Kabarinaja.id – Bagi sebagian orang, berada jauh dari ponsel selama beberapa waktu bukan masalah besar. Namun, ada pula yang mulai merasa gelisah ketika perangkat tersebut tidak berada di dekatnya.
Kondisi semacam itu sering dikaitkan dengan nomophobia, istilah yang menggambarkan rasa takut, cemas, atau tidak nyaman ketika seseorang kehilangan akses terhadap ponsel. Istilah ini berasal dari no-mobile-phone phobia.
Meski sering disebut sebagai fobia, nomophobia belum menjadi diagnosis resmi dalam DSM-5 maupun ICD-11. Karena itu, para peneliti masih memperdebatkan apakah fenomena tersebut lebih tepat dipahami sebagai bentuk kecemasan, ketergantungan perilaku, atau penggunaan ponsel bermasalah.
Seperti Apa Gejala Nomophobia?
Salah satu ciri yang banyak dibahas adalah munculnya tekanan emosional ketika akses terhadap ponsel terputus.
Situasinya bisa terjadi ketika baterai habis, perangkat tertinggal, jaringan tidak tersedia, atau seseorang berada di tempat yang melarang penggunaan ponsel.
Sejumlah kajian menemukan beberapa pengalaman yang sering dikaitkan dengan nomophobia, antara lain rasa gugup, cemas, frustrasi, serta dorongan untuk terus memeriksa perangkat.
Pada kondisi tertentu, respons tubuh juga dapat muncul. Rasa berkeringat, gemetar, napas berubah, atau jantung berdebar pernah dilaporkan dalam pembahasan mengenai kecemasan yang berkaitan dengan ketidaktersediaan ponsel.
Tidak Sekadar Sering Menggunakan HP
Penggunaan ponsel dalam durasi panjang tidak otomatis berarti seseorang mengalami nomophobia.
Nomophobia lebih berkaitan dengan perasaan tertekan ketika akses terhadap perangkat tersebut hilang. Sementara itu, penggunaan smartphone bermasalah lebih menitikberatkan pada kesulitan mengendalikan durasi atau frekuensi penggunaan.
Keduanya memang dapat saling berhubungan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kedua konsep tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.
Mengapa Seseorang Bisa Mengalami Nomophobia?
Penyebab nomophobia belum memiliki satu penjelasan yang berlaku untuk semua orang.
Penelitian sebelumnya menemukan kemungkinan hubungan dengan kecemasan sosial, gangguan panik, rendahnya harga diri, penggunaan smartphone berlebihan, serta pola perilaku kompulsif. Namun, hubungan sebab-akibatnya masih belum sepenuhnya jelas.
Fitur smartphone juga dapat memperkuat ketergantungan terhadap perangkat. Komunikasi instan, akses informasi cepat, media sosial, dan berbagai bentuk hiburan membuat ponsel semakin terintegrasi dengan aktivitas sehari-hari.
Kajian mengenai nomophobia menunjukkan bahwa rasa takut kehilangan koneksi, tidak memperoleh informasi, atau kehilangan kenyamanan dari ponsel menjadi beberapa dimensi yang kerap muncul.
Hubungannya dengan Kecemasan dan Penggunaan Smartphone
Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara nomophobia dengan kecemasan serta penggunaan smartphone yang bermasalah.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis menemukan adanya hubungan positif antara nomophobia dengan kecemasan, kecanduan smartphone, dan gangguan tidur. Temuan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan, tetapi tidak otomatis membuktikan bahwa salah satu kondisi menjadi penyebab langsung kondisi lainnya.
Penelitian yang lebih baru juga menegaskan bahwa nomophobia masih menjadi bidang yang terus berkembang. Para peneliti belum memiliki batas diagnosis klinis yang diterima secara universal.
Karena itu, seseorang sebaiknya tidak langsung menyimpulkan dirinya mengalami gangguan psikologis hanya karena merasa tidak nyaman ketika jauh dari HP.
Kapan Sebaiknya Mencari Bantuan?
Rasa tidak nyaman sesekali ketika lupa membawa ponsel merupakan pengalaman yang berbeda dari masalah yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Perhatian lebih diperlukan apabila kecemasan tersebut berlangsung berulang, sulit dikendalikan, atau membuat seseorang menghindari kegiatan tertentu karena takut kehilangan akses terhadap ponsel.
Konsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan dapat menjadi pilihan apabila kondisi tersebut mulai mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, tidur, atau aktivitas sehari-hari.
Penilaian profesional juga membantu membedakan apakah keluhan tersebut berkaitan dengan penggunaan smartphone bermasalah, kecemasan, atau faktor psikologis lainnya.
Menggunakan Smartphone Secara Lebih Seimbang
Smartphone tetap memiliki manfaat besar untuk komunikasi, pekerjaan, pendidikan, informasi, dan hiburan. Tantangannya adalah memastikan penggunaan perangkat tidak mengambil alih aktivitas penting lainnya.
Mengenali pola penggunaan dapat menjadi langkah awal. Perhatikan kapan dorongan memeriksa ponsel muncul dan apakah perangkat tersebut mulai mengganggu aktivitas yang sedang dilakukan.
Nomophobia sendiri masih menjadi objek penelitian dan belum memiliki status sebagai diagnosis resmi. Karena itu, memahami gejalanya secara tepat jauh lebih penting daripada memberikan label kepada diri sendiri.
Jika rasa cemas ketika jauh dari HP semakin sering muncul dan mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan profesional dapat membantu menentukan langkah yang sesuai. (Wd/*)










