Merasa Makan Sedikit tapi Berat Badan Naik? Ini Kata Ahli

Kebiasaan ngemil, metabolisme, dan pola diet ikut memengaruhi perubahan berat badan.

- Jurnalis

Minggu, 16 Agustus 2026 - 20:30 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Merasa Makan Sedikit tapi Berat Badan Naik? Ini Kata Ahli (Foto: ChatGPT)

Merasa Makan Sedikit tapi Berat Badan Naik? Ini Kata Ahli (Foto: ChatGPT)

Kabarinaja.id – Keluhan berat badan terus bertambah meski merasa makan sedikit cukup sering muncul di masyarakat. Bahkan, sebagian orang mengaku hanya minum air atau mengurangi makanan, tetapi angka timbangan tetap meningkat.

Ketua Perhimpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., mengatakan kondisi tersebut perlu dilihat secara menyeluruh. Menurut dia, kebiasaan makan di luar waktu makan utama sering luput dari perhatian.

Camilan Bisa Membuat Asupan Harian Bertambah

Dante menjelaskan, seseorang terkadang hanya mengingat makanan utama yang dikonsumsi sepanjang hari. Padahal, camilan atau makanan kecil yang disantap tanpa perencanaan juga menjadi bagian dari asupan harian.

“Biasanya yang mengeluh kayaknya saya makannya sedikit,” ujar Dante dalam diskusi edukasi obesitas di Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).

Ia mengatakan kebiasaan mengonsumsi camilan secara berulang dapat membuat jumlah makanan yang masuk ke tubuh lebih besar dari perkiraan. Karena itu, evaluasi pola makan sebaiknya tidak hanya berfokus pada sarapan, makan siang, dan makan malam.

Selain pola makan, kondisi metabolisme setiap orang juga berbeda. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi bagaimana tubuh menggunakan dan menyimpan energi dari makanan.

Dante menjelaskan, orang dengan metabolisme lebih tinggi dapat menggunakan lebih banyak energi untuk proses tubuh. Sementara itu, energi yang tidak digunakan tubuh dapat tersimpan.

Karena itu, klaim bahwa seseorang bisa mengalami obesitas hanya karena minum air tidak cukup untuk menjelaskan seluruh persoalan. Pemeriksaan dan evaluasi pola hidup diperlukan untuk mengetahui faktor yang berperan pada setiap individu.

Baca Juga :  Tanda Awal Kehamilan yang Sering Tidak Disadari Wanita

Diet Tidak Semestinya Mengejar Hasil Instan

Persoalan lain muncul dari tren diet cepat yang banyak beredar melalui media sosial. Cara tersebut sering membuat penurunan berat badan seolah-olah harus dicapai dalam waktu sesingkat mungkin.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik (PDGKI) Indonesia, Dr. Erwin Kristianto, M.Gizi, SpGK, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan diet sebagai perlombaan.

Menurut Erwin, diet merupakan pengaturan pola makan yang mencakup waktu serta jumlah makanan. Artinya, diet bukan sekadar menghilangkan jenis makanan tertentu dari menu sehari-hari.

“Diet itu adalah mengatur kapan kita boleh makan, kapan kita tidak boleh makan, dan berapa banyak,” kata Erwin.

Ia juga mengingatkan bahwa penurunan berat badan yang terlalu cepat dapat menimbulkan berbagai keluhan. Tubuh tetap membutuhkan energi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari meski asupan makanan sedang dikurangi.

Ketika asupan berkurang terlalu banyak, sementara kebutuhan energi masih tinggi, seseorang dapat merasakan lemas hingga pegal. Karena itu, strategi penurunan berat badan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Penanganan Obesitas Tidak Bisa Disamaratakan

Erwin menilai pengelolaan obesitas tidak cukup dilakukan hanya dengan mengurangi porsi makan. Setiap orang dapat memiliki pola konsumsi dan kebiasaan berbeda yang perlu diperhatikan sebelum menentukan pendekatan.

