Penyalahgunaan AI Meningkat, Pengawasan Perlu Diperketat

Teddy Mantoro menilai perbedaan sistem keamanan AI masih menyisakan celah penyalahgunaan, termasuk untuk menghasilkan informasi berbahaya.

- Jurnalis

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:59 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Penyalahgunaan AI Meningkat, Pengawasan Perlu Diperketat (Foto: Freepik/RRI)

Penyalahgunaan AI Meningkat, Pengawasan Perlu Diperketat (Foto: Freepik/RRI)

Kabarinaja.id – Risiko penyalahgunaan AI dinilai semakin perlu mendapat perhatian seiring pesatnya kemampuan teknologi kecerdasan buatan. Direktur School of Computer Science (SoCS) Nusa Putra University, Teddy Mantoro, meminta pengawasan terhadap perkembangan AI diperkuat.

Menurut Teddy, sejumlah kasus peretasan serta pemanfaatan AI untuk kepentingan berisiko menunjukkan adanya celah yang perlu diantisipasi. Pemerintah, pengembang, dan berbagai pihak terkait dinilai memiliki peran penting dalam mengendalikan risiko tersebut.

Perbedaan Sistem Keamanan Menjadi Perhatian

Teddy menjelaskan bahwa setiap Large Language Model (LLM) memiliki mekanisme kerja dan sistem pengamanan yang berbeda. Perbedaan tersebut turut menentukan kemampuan masing-masing model dalam menangani permintaan yang berpotensi membahayakan.

Sejumlah model AI menerapkan pembatasan terhadap konten sensitif. Materi terkait kekerasan seksual, terorisme, maupun informasi yang dapat mengancam keamanan publik termasuk kategori yang biasanya mendapatkan penyaringan.

Namun, penerapan sistem keamanan tersebut belum membuat seluruh model memiliki tingkat perlindungan yang seragam. Menurut Teddy, celah masih dapat muncul ketika AI menghadapi permintaan dengan konteks atau pola tertentu.

Potensi Kesalahan Logika Masih Ada

Teddy mengatakan kemampuan AI untuk menghasilkan respons yang keliru tetap menjadi perhatian. Kondisi tersebut dapat terjadi meskipun pengembang sudah menambahkan berbagai mekanisme pengamanan dalam model.

Baca Juga :  Cara Buka Situs Terblokir Tanpa Aplikasi lewat BlockAway Proxy

“Potensi AI masuk ke dalam logika yang keliru masih sangat besar hingga saat ini, sehingga pengawasan tidak boleh diabaikan,” ujarnya.

Ia menilai langkah pencegahan perlu dilakukan sejak proses pengembangan teknologi. Pendekatan tersebut diperlukan agar kemampuan AI tidak mudah diarahkan untuk kepentingan yang dapat merugikan manusia.

Kasus Anthropic Jadi Salah Satu Contoh

Dalam wawancara bersama PRO3 RRI pada Minggu, 4 Oktober 2026, Teddy turut menyinggung kasus yang berkaitan dengan perusahaan teknologi Anthropic. Ia mengaitkannya dengan persoalan yang melibatkan pemerintah serta lembaga intelijen Amerika Serikat.

“Kasus seperti ini banyak terjadi, termasuk yang melibatkan Anthropic dan lembaga pemerintah di dunia intelijen Amerika Serikat,” kata Teddy.

Menurut dia, berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perkembangan AI membutuhkan pengawasan yang berjalan seiring dengan inovasi. Kemampuan teknologi yang semakin tinggi dapat membawa manfaat besar, tetapi juga menciptakan tantangan keamanan baru.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu mengambil langkah yang lebih serius dalam mengantisipasi penggunaan AI. Pengawasan menjadi bagian penting agar perkembangan teknologi tidak menciptakan ruang baru bagi penyalahgunaan.

AI dan Risiko Informasi Senjata Berbahaya

Perhatian Teddy juga mencakup kemungkinan AI digunakan untuk membantu menghasilkan informasi berkaitan dengan senjata pemusnah massal. Ia menilai persoalan tersebut tidak lagi semata-mata berada dalam ranah fiksi ilmiah.

Baca Juga :  Bahaya Headphone Jika Dipakai Terlalu Lama

Teddy menyebut kemampuan AI menghasilkan informasi mengenai pengembangan senjata kimia telah terlihat melalui sejumlah eksperimen beberapa tahun terakhir. Menurutnya, perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana kemampuan generatif AI dapat digunakan dalam konteks yang berisiko.

“Hal tersebut sangat mungkin terjadi, karena tiga tahun lalu AI sudah mampu menghasilkan algoritma terkait senjata kimia dalam waktu singkat,” ujarnya.

Ia menyebut sebuah eksperimen bahkan mampu menghasilkan sekitar 400 algoritma dalam waktu satu jam. Angka tersebut menjadi gambaran mengenai kecepatan AI dalam memproses dan menghasilkan informasi ketika diberikan instruksi tertentu.

Pengawasan Perlu Mengikuti Perkembangan Teknologi

Kemampuan menghasilkan informasi dalam jumlah besar membuat pengawasan AI menghadapi tantangan baru. Mekanisme keamanan perlu terus diperbarui mengikuti perkembangan kemampuan model yang semakin kompleks.

Bagi Teddy, pengawasan tidak cukup dilakukan setelah teknologi digunakan secara luas. Aspek keamanan perlu diperhitungkan sejak tahap pengembangan sehingga potensi penyalahgunaan dapat ditekan lebih awal.

Perkembangan AI pada akhirnya membutuhkan keseimbangan antara inovasi dan pengamanan. Tanpa pengawasan yang memadai, kemampuan teknologi yang semakin kuat berpotensi menghadirkan risiko baru bagi masyarakat. (Wd/*)

Berita Terkait

31.000 Email Phishing Terungkap, Penipu Manfaatkan Layanan Resmi Microsoft
Harga Spotify Premium Oktober 2026: Ini Perbedaan Tiga Paketnya
Fphubbing: Kebiasaan Main HP yang Mengganggu Pertemanan
Internet Hilang Saat Perjalanan? Google Maps Tetap Bisa Digunakan
Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya
Kingston Pertahankan 62% Pasar DRAM, AI Jadi Pendorong
Hari Kopi Internasional, Bagaimana Kopi Memengaruhi Jantung?
WhatsApp Siapkan Tampilan Baru di Android, Navigasi Makin Modern
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:09 WIB

31.000 Email Phishing Terungkap, Penipu Manfaatkan Layanan Resmi Microsoft

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 10:06 WIB

Fphubbing: Kebiasaan Main HP yang Mengganggu Pertemanan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 07:07 WIB

Internet Hilang Saat Perjalanan? Google Maps Tetap Bisa Digunakan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:08 WIB

Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:05 WIB

Kingston Pertahankan 62% Pasar DRAM, AI Jadi Pendorong

Berita Terbaru

Rachel Vennya Buka Suara soal Karhutla Kalimantan (Foto:  Instagram/rachelvennya/medcom)

Showbiz

Rachel Vennya Buka Suara soal Karhutla Kalimantan

Rabu, 14 Okt 2026 - 12:07 WIB

Kombinasi Dinding Polos dan Roster untuk Teras Rumah

Tips & Trik

Kombinasi Dinding Polos dan Roster untuk Teras Rumah

Selasa, 13 Okt 2026 - 09:24 WIB