Kabarinaja.id – Kebakaran melanda kawasan permukiman adat Desa Sade di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Peristiwa tersebut berdampak terhadap 320 warga yang berasal dari 120 kepala keluarga.
Selain rumah penduduk, kebakaran juga mengenai sejumlah fasilitas yang berada di kawasan kampung adat. Masjid, museum, lapak UMKM, dan beberapa fasilitas umum dilaporkan ikut terdampak.
Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri menyebut ratusan warga menjadi korban terdampak dalam kejadian tersebut. Pemerintah daerah kemudian memprioritaskan pemulihan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat.
“Korban yang terdampak mencapai 320 jiwa atau 120 kepala keluarga,” kata Lalu Pathul Bahri, dikutip dari Antara, Minggu, 23 Agustus 2026.
Dampak Kebakaran di Desa Sade Lombok
Data Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mencatat terdapat 89 bangunan yang terbakar dalam peristiwa tersebut. Jumlah itu mencakup bangunan permukiman serta sejumlah fasilitas yang digunakan masyarakat.
Dampaknya menjadi lebih luas karena Desa Sade bukan sekadar kawasan hunian. Permukiman tersebut juga menjadi salah satu tujuan wisata budaya yang memperkenalkan kehidupan masyarakat Suku Sasak kepada pengunjung.
Pemulihan kawasan karena itu berkaitan dengan kebutuhan warga sekaligus keberlangsungan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Lapak usaha milik pelaku UMKM menjadi salah satu fasilitas yang terdampak.
Kawasan Adat dengan Nilai Budaya
Desa Sade dikenal sebagai salah satu permukiman tradisional masyarakat Sasak di Pulau Lombok. Selama puluhan tahun, kawasan tersebut berkembang sebagai tujuan wisata budaya bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Masyarakat setempat masih menjalankan berbagai aktivitas yang diwariskan antargenerasi. Kehidupan keluarga, tradisi sosial, kerajinan, serta kesenian menjadi bagian dari keseharian warga.
Salah satu tradisi yang dikenal dari masyarakat Sasak adalah menenun. Keterampilan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi dan turut diperkenalkan kepada wisatawan yang berkunjung.
Tradisi lain yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat Sasak adalah merariq. Beragam adat tersebut memperlihatkan bahwa Desa Sade memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar lokasi wisata.
Rumah Tradisional dan Identitas Suku Sasak
Rumah tradisional menjadi salah satu ciri yang paling dikenal dari Desa Sade. Bangunan tersebut menggunakan sejumlah material alami seperti bambu, kayu, dan alang-alang.
Atap rumah umumnya menggunakan alang-alang, sedangkan bagian struktur dan dinding memanfaatkan material lainnya. Bentuk arsitektur tersebut menjadi bagian dari identitas masyarakat Sasak yang masih dipertahankan.
Bagi wisatawan, rumah tradisional tersebut menjadi gambaran langsung mengenai pola permukiman dan arsitektur masyarakat Lombok. Namun, nilai kawasan Sade tidak berhenti pada bentuk bangunannya.
Bahasa, kerajinan, kesenian, adat istiadat, dan pengetahuan lokal juga membentuk karakter kampung adat tersebut. Seluruh unsur itu berkembang bersama kehidupan masyarakat yang tetap berlangsung di kawasan Sade.
Tantangan Pemulihan Setelah Kebakaran
Kebakaran pada 22 Agustus 2026 membuat kebutuhan pemulihan menjadi perhatian pemerintah daerah. Penanganan tidak hanya menyangkut tempat tinggal warga, tetapi juga fasilitas publik dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kerusakan yang terjadi juga menyentuh kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi Suku Sasak. Karena itu, pemulihan Desa Sade memiliki dimensi sosial yang lebih luas dibandingkan pembangunan kembali bangunan yang rusak.
Kehidupan masyarakat merupakan bagian penting dari karakter kampung adat tersebut. Tradisi dan pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi juga menjadi unsur yang membuat Sade dikenal sebagai destinasi wisata budaya.
Desa Sade dan Masa Depan Wisata Budaya Lombok
Popularitas Desa Sade tumbuh seiring meningkatnya minat terhadap wisata berbasis budaya. Pengunjung dapat menyaksikan rumah tradisional sekaligus mengenal kerajinan dan kehidupan masyarakat Sasak.
Kehadiran wisatawan turut memperluas pengenalan terhadap kebudayaan lokal. Pada saat yang sama, perkembangan pariwisata perlu berjalan bersama upaya menjaga identitas masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.
Kebakaran yang melanda Sade kembali memperlihatkan pentingnya keberadaan kampung adat sebagai ruang hidup masyarakat. Pelestarian tidak semata-mata berarti mempertahankan bangunan tradisional, tetapi juga menjaga tradisi, pengetahuan, kerajinan, serta kehidupan sosial masyarakat.
Dengan 89 bangunan yang dilaporkan terbakar dan 320 warga terdampak, proses pemulihan Desa Sade menjadi bagian penting bagi keberlangsungan masyarakat setempat. Kawasan ini tetap memiliki posisi strategis dalam memperkenalkan warisan budaya Suku Sasak dan kekayaan tradisi Lombok. (Wd/*)










