Google Luncurkan AI Baru yang Diklaim Lebih Cepat Menemukan Celah Keamanan Siber

Google memperkenalkan Gemini 3.5 Flash Cyber untuk mempercepat deteksi bug keamanan perangkat lunak dengan biaya lebih efisien, sekaligus merilis Gemini 3.6 Flash dan Flash-Lite.

- Jurnalis

Kamis, 23 Juli 2026 - 21:37 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Google Luncurkan AI Baru yang Diklaim Lebih Cepat Menemukan Celah Keamanan Siber (Foto: Poetra.RH/Shutterstock/kumparan/ChatGPT)

Google Luncurkan AI Baru yang Diklaim Lebih Cepat Menemukan Celah Keamanan Siber (Foto: Poetra.RH/Shutterstock/kumparan/ChatGPT)

Kabarinaja.id – Google kembali memperluas keluarga kecerdasan buatannya dengan menghadirkan Gemini 3.5 Flash Cyber, model AI yang di rancang khusus untuk membantu mendeteksi sekaligus menganalisis celah keamanan perangkat lunak. Pengumuman tersebut di sampaikan bersamaan dengan peluncuran Gemini 3.6 Flash dan Gemini 3.5 Flash-Lite sebagai bagian dari pengembangan ekosistem AI Google.

Langkah ini menjadi sinyal bahwa persaingan teknologi AI kini tidak hanya berfokus pada chatbot dan produktivitas, tetapi juga merambah sektor keamanan siber yang semakin di butuhkan oleh perusahaan, pengembang aplikasi, hingga lembaga pemerintahan.

Gemini 3.5 Flash Cyber Fokus Mendeteksi Kerentanan Kode

Gemini 3.5 Flash Cyber di bangun menggunakan fondasi Gemini 3.5 Flash, kemudian di optimalkan untuk kebutuhan analisis keamanan perangkat lunak.

Model ini di rancang agar mampu memeriksa potensi kerentanan pada kode pemrograman dengan kecepatan tinggi tanpa memerlukan biaya komputasi sebesar model AI keamanan lainnya.

Google menjelaskan bahwa pendekatan tersebut memungkinkan proses analisis di lakukan berulang kali dalam waktu singkat. Semakin banyak jalur eksekusi kode yang di periksa, semakin besar peluang sistem menemukan bug maupun potensi celah keamanan yang sebelumnya sulit terdeteksi.

Pada tahap awal peluncuran, akses terhadap model ini di berikan kepada lembaga pemerintah serta mitra terpercaya melalui CodeMender, agen pengkodean milik Google yang memang di kembangkan khusus untuk kebutuhan keamanan siber.

CodeMender Mempercepat Analisis Bug

Menurut Google, CodeMender dapat menjalankan Gemini 3.5 Flash Cyber berkali-kali dalam satu proses analisis dengan biaya operasional yang tetap efisien.

Pendekatan tersebut membuat AI mampu mengevaluasi lebih banyak kemungkinan jalur eksekusi program dib andingkan metode analisis konvensional, sehingga meningkatkan peluang menemukan kerentanan sebelum di manfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.

Baca Juga :  Kotak Pencarian Google Berubah Total Mirip ChatGPT

Google Perkuat Persaingan AI Keamanan Siber

Peluncuran Gemini 3.5 Flash Cyber juga memperlihatkan semakin ketatnya kompetisi di industri AI keamanan siber.

Salah satu pesaing utama datang dari Anthropic melalui model Mythos 5, yang di kenal memiliki kemampuan tinggi dalam menganalisis kerentanan sistem. Model tersebut telah di manfaatkan Microsoft dalam proses identifikasi berbagai celah keamanan yang kemudian di perbaiki melalui pembaruan rutin Patch Tuesday.

Meski demikian, model AI milik Anthropic membutuhkan sumber daya komputasi yang lebih besar sehingga biaya penggunaannya relatif lebih tinggi.

Sementara itu, perusahaan teknologi asal China, Z.ai, juga mengklaim telah mengembangkan model AI yang mampu bersaing pada kategori keamanan siber dengan pendekatan serupa.

Hasil Pengujian Tunjukkan Performa Kompetitif

Google turut memaparkan hasil evaluasi internal menggunakan benchmark CyberGym AI.

Berdasarkan pengujian tersebut, Gemini 3.5 Flash Cyber menunjukkan performa yang kompetitif, terutama ketika model di jalankan hingga lima kali dalam proses analisis keamanan.

Dalam pengujian terhadap mesin JavaScript V8, model ini berhasil mengidentifikasi 47 kerentanan, sementara model Opus 4.6 menemukan 36 kerentanan.

Google juga menyebut sistem pengujian secara keseluruhan berhasil mengidentifikasi 55 kerentanan yang telah di konfirmasi pada platform tersebut.

