Abu Anak Krakatau Menyebar, Begini Cara Melindungi Pernapasan

Langkah mengurangi paparan abu vulkanik dan menjaga kualitas udara di rumah.

- Jurnalis

Senin, 7 September 2026 - 11:04 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Air purifier membantu menyaring partikel polutan dari udara di dalam ruangan. Foto: Ilustrasi/Pexels.com/medcom)

Air purifier membantu menyaring partikel polutan dari udara di dalam ruangan. Foto: Ilustrasi/Pexels.com/medcom)

Kabarinaja.id – Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menyebar ke sejumlah wilayah perlu dihadapi dengan langkah perlindungan yang tepat. Masyarakat dapat mengurangi paparan dengan membatasi aktivitas di luar rumah, menjaga udara dalam ruangan, dan menggunakan pelindung pernapasan saat diperlukan.

Batasi paparan, bukan melakukan “detoks” paru-paru

Kementerian Kesehatan mengimbau warga di wilayah terdampak untuk mengurangi kegiatan di luar rumah. Imbauan itu disampaikan setelah erupsi Gunung Anak Krakatau berstatus Siaga atau Level III sejak 4 September 2026.

Abu vulkanik dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan. Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan atau jantung kronis perlu mendapat perhatian lebih.

Langkah perlindungan yang lebih tepat

Fokus utama adalah mengurangi paparan abu, bukan mengeluarkan “racun” dari paru-paru.

1. Gunakan masker yang sesuai saat keluar

Jika harus beraktivitas di luar, gunakan respirator N95 yang terpasang rapat. Pelindung ini membantu menyaring partikel abu, sedangkan masker kain atau masker yang longgar memberikan perlindungan lebih terbatas.

Kementerian Kesehatan juga mengingatkan masyarakat agar memakai masker dan kacamata bila harus keluar rumah. Ikuti arahan petugas mengenai kondisi udara dan aktivitas yang diperbolehkan.

Baca Juga :  ACERUN 2026 Hadirkan Rute Baru 7K dan Teknologi AI

2. Jaga udara dalam rumah tetap bersih

Tutup jendela dan pintu ketika abu masih berada di udara. Jika menggunakan pendingin ruangan, pastikan sistemnya tidak menarik udara luar yang tercemar.

Air purifier dapat membantu mengurangi partikel di dalam ruangan. Bersihkan permukaan dengan kain lembap dan hindari cara pembersihan yang membuat abu kembali beterbangan.

3. Pilih minuman hangat untuk meredakan rasa tidak nyaman

Air hangat atau teh dapat membantu meredakan tenggorokan yang terasa kering. Namun, minuman tersebut bukan cara untuk membersihkan paru-paru dari abu vulkanik.

Bila tenggorokan terasa mengganggu, kurangi aktivitas yang membuat napas lebih berat. Istirahat di tempat dengan udara lebih bersih dapat membantu mengurangi paparan.

4. Hindari uap panas dan minyak esensial sebagai “detoks”

Uap dari mangkuk air panas tidak terbukti mengeluarkan abu vulkanik dari paru-paru. Penggunaan minyak kayu putih atau peppermint juga bukan pengganti perlindungan dari paparan abu.

Baca Juga :  Abu Anak Krakatau Menyebar, 4 Barang Ini Perlu Disiapkan

Cara yang lebih aman adalah mengurangi paparan, menjaga kebersihan ruangan, dan mengikuti petunjuk kesehatan. Jangan memaksakan terapi rumahan jika keluhan pernapasan memburuk.

5. Kenali tanda bahaya dan cari pertolongan

Batuk, tenggorokan terasa perih, dan iritasi mata dapat muncul setelah terpapar abu. Orang dengan asma atau penyakit paru kronis perlu lebih waspada terhadap perubahan gejala.

Jika muncul sesak napas, sulit bernapas, atau keluhan terus berlanjut setelah menjauh dari paparan, segera hubungi tenaga kesehatan. Jangan menunda pemeriksaan ketika gejala terasa berat.

6. Pantau informasi resmi

Masyarakat sebaiknya mengikuti pembaruan dari pemerintah dan petugas terkait kondisi erupsi. Informasi tersebut membantu menentukan kapan aktivitas luar rumah dapat dilakukan dengan lebih aman.

Abu vulkanik tidak perlu dihadapi dengan kepanikan. Perlindungan yang tepat, kebersihan udara, dan perhatian terhadap gejala menjadi langkah utama untuk menjaga kesehatan pernapasan selama paparan berlangsung.  (Wd/*)

Berita Terkait

Sering Cari Gejala Penyakit di Google? Coba Cek Kesehatan Gratis
Hari Kopi Internasional, Bagaimana Kopi Memengaruhi Jantung?
Jamur Pangan Indonesia Punya Potensi Lebih dari Sekadar Bahan Makanan
Bahaya Headphone Jika Dipakai Terlalu Lama
Cara melindungi anak dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau
Abu Anak Krakatau Menyebar, 4 Barang Ini Perlu Disiapkan
Cara Mengonsumsi Madu yang Benar untuk Kesehatan
Cara Mengendalikan Amarah dengan 5 Trik Sederhana
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 15:07 WIB

Sering Cari Gejala Penyakit di Google? Coba Cek Kesehatan Gratis

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:54 WIB

Hari Kopi Internasional, Bagaimana Kopi Memengaruhi Jantung?

Selasa, 29 September 2026 - 13:06 WIB

Jamur Pangan Indonesia Punya Potensi Lebih dari Sekadar Bahan Makanan

Sabtu, 12 September 2026 - 21:09 WIB

Bahaya Headphone Jika Dipakai Terlalu Lama

Senin, 7 September 2026 - 17:06 WIB

Cara melindungi anak dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau

Berita Terbaru

Rachel Vennya Buka Suara soal Karhutla Kalimantan (Foto:  Instagram/rachelvennya/medcom)

Showbiz

Rachel Vennya Buka Suara soal Karhutla Kalimantan

Rabu, 14 Okt 2026 - 12:07 WIB

Kombinasi Dinding Polos dan Roster untuk Teras Rumah

Tips & Trik

Kombinasi Dinding Polos dan Roster untuk Teras Rumah

Selasa, 13 Okt 2026 - 09:24 WIB