Baru Jalan 100 Meter Sudah Ingin Duduk? Kenali Sinyal Lutut

Penurunan kemampuan berjalan dapat menjadi tanda gangguan fungsi lutut, meski keluhan tidak selalu disertai rasa sakit.

- Jurnalis

Minggu, 16 Agustus 2026 - 08:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Baru Jalan 100 Meter Sudah Ingin Duduk? Kenali Sinyal Lutut (Foto: ChatGPT)

Baru Jalan 100 Meter Sudah Ingin Duduk? Kenali Sinyal Lutut (Foto: ChatGPT)

Kabarinaja.id – Kemampuan berjalan yang tiba-tiba menurun bisa menjadi tanda adanya masalah pada lutut. Bahkan, gangguan fungsi sendi dapat muncul ketika seseorang belum merasakan nyeri yang berarti.

Dokter Spesialis Ortopedi dr. Andito Wibisono, Sp.OT, Subsp. PL, meminta masyarakat memperhatikan perubahan kemampuan bergerak dalam aktivitas sehari-hari.

Menurut Andito, keluhan pada lutut tidak selalu hadir dalam bentuk rasa sakit. Berkurangnya jarak berjalan atau kebutuhan lebih sering beristirahat juga perlu diperhatikan.

Talkshow peluncuran ROSA
Talkshow peluncuran ROSA Robotic Surgical Assistant di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (13/08/2026) (Foto: medcom)

Nyeri Lutut Bukan Satu-Satunya Tanda

Andito menjelaskan, gangguan lutut dapat memengaruhi fungsi sendi secara bertahap. Salah satu contohnya terlihat ketika seseorang yang sebelumnya mampu berjalan jauh mulai cepat kehilangan kemampuan tersebut.

“Jalan jadi tidak kuat. Tidak sakit, tapi jarak tempuhnya baru jalan 100 meter sudah pengin duduk,” kata Andito saat peluncuran ROSA Robotic Surgical Assistant di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (13/8/2026).

Kondisi seperti itu, menurut dia, tetap membutuhkan perhatian meski rasa sakit belum muncul. Perubahan kemampuan bergerak dapat menjadi petunjuk bahwa fungsi sendi mulai terganggu.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak hanya menjadikan rasa sakit sebagai patokan. Perubahan pola berjalan dan aktivitas harian juga perlu menjadi bahan evaluasi.

Pemeriksaan Lutut Tidak Cukup dari Rontgen

Andito menilai pemeriksaan kondisi lutut perlu melihat lebih banyak aspek. Dokter harus mempertimbangkan keluhan pasien, fungsi sendi, kondisi fisik, serta kemampuan menjalankan aktivitas.

Hasil rontgen juga tidak otomatis menentukan apakah seseorang membutuhkan operasi. Kondisi yang terlihat pada pencitraan perlu dibandingkan dengan kondisi dan kemampuan pasien secara langsung.

Baca Juga :  Tak Cuma Kurang Minum, Ternyata 3 Makanan Harian Ini Jadi Pemicu Batu Ginjal

“Dia bilang secara rontgen harus dioperasi. Tapi fungsinya masih baik, ya tidak saya operasi,” ujar Andito.

Sebaliknya, kerusakan yang tampak belum terlalu berat tetap dapat membutuhkan penanganan. Terutama jika pasien mengalami nyeri, pembengkakan, atau gangguan fungsi yang terus berlangsung.

Pendekatan tersebut membuat keputusan tindakan medis tidak hanya berdasarkan satu hasil pemeriksaan. Dokter perlu menilai kondisi pasien secara menyeluruh sebelum menentukan pilihan terapi.

Usia Bukan Penentu Tunggal Operasi

Operasi penggantian lutut memang lebih banyak dilakukan pada pasien berusia 60 tahun ke atas. Namun, Andito menegaskan bahwa kerusakan sendi juga dapat terjadi pada kelompok usia yang lebih muda.

“Biasanya 60 tahun ke atas. Kebanyakan. Ada yang 25 tahun,” katanya.

Kondisi setiap sendi berbeda sehingga kebutuhan penanganannya juga tidak sama. Karena itu, bertambahnya usia tidak otomatis berarti seseorang harus menghentikan seluruh aktivitas fisik.

Jenis olahraga juga dapat disesuaikan dengan kondisi sendi. Bagi seseorang yang masih memiliki tulang rawan baik, aktivitas seperti jogging masih dapat dilakukan sesuai kondisi fisiknya.

Sementara itu, pasien dengan arthritis dapat diarahkan pada aktivitas berdampak lebih rendah. Penyesuaian tersebut bertujuan mengurangi beban pada sendi saat tetap menjaga aktivitas fisik.

Penanganan juga dapat dilakukan tanpa operasi apabila kondisi pasien masih memungkinkan. Dokter akan menentukan pilihan berdasarkan tingkat kerusakan, keluhan, fungsi, dan kebutuhan pasien.

