Kabarinaja.id – President Director and Chief Executive Officer (CEO) PT Indosat Tbk (IOH), Vikram Sinha, menilai kemajuan teknologi harus berjalan bersama kemampuan manusia. Menurutnya, infrastruktur digital dan AI perlu digunakan untuk memperkuat potensi, bukan mengurangi ruang bagi manusia.
“Teknologi hanyalah alat pengungkit. Esensi sesungguhnya selalu berakar pada tujuan kemanusiaan di baliknya,” ujar Vikram dalam diskusi di IOH Stage.
Ia menjelaskan, kemampuan komputasi dan perangkat keras tercanggih tetap membutuhkan manusia sebagai pengarah. Karena itu, pemanfaatan AI harus mempertimbangkan tujuan, nilai, dan dampaknya bagi masyarakat.
Nalar kritis menjadi bekal penting
Najwa Shihab menyoroti tantangan lain yang muncul ketika teknologi semakin mudah digunakan. Dari perspektif ruang publik dan etika komunikasi, ia mengingatkan risiko berkurangnya keaslian karya serta tanggung jawab manusia.
AI memang mampu mengolah data dan menghasilkan berbagai bentuk konten dengan cepat. Namun, kemampuan tersebut tidak menggantikan kesadaran moral, empati, dan penilaian etis yang dibutuhkan dalam kehidupan sosial.
“Daya nalar skeptis untuk memverifikasi kebenaran dan kepekaan sosial adalah benteng pertahanan yang hanya dimiliki manusia,” kata Najwa.
Pandangan itu menunjukkan bahwa keterampilan manusia tetap relevan ketika informasi dapat diproduksi secara otomatis. Kemampuan memeriksa kebenaran, memahami konteks, dan mempertimbangkan dampak sosial menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan AI.
Generasi muda perlu memperkuat kemampuan nonteknis
Bagi Generasi Z yang mulai memasuki dunia profesional, perubahan ini membawa tuntutan baru. Mereka perlu mengembangkan kemampuan yang tidak cukup hanya mengandalkan kecepatan memproses informasi.
Pandji Pragiwaksono, yang memandu diskusi, menekankan bahwa kreativitas manusia tumbuh dari pengalaman hidup, kerentanan, dan hubungan antarmanusia. Menurutnya, humor, selera, serta kedalaman cerita personal memiliki peran dalam membentuk daya cipta.
Karena itu, talenta muda perlu mengasah komunikasi persuasif, negosiasi, kurasi data berbasis nalar kritis, dan integritas moral. Keterampilan tersebut membantu manusia mengambil keputusan sekaligus memahami situasi yang tidak selalu dapat diselesaikan melalui otomatisasi.
Dari pelaksana menjadi pengarah teknologi
Diskusi tersebut juga menyoroti perubahan nilai tawar tenaga kerja. Kemampuan teknis tetap dibutuhkan, tetapi profesional muda perlu memahami cara mengarahkan teknologi agar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Dalam konteks ini, manusia tidak cukup hanya menjadi pelaksana tugas. Mereka juga perlu berperan sebagai pengelola keputusan yang mampu menilai manfaat, risiko, dan konsekuensi penggunaan AI.
Pesan dari panggung IOH Stage itu menempatkan teknologi sebagai bagian dari proses transformasi. Sementara itu, empati, nalar kritis, dan integritas tetap menjadi unsur penting dalam menentukan bagaimana AI digunakan. (Wd/*)










