pleuran, senyawa gula sederhana yang mempunyai aktivitas antioksidan. Karena kandungan dan manfaat tersebut, jamur tiram dapat dikategorikan sebagai salah satu pangan fungsional,” jelas Iwan.

Pangan fungsional sendiri merujuk pada bahan makanan yang selain menyediakan zat gizi, memiliki komponen tertentu yang berpotensi memberikan manfaat tambahan bagi tubuh.

Keanekaragaman Jamur Membuka Peluang Bioprospeksi

Pengembangan jamur di Indonesia tidak terbatas pada jenis yang telah lama dibudidayakan. Jamur tiram dan jamur kuping termasuk beberapa jenis jamur kayu yang sudah dikenal luas masyarakat.

Sejumlah jenis jamur juga ditemukan dan dimanfaatkan dari alam. Contohnya adalah jamur bulan (Termitomyces sp.), jamur grigit (Schizophyllum commune), serta jamur pelawan (Heimioporus sp.).

Keanekaragaman tersebut membuka peluang penelitian melalui pendekatan bioprospeksi. Pendekatan ini berupaya menggali sumber daya hayati untuk menemukan manfaat atau produk baru.

Potensi tersebut juga dapat diarahkan pada pengembangan produk pangan bernilai tambah. Dengan penelitian yang memadai, karakteristik setiap jenis jamur dapat dipelajari untuk melihat kemungkinan pemanfaatannya secara lebih luas.

Baca Juga :  Puncak Kemarau September 2026, Ini Prediksi 10 Wilayahnya

Pemanfaatan Jamur untuk Kebutuhan Pangan

Iwan mencontohkan penggunaan jamur tiram dalam upaya penanganan masalah gizi pada balita yang dilakukan bidan desa bernama Sunarti. Sunarti merupakan penerima Srikandi Award 2012 dari Kementerian Kesehatan.

Dalam praktik tersebut, jamur tiram diolah menjadi berbagai jenis makanan untuk dikonsumsi balita. Penggunaan tersebut menunjukkan bahwa jamur dapat diolah menjadi bahan makanan untuk kelompok usia tertentu.

Pengembangan seperti itu juga memperlihatkan pentingnya penguasaan teknologi pengolahan. Kandungan nutrisi jamur perlu diikuti dengan metode budidaya, pengolahan, serta pemanfaatan yang sesuai.

Riset Jamur Perlu Diperkuat

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang besar sehingga penelitian mengenai jamur pangan masih memiliki ruang pengembangan. Penguasaan mushroom science atau ilmu tentang jamur menjadi salah satu kebutuhan untuk mengoptimalkan potensi tersebut.

Iwan menilai kolaborasi antara lembaga penelitian, industri budidaya jamur, dan perusahaan farmasi diperlukan untuk memperluas pemanfaatan hasil riset. Kerja sama tersebut dapat mendukung kajian mengenai jamur sebagai pangan fungsional maupun sumber bahan baku obat.

“Indonesia dengan keanekaragaman hayatinya yang tinggi masih menyimpan potensi pengembangan jamur pangan baik untuk bahan pangan fungsional ataupun sebagai bahan baku obat. Penguasaan ilmu tentang jamur pangan (mushroom science) diperlukan dalam hal ini,” ujar Iwan.

Dengan basis keanekaragaman hayati dan pengalaman budidaya yang sudah berkembang, jamur memiliki peluang untuk masuk ke pengembangan produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Riset yang berkelanjutan menjadi bagian penting untuk memastikan setiap potensi tersebut dapat dikaji berdasarkan karakteristik dan manfaatnya. (Wd/*)

Berita Terkait

Meutya Hafid Ajak Anak Seimbangkan Aktivitas Digital
Mulai 2027, Pensiunan Berpeluang Terima Uang Langsung ke Rekening
Sering Cari Gejala Penyakit di Google? Coba Cek Kesehatan Gratis
Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya
Kebijakan Tinggal Kelas Bisa Berlaku 2027, Ini Penjelasan Mendikdasmen
Biaya Haji 2027 Turun, Ini Besaran Pelunasan Jemaah
Cara Konfirmasi Data ASN yang Tidak Sesuai di MyASN
Pengangkatan Bangkai KM Virgo Ditargetkan Mulai Oktober 2026
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Meutya Hafid Ajak Anak Seimbangkan Aktivitas Digital

Minggu, 11 Oktober 2026 - 13:06 WIB

Mulai 2027, Pensiunan Berpeluang Terima Uang Langsung ke Rekening

Jumat, 9 Oktober 2026 - 15:07 WIB

Sering Cari Gejala Penyakit di Google? Coba Cek Kesehatan Gratis

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:08 WIB

Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:01 WIB

Kebijakan Tinggal Kelas Bisa Berlaku 2027, Ini Penjelasan Mendikdasmen

Berita Terbaru

Rachel Vennya Buka Suara soal Karhutla Kalimantan (Foto:  Instagram/rachelvennya/medcom)

Showbiz

Rachel Vennya Buka Suara soal Karhutla Kalimantan

Rabu, 14 Okt 2026 - 12:07 WIB

Kombinasi Dinding Polos dan Roster untuk Teras Rumah

Tips & Trik

Kombinasi Dinding Polos dan Roster untuk Teras Rumah

Selasa, 13 Okt 2026 - 09:24 WIB