Masih Cas HP Seperti Ini? Kebiasaan yang Dianggap Benar Ternyata Keliru

Empat anggapan populer tentang pengisian daya smartphone modern ternyata tidak semuanya sesuai fakta. Simak penjelasan berdasarkan teknologi baterai lithium-ion agar usia baterai lebih awet.

- Jurnalis

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:28 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Masih Cas HP Seperti Ini? Kebiasaan yang Dianggap Benar Ternyata Keliru (Foto: ChatGPT)

Masih Cas HP Seperti Ini? Kebiasaan yang Dianggap Benar Ternyata Keliru (Foto: ChatGPT)

Kabarinaja.id – Banyak pengguna smartphone masih menerapkan kebiasaan lama saat cas HP, padahal teknologi baterai telah mengalami perubahan besar. Berbagai anggapan yang dulu di anggap benar kini tidak lagi berlaku pada perangkat modern yang menggunakan baterai lithium-ion.

Perubahan teknologi tersebut membuat cara merawat baterai juga ikut berubah. Sayangnya, informasi lama masih terus beredar sehingga banyak pengguna tanpa sadar melakukan kebiasaan yang kurang tepat saat mengisi daya ponsel.

Mengapa Cara Cas HP Perlu Disesuaikan dengan Teknologi Baru?

Smartphone masa kini hampir seluruhnya memakai baterai lithium-ion. Jenis baterai ini memiliki karakteristik berbeda di bandingkan baterai nikel-kadmium yang di gunakan pada perangkat generasi terdahulu.

Baterai lama di kenal memiliki efek memori yang membuat kapasitasnya dapat menurun apabila proses pengisian di lakukan dengan cara tertentu. Sementara itu, baterai lithium-ion di rancang agar lebih fleksibel dan tidak mengalami masalah tersebut.

Perbedaan inilah yang membuat sejumlah kebiasaan lama sebenarnya sudah tidak lagi di perlukan.

Mitos Pertama, Baterai Baru Harus Diisi Hingga 100 Persen

Masih banyak orang yang langsung menghubungkan smartphone baru ke charger hingga indikator mencapai penuh sebelum di gunakan pertama kali.

Kebiasaan tersebut berasal dari era baterai nikel-kadmium. Saat itu, pengisian penuh memang di anjurkan agar kapasitas baterai tetap optimal.

Namun, pada baterai lithium-ion, langkah tersebut bukan lagi sebuah keharusan. Pengguna dapat langsung memakai perangkat tanpa harus menunggu baterai mencapai 100 persen terlebih dahulu.

Teknologi Lithium-ion Tidak Mengalami Efek Memori

Karena tidak memiliki efek memori, kapasitas baterai lithium-ion tidak akan berkurang hanya karena di isi ulang sebelum penuh.

Baca Juga :  Notifikasi Ponsel Sulit Diabaikan, Ini Penyebabnya

Artinya, proses penggunaan pertama tidak akan memengaruhi performa baterai dalam jangka panjang.

Benarkah Mengisi Sampai 100 Persen Merusak Baterai?

Banyak smartphone kini menyediakan fitur pembatas pengisian hingga 80 persen. Kehadiran fitur ini memunculkan anggapan bahwa mengisi baterai hingga penuh selalu berbahaya.

Faktanya, pengisian hingga 100 persen bukan penyebab utama penurunan kualitas baterai.

Yang perlu di hindari justru membiarkan perangkat terus terhubung ke charger dalam waktu lama setelah baterai penuh.

Mengapa Membiarkan Charger Tetap Terpasang Kurang Dianjurkan?

Saat baterai sudah penuh, perangkat masih dapat melakukan pengisian ulang dalam jumlah kecil ketika kapasitas mulai turun.

Proses yang berlangsung berulang ini dapat menghasilkan panas tambahan sehingga berpotensi mempercepat penurunan performa baterai dalam penggunaan jangka panjang.

Karena alasan tersebut, sejumlah produsen menghadirkan fitur pengisian cerdas yang menunda proses pengisian penuh hingga mendekati waktu pengguna biasanya mulai beraktivitas.

Mitos Baterai Harus Habis Sebelum Diisi Ulang

Anggapan lain yang masih sering di percaya adalah baterai harus benar-benar kosong sebelum kembali di isi.