Baca Juga :  Cara Mengonsumsi Madu yang Benar untuk Kesehatan

Sebagian orang mungkin jarang makan dalam sehari, tetapi mengonsumsi makanan dalam jumlah besar ketika waktunya makan. Ada pula yang merasa makan sedikit karena tidak memperhitungkan berbagai camilan di antara waktu makan.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa evaluasi kebiasaan sehari-hari menjadi bagian penting dalam menangani masalah berat badan. Pendekatan yang berhasil pada satu orang juga belum tentu sesuai bagi orang lain.

Karena itu, target penurunan berat badan sebaiknya tidak hanya berorientasi pada angka timbangan. Kondisi tubuh, pola makan, aktivitas, serta faktor kesehatan lainnya perlu ikut diperhatikan.

Berat Badan Perlu Dipantau Sejak Dini

Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD., juga mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya penyakit untuk mulai memperhatikan berat badan.

Menurut Yunir, perubahan kondisi tubuh dapat menjadi alasan untuk melakukan pemantauan lebih awal. Pemeriksaan berat badan dan lingkar perut dapat membantu seseorang mengenali perubahan kondisi tubuh.

Pemantauan tersebut juga dapat dilengkapi dengan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan. Langkah ini membantu persoalan berat badan tidak hanya dilihat dari angka pada timbangan.

Pada akhirnya, obesitas merupakan persoalan yang membutuhkan penanganan sesuai kondisi setiap individu. Memahami kebiasaan makan, aktivitas, perubahan berat badan, dan kondisi kesehatan menjadi langkah penting sebelum menentukan strategi pengelolaan yang tepat. (Wd/*)

Berita Terkait

Cara Mengonsumsi Madu yang Benar untuk Kesehatan
Cara Mengendalikan Amarah dengan 5 Trik Sederhana
Cara Menurunkan Berat Badan Secara Efektif dan Aman
Kapan Anak Perempuan Tumbuh Pesat? Ini Tahapannya
Negara dengan Obesitas Terendah, Indonesia Peringkat 6
Jenis Pilates dan Manfaatnya, Mana yang Cocok untuk Pemula?
Baru Jalan 100 Meter Sudah Ingin Duduk? Kenali Sinyal Lutut
Kebiasaan di Kamar Mandi yang Picu Stroke
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 12:03 WIB

Cara Mengonsumsi Madu yang Benar untuk Kesehatan

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:04 WIB

Cara Mengendalikan Amarah dengan 5 Trik Sederhana

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:02 WIB

Cara Menurunkan Berat Badan Secara Efektif dan Aman

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:08 WIB

Kapan Anak Perempuan Tumbuh Pesat? Ini Tahapannya

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:04 WIB

Negara dengan Obesitas Terendah, Indonesia Peringkat 6

Berita Terbaru

IdeaFest 2026 (Foto: medcom)

Teknologi

AI Makin Cepat, Mengapa Keterampilan Manusia Tetap Penting?

Minggu, 6 Sep 2026 - 09:05 WIB

Fitur Tersembunyi Google Maps yang Jarang Diketahui (Foto: medcom)

Teknologi

Fitur Tersembunyi Google Maps yang Jarang Diketahui

Minggu, 6 Sep 2026 - 07:04 WIB

Kolase makanan kekinian yang dapat menjadi inspirasi bagi pemula untuk memulai usaha kuliner dari rumah.

Kuliner

10 Ide Jualan Kekinian yang Bisa Dimulai dari Rumah

Sabtu, 5 Sep 2026 - 21:04 WIB

Ilustrasi yang menggambarkan Al-Khawarizmi mempelajari matematika di masa lalu, sementara konsep algoritma berkembang menjadi bagian penting teknologi digital masa kini.

Tokoh

Al-Khawarizmi dan Algoritma yang Mengubah Dunia

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Seorang penjual mempromosikan kaus melalui siaran langsung dengan bantuan kamera dan ring light. (Foto: pegadaian/Ai)

Ekonomi

Cara Jualan di TikTok Shop agar Produk Lebih Mudah Laku

Sabtu, 5 Sep 2026 - 17:06 WIB