Tren Wisata Hidden Gems Melonjak, Turis Asing Buru Desa Wisata

- Jurnalis

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:06 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tren Wisata Hidden Gems Melonjak, Turis Asing Buru Desa Wisata (Ilustrasi: Ai)

Tren Wisata Hidden Gems Melonjak, Turis Asing Buru Desa Wisata (Ilustrasi: Ai)

Kabarinaja.id – Wisatawan di Indonesia kini cenderung menghindari kota-kota besar demi memburu keindahan alam dan pengalaman autentik di berbagai daerah. Pergeseran pola perjalanan ini memicu lonjakan permintaan wisata ke destinasi alternatif yang belum banyak di kenal publik atau hidden gems.

Laporan terbaru Airbnb berjudul Beyond the Beaten Track: Unlocking Tourism Growth Across Asia Pacific mengungkapkan bahwa tren ini membawa dampak positif bagi daerah. Arus kunjungan yang tinggi membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru bagi komunitas lokal yang selama ini jarang terjamah industri pariwisata skala besar.

Data internal Airbnb mencatat hampir satu dari lima penginapan di Indonesia sekarang berlokasi di luar kota besar. Durasi menginap wisatawan di area pelosok ini juga meningkat lebih dari 15 persen pada tahun 2025 jika di bandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kenaikan Drastis di Lombok dan Nabire

Perubahan perilaku pelancong terlihat nyata di sejumlah wilayah Nusantara. Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat kenaikan periode menginap hingga 68 persen secara tahunan, sekaligus menempatkannya sebagai salah satu destinasi dengan pertumbuhan tercepat di Asia Pasifik.

Kemajuan pariwisata juga mulai merambah wilayah timur Indonesia. Kabupaten Nabire di Papua berhasil menerima pemesanan Airbnb pertamanya pada tahun 2025, yang menandakan distribusi perjalanan kini semakin merata ke area terpencil.

Baca Juga :  7 Tempat Makan Legendaris di Singapura yang Wajib Dicoba

Menariknya, daya tarik lanskap alam dan kultur lokal ini di dominasi oleh pasar internasional. Data Airbnb menunjukkan bahwa 90 persen tamu yang menginap di akomodasi luar kota besar merupakan wisatawan mancanegara.

Dampak Ekonomi Langsung ke Akar Rumput

Para turis modern saat ini memiliki kesadaran sosial yang tinggi terhadap kelangsungan daerah yang mereka kunjungi. Berdasarkan survei Airbnb terhadap wisatawan domestik, 95 persen responden menyatakan penting untuk berkunjung ke destinasi yang mendukung masyarakat setempat.

Survei tersebut juga mengungkap bahwa 85 persen wisatawan tertarik mengunjungi daerah di luar kota besar jika tersedia pilihan akomodasi alternatif. Hebatnya, 100 persen responden mengakui bahwa rekomendasi dari pemilik penginapan (host) berpengaruh langsung terhadap pengeluaran belanja mereka.

Pergeseran ini membuat anggaran pelancong mengalir langsung ke lini ekonomi akar rumput. Wisatawan aktif menghabiskan uang mereka di kafe lokal, berbelanja di pasar tradisional, serta menggunakan jasa penjelajahan alam yang dikelola oleh warga sekitar.

Baca Juga :  Rekomendasi Staycation Mewah di The Trans Luxury Hotel Surabaya

Peran Krusial Penginapan Berbasis Warga

Keterbatasan infrastruktur hotel konvensional di wilayah terpencil kini dapat teratasi lewat kehadiran platform akomodasi alternatif. Keberadaan penginapan berbasis warga memperluas akses bagi turis sekaligus melibatkan masyarakat setempat dalam sektor pariwisata secara aktif.

Satu dari empat wisatawan di Asia Pasifik bahkan menegaskan tidak akan mengunjungi destinasi luar kota besar jika platform seperti Airbnb tidak tersedia. Secara akumulatif, 92 persen wisatawan Indonesia tercatat sudah mengunjungi destinasi alternatif dalam setahun terakhir.

Country Head Airbnb untuk Asia Tenggara & India, Amanpreet Bajaj, menjelaskan bahwa fenomena ini mendukung upaya pemerintah dalam mengembangkan pariwisata yang bertanggung jawab.

“Di Indonesia, wisatawan beralih dari destinasi wisata yang terkenal ke destinasi di luar kota besar yang menawarkan ritme yang lebih lambat, koneksi yang lebih personal, serta kehidupan lokal yang lebih autentik,” ujar Amanpreet Bajaj.

Menurut Amanpreet, peningkatan permintaan ini mendorong penyebaran manfaat ekonomi secara adil. Kehadiran penginapan alternatif membantu membuka peluang pendapatan baru bagi pemilik rumah dan pelaku pelaku usaha mikro di seluruh penujuru Indonesia. (Wd/*)

Berita Terkait

7 Tempat Makan Legendaris di Singapura yang Wajib Dicoba
Tempat Nongkrong Hidden Gems di Singapura ala Lokal
Cara Beli Tiket MotoGP Mandalika 2026 dan Daftar Harga Tiket Resmi
Hotel Makin Digital, Mengapa Sentuhan Personal Tetap Penting?
Pariwisata Labuan Bajo Pulih, Taman Nasional Komodo Dibuka
Moskow Makin Dekat, Kunjungan Wisatawan Indonesia Terus Naik
8 Daerah Terdingin di Indonesia, Suhunya Bisa 9 Derajat
Desa Sade Lombok, Kampung Adat Suku Sasak yang Terdampak Kebakaran
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:07 WIB

7 Tempat Makan Legendaris di Singapura yang Wajib Dicoba

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:27 WIB

Tempat Nongkrong Hidden Gems di Singapura ala Lokal

Jumat, 9 Oktober 2026 - 12:03 WIB

Cara Beli Tiket MotoGP Mandalika 2026 dan Daftar Harga Tiket Resmi

Sabtu, 26 September 2026 - 13:09 WIB

Hotel Makin Digital, Mengapa Sentuhan Personal Tetap Penting?

Sabtu, 5 September 2026 - 09:05 WIB

Pariwisata Labuan Bajo Pulih, Taman Nasional Komodo Dibuka

Berita Terbaru

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya (Foto:  Pemkab Lumajang/rri)

Nasional

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:13 WIB

 Angga Sasongko Soroti Insentif Pajak Ekonomi Kreatif (Foto: Medcom/Rafi)

Ekonomi

Angga Sasongko Soroti Insentif Pajak Ekonomi Kreatif

Sabtu, 24 Okt 2026 - 06:19 WIB

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk

Kesehatan

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk

Jumat, 23 Okt 2026 - 17:04 WIB