Kebiasaan tersebut justru kurang sesuai untuk baterai lithium-ion.

Baterai modern bekerja berdasarkan siklus pengisian. Satu siklus di hitung ketika total energi yang di isi setara dengan kapasitas penuh baterai, bukan berdasarkan berapa kali perangkat di hubungkan ke charger.

Sebagai contoh, mengisi daya dari sekitar 20 persen hingga 80 persen dapat membantu mengurangi tekanan terhadap baterai di bandingkan membiarkannya turun hingga mendekati nol persen secara rutin.

Baca Juga :  PS5 Pro Resmi Masuk Indonesia 20 Mei, Spesifikasi, Fitur AI, dan Harga Resmi

Samsung Galaxy S25 Ultra, misalnya, memiliki estimasi sekitar 2.000 siklus pengisian sebelum kapasitas baterai menurun hingga mendekati 80 persen dari kondisi awal.

Apakah Harus Selalu Menggunakan Charger Resmi?

Banyak pengguna beranggapan hanya charger bawaan atau charger dari merek yang sama yang aman di gunakan.

Sebenarnya, charger resmi memang menjadi pilihan yang paling sesuai karena telah di rancang mengikuti spesifikasi perangkat.

Meski begitu, charger dari produsen lain tetap dapat di gunakan selama memenuhi standar keamanan, memiliki tegangan yang sesuai, serta mendukung protokol pengisian daya yang kompatibel.

Perhatikan Spesifikasi Sebelum Menggunakan Charger Lain

Charger dengan spesifikasi yang tidak sesuai berpotensi memengaruhi proses pengisian daya.

Apabila hanya berbeda protokol fast charging, dampaknya biasanya sebatas kecepatan pengisian yang tidak maksimal. Namun, penggunaan charger dengan spesifikasi daya yang tidak sesuai dapat meningkatkan risiko terhadap komponen pengisian baterai.

Memahami Fakta Membantu Menjaga Umur Baterai

Perkembangan teknologi membuat banyak aturan lama tentang cas HP tidak lagi relevan. Memahami cara kerja baterai lithium-ion membantu pengguna merawat smartphone dengan lebih tepat.

Menghindari panas berlebih, memakai charger yang sesuai spesifikasi, serta tidak membiarkan baterai terlalu sering berada pada kondisi ekstrem menjadi beberapa langkah sederhana yang dapat membantu menjaga performa baterai dalam jangka waktu lebih lama. (Wd/*)

Berita Terkait

31.000 Email Phishing Terungkap, Penipu Manfaatkan Layanan Resmi Microsoft
Kombinasi Dinding Polos dan Roster untuk Teras Rumah
Harga Spotify Premium Oktober 2026: Ini Perbedaan Tiga Paketnya
Internet Hilang Saat Perjalanan? Google Maps Tetap Bisa Digunakan
Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya
Kingston Pertahankan 62% Pasar DRAM, AI Jadi Pendorong
Penyalahgunaan AI Meningkat, Pengawasan Perlu Diperketat
WhatsApp Siapkan Tampilan Baru di Android, Navigasi Makin Modern
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:09 WIB

31.000 Email Phishing Terungkap, Penipu Manfaatkan Layanan Resmi Microsoft

Selasa, 13 Oktober 2026 - 09:24 WIB

Kombinasi Dinding Polos dan Roster untuk Teras Rumah

Selasa, 13 Oktober 2026 - 07:09 WIB

Harga Spotify Premium Oktober 2026: Ini Perbedaan Tiga Paketnya

Jumat, 9 Oktober 2026 - 07:07 WIB

Internet Hilang Saat Perjalanan? Google Maps Tetap Bisa Digunakan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:08 WIB

Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya

Berita Terbaru

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya (Foto:  Pemkab Lumajang/rri)

Nasional

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:13 WIB

 Angga Sasongko Soroti Insentif Pajak Ekonomi Kreatif (Foto: Medcom/Rafi)

Ekonomi

Angga Sasongko Soroti Insentif Pajak Ekonomi Kreatif

Sabtu, 24 Okt 2026 - 06:19 WIB

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk

Kesehatan

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk

Jumat, 23 Okt 2026 - 17:04 WIB