Temukan Kerentanan yang Tidak Terdeteksi Model Lain

Keunggulan lain yang di klaim Google adalah kemampuan Gemini 3.5 Flash Cyber menemukan 10 kerentanan unik yang tidak berhasil di deteksi model AI lainnya.

Kemampuan tersebut muncul karena model terus mengeksplorasi jalur eksekusi kode baru setiap kali proses analisis di jalankan ulang, sehingga area pemeriksaan menjadi lebih luas di bandingkan pendekatan sekali analisis.

Baca Juga :  Hacker Eksploitasi Meta AI untuk Retas Akun Instagram

Gemini 3.6 Flash Hadir dengan Peningkatan Coding dan Multimodal

Bersamaan dengan peluncuran model keamanan siber, Google juga memperkenalkan Gemini 3.6 Flash.

Versi terbaru ini membawa peningkatan pada kemampuan pemrograman, penalaran, serta pemrosesan multimodal. Artinya, model dapat memahami berbagai jenis masukan, mulai dari teks, gambar, hingga format data lain secara lebih efektif.

Kemampuan tersebut di harapkan membantu pengembang membangun aplikasi AI yang lebih cepat, akurat, dan fleksibel untuk berbagai kebutuhan industri.

Google Sediakan Flash-Lite untuk Solusi AI Hemat Biaya

Google juga menghadirkan Gemini 3.5 Flash-Lite, yang menjadi model paling ekonomis dalam keluarga Gemini 3.5.

Model ini di tujukan bagi pengembang maupun perusahaan yang membutuhkan layanan AI dengan biaya operasional rendah tanpa harus mengorbankan performa dasar.

Strategi menghadirkan tiga model sekaligus memperlihatkan upaya Google menjangkau berbagai kebutuhan pengguna, mulai dari aplikasi sederhana hingga sistem keamanan siber yang memerlukan analisis kompleks.

Persaingan AI Kini Bergeser ke Keamanan Digital

Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa perlombaan AI global telah memasuki babak baru. Jika sebelumnya perusahaan teknologi berlomba menghadirkan chatbot yang semakin cerdas, kini fokus mulai bergeser pada kemampuan AI dalam menjaga keamanan perangkat lunak dan infrastruktur digital.

Dengan hadirnya Gemini 3.5 Flash Cyber, Google berupaya menawarkan solusi yang menggabungkan kecepatan, efisiensi biaya, dan kemampuan analisis mendalam untuk membantu organisasi menemukan celah keamanan sebelum di manfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. (Wd/*)

Berita Terkait

Notifikasi Ponsel Sulit Diabaikan, Ini Penyebabnya
Model AI OpenAI Tak Terduga Keluar dari Sandbox, Begini Respons Hugging Face
Rekor Trafik WhatsApp Meledak 29 Juta Pesan Per Detik
Microsoft Pecahkan Rekor Patch Keamanan, AI Berperan Temukan Ratusan Bug Windows
Edit Video Kini Lebih Praktis, Telkomsel Luncurkan Paket CapCut dengan Kuota Internet
Penipuan FaceTime Marak, Pengguna iPhone Diminta Waspada
Agent Kim Reactivated Buktikan AI Belum Gantikan Aktor
Fitur Keamanan Meta AI Kirim Peringatan Self-Harm ke Orang Tua
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 13:09 WIB

Notifikasi Ponsel Sulit Diabaikan, Ini Penyebabnya

Minggu, 26 Juli 2026 - 12:07 WIB

Model AI OpenAI Tak Terduga Keluar dari Sandbox, Begini Respons Hugging Face

Jumat, 24 Juli 2026 - 12:03 WIB

Rekor Trafik WhatsApp Meledak 29 Juta Pesan Per Detik

Jumat, 24 Juli 2026 - 07:03 WIB

Microsoft Pecahkan Rekor Patch Keamanan, AI Berperan Temukan Ratusan Bug Windows

Kamis, 23 Juli 2026 - 21:37 WIB

Google Luncurkan AI Baru yang Diklaim Lebih Cepat Menemukan Celah Keamanan Siber

Berita Terbaru

Notifikasi Ponsel Sulit Diabaikan, Ini Penyebabnya (Foto: ChatGPT)

Teknologi

Notifikasi Ponsel Sulit Diabaikan, Ini Penyebabnya

Minggu, 26 Jul 2026 - 13:09 WIB

Sopir Alphard di Bundaran HI Jalani Proses Etik (Foto: IG @humaspoldajabar/kumparan)

Nasional

Sopir Alphard di Bundaran HI Jalani Proses Etik

Minggu, 26 Jul 2026 - 11:02 WIB

5 Drakor Romantis dengan Teknologi dengan Kisah Cinta Unik (Foto: Soompi/beautynesia/ChatGPT)

Showbiz

5 Drakor Romantis dengan Teknologi dengan Kisah Cinta Unik

Minggu, 26 Jul 2026 - 10:09 WIB