Teknologi Robotik Membantu Operasi Lutut

Ketika penggantian lutut memang diperlukan, teknologi robotik kini dapat menjadi salah satu alat bantu bagi dokter. Salah satunya adalah ROSA Robotic Surgical Assistant yang digunakan dalam operasi penggantian lutut.

Baca Juga :  Google Berencana Lepas 32 Juta Nyamuk Steril di Amerika Serikat

Teknologi ROSA dirancang untuk membantu dokter melakukan perencanaan serta pelaksanaan operasi berdasarkan data kondisi anatomi pasien. Sistem tersebut juga memberikan informasi selama prosedur berlangsung.

Andito menjelaskan, teknologi tersebut dapat membantu membaca pergerakan dengan tingkat ketelitian yang sangat kecil.

“Robot bisa membaca bergerak dua milimeter. Dua milimeter mata kita tidak bisa lihat, feeling kita tidak bisa melihat,” ujarnya.

Meski menggunakan sistem robotik, keputusan medis tetap berada pada dokter. ROSA berfungsi sebagai alat bantu dan tidak menjalankan operasi secara mandiri.

Dengan dukungan data dan sistem navigasi, dokter dapat menggunakan informasi tambahan untuk membantu menentukan posisi serta penempatan implan sesuai kondisi anatomi pasien.

Kapan Lutut Sebaiknya Diperiksa?

Penurunan kemampuan berjalan patut diperhatikan ketika mulai mengganggu rutinitas. Kondisi tersebut semakin perlu dievaluasi apabila disertai nyeri, pembengkakan, atau keterbatasan gerak.

Pemeriksaan dokter dapat membantu mencari penyebab keluhan sebelum kondisi berkembang lebih jauh. Hasil evaluasi kemudian menjadi dasar untuk menentukan apakah pasien membutuhkan terapi nonoperatif atau tindakan lain.

Dengan demikian, kemampuan berjalan tidak sebaiknya diukur hanya dari ada atau tidaknya rasa sakit. Jika jarak tempuh semakin pendek dan aktivitas harian mulai terganggu, pemeriksaan medis dapat menjadi langkah yang tepat.

Perawatan lutut juga tidak selalu berujung pada operasi. Pilihan terapi bergantung pada kondisi masing-masing pasien dan hasil penilaian dokter. (Wd/*)

Berita Terkait

Cara Mengonsumsi Madu yang Benar untuk Kesehatan
Cara Mengendalikan Amarah dengan 5 Trik Sederhana
Cara Menurunkan Berat Badan Secara Efektif dan Aman
Kapan Anak Perempuan Tumbuh Pesat? Ini Tahapannya
Negara dengan Obesitas Terendah, Indonesia Peringkat 6
Jenis Pilates dan Manfaatnya, Mana yang Cocok untuk Pemula?
Merasa Makan Sedikit tapi Berat Badan Naik? Ini Kata Ahli
Kebiasaan di Kamar Mandi yang Picu Stroke
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 12:03 WIB

Cara Mengonsumsi Madu yang Benar untuk Kesehatan

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:04 WIB

Cara Mengendalikan Amarah dengan 5 Trik Sederhana

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:02 WIB

Cara Menurunkan Berat Badan Secara Efektif dan Aman

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:08 WIB

Kapan Anak Perempuan Tumbuh Pesat? Ini Tahapannya

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:04 WIB

Negara dengan Obesitas Terendah, Indonesia Peringkat 6

Berita Terbaru

IdeaFest 2026 (Foto: medcom)

Teknologi

AI Makin Cepat, Mengapa Keterampilan Manusia Tetap Penting?

Minggu, 6 Sep 2026 - 09:05 WIB

Fitur Tersembunyi Google Maps yang Jarang Diketahui (Foto: medcom)

Teknologi

Fitur Tersembunyi Google Maps yang Jarang Diketahui

Minggu, 6 Sep 2026 - 07:04 WIB

Kolase makanan kekinian yang dapat menjadi inspirasi bagi pemula untuk memulai usaha kuliner dari rumah.

Kuliner

10 Ide Jualan Kekinian yang Bisa Dimulai dari Rumah

Sabtu, 5 Sep 2026 - 21:04 WIB

Ilustrasi yang menggambarkan Al-Khawarizmi mempelajari matematika di masa lalu, sementara konsep algoritma berkembang menjadi bagian penting teknologi digital masa kini.

Tokoh

Al-Khawarizmi dan Algoritma yang Mengubah Dunia

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Seorang penjual mempromosikan kaus melalui siaran langsung dengan bantuan kamera dan ring light. (Foto: pegadaian/Ai)

Ekonomi

Cara Jualan di TikTok Shop agar Produk Lebih Mudah Laku

Sabtu, 5 Sep 2026 - 17:06 WIB