Larangan AI Siswa New York Berlaku Mulai Tahun Ajaran Baru

Kebijakan baru membatasi penggunaan AI sejak pendidikan dasar hingga SMA, dengan pengecualian untuk kebutuhan pembelajaran tertentu.

- Jurnalis

Kamis, 3 September 2026 - 14:07 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Larangan AI Siswa New York Berlaku Mulai Tahun Ajaran Baru

Larangan AI Siswa New York Berlaku Mulai Tahun Ajaran Baru

Kabarinaja.id Pemerintah Kota New York memperketat penggunaan kecerdasan buatan (AI) di sekolah negeri. Kebijakan tersebut akan berlaku saat tahun ajaran baru dimulai pekan depan dan menyasar sekitar 600.000 siswa.

Departemen Pendidikan New York menerapkan pembatasan berbeda berdasarkan jenjang pendidikan. Aturan paling ketat diberlakukan kepada siswa sekolah dasar dan kelas awal pendidikan menengah.

Penggunaan AI Dibatasi Sejak Pendidikan Dasar

Larangan AI siswa New York mencakup penggunaan perangkat secara langsung hingga kelas tiga SD. Pemerintah kota juga membatasi akses terhadap sejumlah teknologi pembelajaran berbasis AI.

Sekitar 40 aplikasi pendidikan yang sudah memakai fitur AI akan dicabut atau dimodifikasi. Aplikasi tersebut digunakan untuk membantu pembelajaran berbagai mata pelajaran, termasuk matematika dan membaca.

Kebijakan tersebut juga menyentuh tenaga pendidik. Guru tidak diperbolehkan menggunakan AI untuk memberikan nilai terhadap pekerjaan siswa.

Untuk siswa SMP, Departemen Pendidikan merekomendasikan batas penggunaan layar maksimal 45 menit setiap hari. Pemerintah juga memblokir chatbot pendamping yang menawarkan dukungan emosional kepada siswa.

Pemerintah New York Ingin Anak Tetap Belajar dari Kesalahan

Wali Kota New York Zohran Mamdani mengatakan kebijakan tersebut dibuat untuk menantang anggapan bahwa AI harus selalu hadir dalam pendidikan anak.

“Industri teknologi ingin kita percaya bahwa pendidikan usia dini yang didukung AI bukan hanya tak terelakkan, tetapi juga diperlukan,” ujar Mamdani, dikutip dari New York Times, Kamis, 3 September 2026.

“Kami tidak melihatnya seperti itu,” lanjutnya.

Kanselir Sekolah Kamar Samuels menilai proses belajar membutuhkan ruang bagi anak untuk menghadapi kesulitan. Menurut dia, kemampuan tersebut tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

“Mereka belajar paling baik ketika mereka bergulat dengan masalah-masalah sulit, ketika mereka melakukan kesalahan, ketika mereka mencoba lagi dan akhirnya melakukannya dengan benar,” kata Samuels.

Baca Juga :  Begini Cara Mengaktifkan Peringatan Gempa di HP Android

Ia menambahkan, aplikasi, chatbot, maupun algoritme tidak dapat menggantikan proses belajar yang terbentuk melalui perjuangan tersebut.

Tidak Semua Teknologi Pendidikan Dilarang

Pemerintah kota tetap menyediakan sejumlah pengecualian dalam penerapan kebijakan. Aturan tersebut tidak mencakup program pembelajaran terpusat seperti buku elektronik dan perangkat lunak coding.

Teknologi untuk membantu siswa penyandang disabilitas juga tetap diperbolehkan. Perangkat tertentu yang digunakan dalam pelaksanaan tes juga mendapat pengecualian.

Ketua Komite Pendidikan Dewan Kota New York Eric Dinowitz menyambut kebijakan tersebut. Namun, dia meminta pemerintah melakukan evaluasi secara ketat setelah aturan diterapkan.

“Ini tentu saja merupakan langkah maju,” ujar Dinowitz. Ia mengaku masih memiliki sejumlah pertanyaan mengenai penerapannya.

Orang Tua Mendorong Pembatasan AI di Sekolah

Kebijakan tersebut muncul setelah meningkatnya kekhawatiran orang tua di berbagai wilayah Amerika Serikat. Mereka menilai penggunaan AI secara berlebihan dapat mengganggu proses belajar sekaligus membuka ruang bagi praktik menyontek.

Kelly Clancy, pendiri Parents for A.I. Caution, menyebut kebijakan New York sebagai hasil perjuangan panjang para orang tua.

“Fakta bahwa kebijakan ini bisa terwujud adalah berkat kerja keras luar biasa dari para orang tua di seluruh kota yang bersuara menentang jangkauan AI yang berlebihan ke dalam ruang kelas anak-anak mereka,” kata Clancy.

Tekanan tersebut ikut mendorong pemerintah kota mengambil pendekatan yang lebih hati-hati. New York kini memilih membatasi teknologi tersebut berdasarkan usia dan kebutuhan pembelajaran.

