Kabarinaja.id – Menyiapkan masa depan anak tidak berhenti pada pendidikan dan kebutuhan sehari-hari. Perencanaan kekayaan anak juga perlu dipikirkan sejak keluarga mulai memiliki aset dan tujuan finansial jangka panjang.
Pendekatan tersebut tidak semata-mata bertujuan meninggalkan sejumlah harta ketika anak dewasa. Orang tua juga perlu menyiapkan pengetahuan, kemampuan mengambil keputusan, serta tanggung jawab agar generasi berikutnya mampu mengelola aset.
Konsep tersebut dikenal sebagai family wealth planning atau perencanaan kekayaan keluarga. Dalam praktiknya, keluarga menyusun strategi untuk membangun, menjaga, dan meneruskan kekayaan secara terencana.
Kekayaan Keluarga Perlu Dibangun dengan Tujuan
Merujuk informasi BCA Prioritas yang dirangkum dari laman resminya pada Jumat, 2 Oktober 2026, Global Wealth Report 2025 mencatat adanya peningkatan kekayaan global selama beberapa dekade terakhir.
Pertumbuhan aset dalam jangka panjang dan kepemilikan investasi menjadi sejumlah faktor yang berkaitan dengan perkembangan tersebut. Namun, jumlah aset bukan satu-satunya ukuran dalam membangun kekayaan keluarga.
Keluarga juga perlu memperhatikan tujuan finansial, konsistensi membangun aset, pengelolaan risiko, serta kesiapan anggota keluarga yang akan meneruskannya.
Karena itu, perencanaan sebaiknya dimulai dengan pertanyaan sederhana: untuk kebutuhan apa kekayaan tersebut dibangun?
Tujuannya bisa berbeda pada setiap keluarga. Sebagian mungkin berfokus pada pendidikan anak, sementara lainnya mempersiapkan rumah, modal usaha, dana pensiun, atau investasi jangka panjang.
Tujuan yang jelas kemudian dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi keuangan keluarga.
Investasi Dilakukan Secara Konsisten
Setelah tujuan ditetapkan, keluarga dapat mulai menyusun strategi untuk membangun aset. Salah satu pendekatannya adalah melakukan investasi secara rutin sesuai kemampuan dan rencana keuangan.
Investasi jangka panjang memberikan ruang bagi aset untuk berkembang seiring waktu. Namun, pemilihan instrumen tetap perlu mempertimbangkan kondisi keuangan, jangka waktu, tujuan, dan kemampuan menghadapi risiko.
Tidak ada instrumen investasi yang secara otomatis sesuai untuk seluruh keluarga. Karena itu, keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil dan kebutuhan masing-masing.
Konsistensi juga menjadi bagian penting. Membangun kekayaan biasanya membutuhkan proses panjang sehingga keputusan keuangan tidak hanya berfokus pada hasil dalam waktu singkat.
Aset Saja Tidak Cukup untuk Generasi Berikutnya
Orang tua dapat menyiapkan aset untuk anak sebagai bagian dari rencana masa depan. Namun, kemampuan memahami dan mengelola aset tersebut juga menentukan keberlanjutan kekayaan keluarga.
Di sinilah literasi keuangan memiliki peran. Anak dapat diperkenalkan secara bertahap pada konsep seperti menabung, membuat anggaran, memahami kebutuhan dan keinginan, serta mengenali risiko dalam keputusan keuangan.
Pembelajaran tersebut tidak harus dimulai melalui pembahasan investasi yang kompleks. Pemahaman sederhana mengenai cara menggunakan uang secara bertanggung jawab dapat menjadi fondasi sebelum anak menghadapi keputusan finansial yang lebih besar.
Nilai Keluarga Ikut Menentukan Keberlanjutan Aset
Kekayaan keluarga juga memiliki dimensi yang lebih luas daripada nilai nominal aset. Cara keluarga menggunakan dan mempertahankan aset menjadi bagian dari proses membangun kekayaan antargenerasi.
Dalam konsep generational wealth, perpindahan aset dari satu generasi kepada generasi berikutnya perlu disertai pemahaman mengenai tujuan dan tanggung jawabnya.
Anak perlu mengetahui alasan keluarga membangun aset tersebut. Pengetahuan itu dapat membantu generasi penerus memahami keputusan finansial yang diambil ketika mereka nantinya memiliki kendali atas kekayaan keluarga.
Transfer Kekayaan Perlu Dipersiapkan
Semakin kompleks aset yang dimiliki, semakin penting pula keluarga memikirkan proses transfer kekayaan sejak awal. Perencanaan tersebut membantu keluarga menentukan bagaimana aset dapat diteruskan sesuai tujuan yang telah ditetapkan.
Transfer kekayaan bukan sekadar memindahkan kepemilikan dari orang tua kepada anak. Keluarga juga perlu mempertimbangkan bagaimana generasi penerus memahami aset dan tanggung jawab yang menyertainya.
Persiapan yang dilakukan lebih awal memberi keluarga waktu untuk membicarakan tujuan, nilai, serta pengelolaan kekayaan. Proses tersebut juga dapat membantu mengurangi keputusan yang terburu-buru ketika terjadi perubahan kondisi keluarga.
Lima Hal yang Bisa Dipersiapkan Orang Tua
Secara sederhana, perencanaan kekayaan anak dapat dimulai melalui beberapa langkah yang saling berkaitan:
- Menentukan tujuan finansial keluarga
Tetapkan kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang yang ingin dicapai melalui aset keluarga. - Membangun aset secara konsisten
Gunakan strategi investasi yang sesuai dengan tujuan, jangka waktu, kondisi finansial, dan risiko yang dapat diterima. - Mengajarkan literasi keuangan
Bekali anak dengan pemahaman mengenai uang, pengelolaan anggaran, tabungan, investasi, dan tanggung jawab finansial. - Menanamkan nilai dalam pengelolaan kekayaan
Jelaskan kepada anak tujuan keluarga membangun aset serta tanggung jawab yang melekat pada kekayaan tersebut. - Mempersiapkan transfer kekayaan
Susun rencana penerusan aset sejak awal agar proses antargenerasi dapat berjalan sesuai tujuan keluarga.
Membangun Kekayaan Sekaligus Menyiapkan Penerus
Mempersiapkan kekayaan untuk anak pada akhirnya bukan sekadar menghitung berapa banyak aset yang dapat ditinggalkan. Kesiapan generasi penerus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan kekayaan keluarga.
Anak yang memahami nilai aset dan memiliki literasi finansial memiliki bekal untuk menghadapi keputusan keuangan ketika tanggung jawab tersebut berpindah kepadanya.
Karena itu, pembangunan kekayaan keluarga dapat berjalan beriringan dengan pendidikan finansial. Aset menjadi salah satu bekal, sedangkan pengetahuan dan tanggung jawab menjadi modal agar kekayaan tersebut dapat dikelola secara berkelanjutan. (Wd/*)










