Kabarinaja.id – Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau membuat orang tua perlu memperketat perlindungan anak di rumah. Partikel debu halus dapat mengganggu saluran pernapasan dan kulit yang masih sensitif.
Dokter anak dr. Mas Nugroho Ardi Santoso, SpA, M.Kes, mengingatkan bahwa masker bukan satu-satunya cara melindungi anak. Menurutnya, langkah paling penting ialah menghindari paparan abu vulkanik.
Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau: Utamakan Menghindari Paparan
Saat hujan abu berlangsung, anak sebaiknya tetap berada di dalam ruangan. Orang tua perlu menutup pintu, jendela, dan ventilasi yang memungkinkan udara luar masuk.
Jika tidak ada kebutuhan mendesak, aktivitas di luar rumah sebaiknya ditunda. Dokter Ardi menegaskan bahwa perlindungan utama bukan sekadar mengenakan masker, melainkan mengurangi kemungkinan anak menghirup abu vulkanik.
Masker dan Kacamata Saat Anak Harus Keluar
Apabila anak terpaksa beraktivitas di luar, gunakan masker yang sesuai ukurannya. Masker harus menutup hidung dan mulut dengan rapat.
Dokter Ardi menyebut N95 sebagai pilihan yang dapat menyaring partikel lebih baik. Namun, ia mengingatkan bahwa masker tetap merupakan perlindungan tambahan, bukan jaminan terbebas dari paparan.
Ia juga menyarankan penggunaan kacamata pelindung. Langkah ini menjadi bagian dari perlindungan mata ketika anak harus berada di luar ruangan.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Terkena Abu?
Paparan abu vulkanik tidak hanya perlu diantisipasi melalui penggunaan pelindung diri. Orang tua juga perlu memperhatikan cara membersihkan mata, kulit, serta menjaga kebersihan air dan makanan.
Mata Terkena Abu Vulkanik
Jika abu masuk ke mata, jangan menguceknya. Bilas menggunakan air bersih untuk membantu membersihkan partikel yang menempel.
Apabila mata terlihat sangat merah, terasa nyeri, atau penglihatan terganggu, segera periksakan anak ke dokter mata.
Kulit Perlu Dibersihkan dengan Lembut
Pakaian lengan panjang, celana panjang, dan alas kaki dapat membantu mengurangi paparan abu pada kulit. Jika abu mengenai tubuh, bersihkan dan bilas menggunakan air bersih.
Hindari menggosok kulit terlalu keras. Jika iritasi menetap atau luka semakin berat, dokter Ardi menyarankan pemeriksaan medis.
Air Bersih dan Makanan Juga Perlu Dijaga
Abu vulkanik dapat mencemari sumber air yang terbuka. Karena itu, sumur, bak, dan penampungan air perlu ditutup agar tidak kemasukan debu.
Air yang tercemar abu jangan digunakan untuk minum atau menyiapkan makanan sebelum keamanannya dipastikan. Gunakan sumber air bersih untuk kebutuhan keluarga.
Buah, sayur, dan makanan yang terkena abu juga perlu dicuci menggunakan air bersih. Dokter Ardi mengingatkan agar orang tua tidak memaksakan anak pergi ke sekolah saat hujan abu masih berlangsung.
Masker Bukan Jaminan Aman
Dokter Ardi kembali menegaskan bahwa masker tidak menjamin seluruh paparan abu vulkanik dapat dihindari. Perlindungan yang paling utama tetap mengurangi paparan, terutama bagi anak-anak.
Bagi orang tua, langkah tersebut berarti membatasi kegiatan luar ruangan, menjaga kebersihan rumah, serta memastikan air dan makanan tetap aman.
Catatan editorial: Naskah ini disusun berdasarkan materi sumber yang diberikan. Materi tersebut tidak memuat tanggal kejadian, lokasi sebaran abu, atau rincian status erupsi terbaru, sehingga informasi itu tidak ditambahkan. (Wd/*)