Guru Masih Boleh Menggunakan AI untuk Kebutuhan Tertentu

Pembatasan tidak berarti guru sepenuhnya dilarang menggunakan teknologi AI. Mereka masih dapat memanfaatkannya untuk menyusun rencana pembelajaran maupun menerjemahkan materi.

Namun, penggunaan AI untuk menentukan kelulusan siswa tetap dilarang. Guru juga tidak boleh mengandalkan teknologi tersebut ketika memberikan konseling krisis kepada siswa.

Baca Juga :  Profil Wellah Hatta, WNI di Balik Seremoni Piala Dunia 2026

Presiden United Federation of Teachers Michael Mulgrew meminta Departemen Pendidikan memberikan panduan implementasi yang lebih jelas. Menurutnya, sekolah dan guru tidak seharusnya menentukan sendiri apakah suatu teknologi sesuai dengan kebijakan baru.

“Jika kita ingin serius, mari kita mulai dari sumbernya,” kata Mulgrew. Ia meminta departemen memastikan aturan dapat dipahami komunitas sekolah sebelum diterapkan.

Siswa SMA Masih Bisa Memakai AI dengan Pengawasan

Pendekatan berbeda diterapkan untuk siswa SMA. Mereka masih diperbolehkan menggunakan AI, tetapi hanya melalui lima alat yang telah ditentukan dan dengan pembatasan durasi.

Salah satu aplikasi analisis teks, misalnya, hanya dapat digunakan selama 15 menit setiap pekan. Pembatasan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah kota tidak sepenuhnya menutup akses AI bagi pelajar yang lebih tua.

Siswa SMA juga diwajibkan mengikuti pembelajaran literasi AI. Materinya mencakup risiko misinformasi dan fenomena “halusinasi” yang dapat membuat sistem AI menghasilkan informasi keliru.

Naveed Hasan, anggota panel pengawas pendidikan kota, melihat kebijakan tersebut sebagai peluang bagi New York untuk memengaruhi industri teknologi. Ia mempertanyakan apakah besarnya anggaran pendidikan kota dapat digunakan untuk mendorong pengembang membuat produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan sekolah.

“Apakah kita akhirnya menggunakan skala, cakupan anggaran, dan daya beli New York City untuk mendesak pihak-pihak yang menjual barang kepada kita agar merancangnya sesuai dengan kebutuhan kita?” ujar Hasan.

Menurut dia, efektivitas pendekatan tersebut masih harus dibuktikan. Kebijakan baru ini pada akhirnya akan menjadi ujian bagi New York dalam mencari keseimbangan antara perlindungan siswa dan pemanfaatan teknologi di ruang kelas. (Wd/*)

Berita Terkait

Moskow Makin Dekat, Kunjungan Wisatawan Indonesia Terus Naik
Rusia Siapkan Rassvet, Jaringan Satelit Pesaing Starlink
Tempat Terlarang di Dunia: 5 Lokasi dengan Akses Ketat
Nenek 97 Tahun Pecahkan Rekor Wing Walking Demi Pasien Stroke
7 Kota Paling Misterius di Dunia, Apa yang Terjadi?
Frozen 3 Makin Dekat, Josh Gad Sebut Filmnya Paling Lucu
Cristiano Ronaldo Resmi Menikahi Georgina Setelah Satu Dekade
Ha Young Terseret Sejarah Keluarga, Agensi Akhirnya Minta Maaf
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 14:07 WIB

Larangan AI Siswa New York Berlaku Mulai Tahun Ajaran Baru

Rabu, 2 September 2026 - 16:05 WIB

Moskow Makin Dekat, Kunjungan Wisatawan Indonesia Terus Naik

Minggu, 30 Agustus 2026 - 10:03 WIB

Rusia Siapkan Rassvet, Jaringan Satelit Pesaing Starlink

Selasa, 25 Agustus 2026 - 09:04 WIB

Tempat Terlarang di Dunia: 5 Lokasi dengan Akses Ketat

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 18:06 WIB

Nenek 97 Tahun Pecahkan Rekor Wing Walking Demi Pasien Stroke

Berita Terbaru

Mendikdasmen Abdul Mu'ti (Foto: medcom)

Nasional

Rela Antre Sejak Subuh Demi Bimbel, Ini Pesan Abdul Mu’ti

Kamis, 3 Sep 2026 - 17:07 WIB

Dugaan Monopoli Game Digital, Sony Bayar Rp120 Miliar

Teknologi

Dugaan Monopoli Game Digital, Sony Bayar Rp120 Miliar

Kamis, 3 Sep 2026 - 15:07 WIB

Larangan AI Siswa New York Berlaku Mulai Tahun Ajaran Baru

Internasional

Larangan AI Siswa New York Berlaku Mulai Tahun Ajaran Baru

Kamis, 3 Sep 2026 - 14:07 WIB