Kabarinaja.id – Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA menghadapi tekanan baru setelah UEFA secara terbuka menyatakan hilangnya kepercayaan terhadap kepemimpinannya. Situasi tersebut muncul di tengah meningkatnya kritik dari sejumlah konfederasi dan federasi sepak bola menjelang agenda pemilihan presiden FIFA tahun depan.
Gelombang penolakan ini di picu oleh polemik rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Meskipun proposal itu telah di batalkan, sejumlah pihak menilai dampaknya telah memengaruhi kredibilitas organisasi sepak bola dunia tersebut.
Polemik Hak Komersial Piala Dunia Memicu Kritik
Kontroversi bermula ketika muncul usulan penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada kelompok investor swasta, termasuk perusahaan investasi yang di kaitkan dengan keluarga Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Rencana tersebut menuai reaksi dari berbagai pemangku kepentingan karena di nilai berpotensi mengubah tata kelola aset komersial turnamen paling bergengsi di dunia itu.
Setelah menerima berbagai masukan, FIFA akhirnya memutuskan untuk menghentikan pembahasan proposal tersebut.
Dalam pernyataan resminya, FIFA menjelaskan bahwa usulan tersebut tidak lagi di teruskan karena memunculkan perbedaan pandangan yang cukup besar.
“Setelah mendengarkan dengan saksama seluruh pandangan yang ada, menjadi jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan yang, terlepas dari tingkat dukungan yang ada, tidak lagi sesuai dengan tujuan awal yang ingin di capai. Oleh karena itu, proposal ini tidak akan di lanjutkan.”
UEFA Nyatakan Kehilangan Kepercayaan
Sikap paling tegas datang dari UEFA. Konfederasi sepak bola Eropa itu menilai proses pengambilan keputusan yang terjadi tidak mencerminkan tata kelola yang transparan.
Dalam pernyataan resminya, UEFA menyampaikan keberatan terhadap proses penyusunan rencana tersebut.
“Kami tidak bisa terus menjalankan sepak bola dengan skema rahasia yang disusun secara terburu-buru oleh pihak-pihak yang tidak jelas identitasnya. Kami harus mengidentifikasi siapa yang bertanggung jawab dan meminta mereka mempertanggungjawabkan tindakannya.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan memburuknya hubungan antara UEFA dan pimpinan FIFA dalam isu tata kelola organisasi.
Peluang Mengajukan Mosi Tidak Percaya
Berdasarkan Statuta FIFA, asosiasi anggota memiliki mekanisme untuk mengajukan Kongres Luar Biasa (KLB) apabila memperoleh dukungan minimal 20 persen dari total anggota.
Dengan jumlah 211 asosiasi anggota FIFA, sedikitnya di perlukan sekitar 43 federasi untuk mengusulkan agenda mosi tidak percaya terhadap presiden FIFA.
UEFA sendiri memiliki 55 asosiasi anggota. Secara matematis, jumlah tersebut cukup menjadi modal awal apabila berhasil memperoleh dukungan dari konfederasi lain.
Kontroversi Kepemimpinan Infantino Terus Bertambah
Gianni Infantino menjabat Presiden FIFA sejak 2016 setelah terpilih dengan agenda reformasi organisasi pasca-era Sepp Blatter yang diwarnai kasus korupsi.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, kepemimpinannya kembali menjadi sorotan akibat sejumlah kontroversi.
Salah satunya berkaitan dengan dugaan adanya pengaruh politik dalam proses pengambilan keputusan FIFA. Sorotan juga mengarah pada komunikasi intensif antara Infantino dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam isu tersebut, Trump disebut melakukan lobi kepada FIFA terkait pencabutan sanksi kartu merah yang di jatuhkan kepada penyerang tim nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun.
Tekanan Jelang Pemilihan Presiden FIFA
Rangkaian polemik yang terjadi membuat posisi Gianni Infantino menghadapi tantangan besar menjelang pemilihan Presiden FIFA berikutnya.
Meski proposal komersialisasi hak Piala Dunia telah di batalkan, sejumlah federasi menilai langkah tersebut belum cukup untuk mengembalikan kepercayaan terhadap kepemimpinan organisasi.
Apabila dukungan terhadap mosi tidak percaya terus bertambah, dinamika politik di tubuh FIFA berpotensi menjadi salah satu isu utama menjelang proses pemilihan presiden tahun depan. (Wd/*)










