Toba Caldera Culture Festival Siapkan Talenta Lokal Go Global

Festival di Samosir ini menggabungkan musik, budaya, UMKM, inovasi, dan peluang ekonomi kreatif.

- Jurnalis

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:09 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Toba Caldera Culture Festival Siapkan Talenta Lokal Go Global (Foto: Dok Kementerian Ekraf)

Toba Caldera Culture Festival Siapkan Talenta Lokal Go Global (Foto: Dok Kementerian Ekraf)

Kaabarinaja.id Toba Caldera Culture Festival 2026 disiapkan sebagai ruang bagi talenta lokal untuk berkembang hingga pasar global. Festival yang berlangsung di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, itu memadukan musik, budaya, UMKM, inovasi, dan peluang investasi.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai kolaborasi pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Teuku Riefky ketika menerima penyelenggara Toba Caldera Culture Festival di kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026.

Festival Musik yang Berkembang Menjadi Ruang Ekonomi Kreatif

Toba Caldera Culture Festival 2026 atau TCCF merupakan agenda kolaboratif yang diinisiasi ND Management. Kegiatan ini tidak berhenti pada pertunjukan musik, tetapi mempertemukan sejumlah unsur dalam ekonomi kreatif.

Rangkaian acaranya mencakup marketplace dalam bentuk pesta rakyat, pertemuan pemangku adat Nusantara, serta kompetisi dan lokakarya paduan suara melalui Samosir International Choir Competition.

TCCF dijadwalkan berlangsung pada 24-27 September 2026 di Kabupaten Samosir.

Festival tersebut memiliki perjalanan yang cukup panjang. Awalnya, kegiatan ini berangkat dari kompetisi paduan suara sebelum berkembang menjadi wadah yang menghubungkan seni, budaya, kreativitas, dan kegiatan ekonomi.

Konsep itu sekaligus membawa misi memperkenalkan serta menjaga kekayaan seni dan budaya Batak. Pada saat yang sama, unsur budaya diharapkan mampu menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif.

Kementerian Ekraf Siapkan Bentuk Kolaborasi

Teuku Riefky menyambut konsep TCCF yang mengangkat kekuatan lokal sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif.

“Konsep acara yang ingin dihadirkan Toba Caldera Culture Festival begitu bagus karena bagaimana local hero bisa go national, kemudian karya kreatif dan produk unggulan bisa kita dorong ke tingkat global.”

Baca Juga :  Tren Wisata Hidden Gems Melonjak, Turis Asing Buru Desa Wisata

Menurut Teuku Riefky, kerja sama pemerintah pusat dan daerah dapat menjadi penghubung bagi pelaku ekonomi kreatif. Subsektor musik menjadi salah satu bidang yang dinilai memiliki ruang pengembangan cukup besar.

Kementerian Ekraf masih mengkaji bentuk keterlibatan yang paling sesuai dalam agenda tersebut. Salah satu opsi yang dipertimbangkan berasal dari Deputi Bidang Kreativitas Media, terutama Direktorat Musik.

“Kementerian Ekraf akan melihat dulu aktivasi apa yang bisa dilakukan dalam Toba Caldera Culture Festival. Nanti, kita pastikan bentuk dukungan dalam bentuk penjurian atau kita bisa ikut turut mengaktivasi rangkaian acara lain.”

Dukungan tersebut diharapkan tidak sebatas keterlibatan dalam penyelenggaraan festival. Pemerintah ingin kolaborasi yang dilakukan dapat memberikan manfaat nyata bagi perkembangan ekosistem musik.

“Paling penting programnya bisa memberikan manfaat langsung dan memperkuat ekosistem musik serta talenta-talenta muda.”

Dalam kompetisi paduan suara, penyelenggara akan menghadirkan empat dewan juri internasional dan enam dewan juri nasional.

Generasi Muda Jadi Kekuatan Subsektor Musik

Besarnya peluang pengembangan musik juga terlihat dari komposisi tenaga kerja di subsektor tersebut.

Data BPS 2025 yang disampaikan Kementerian Ekraf mencatat sebanyak 220.714 orang bekerja dalam subsektor musik di Indonesia.

Generasi milenial menjadi kelompok terbesar dengan proporsi 41,62 persen. Berikutnya, generasi Z mencapai 33,61 persen dan generasi X sebanyak 20,87 persen.

Komposisi tersebut memperlihatkan kuatnya keterlibatan kelompok usia muda dalam industri musik nasional. Festival seperti TCCF dapat menjadi ruang pertemuan antara talenta, komunitas, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan.

Ruang semacam itu juga membuka peluang bagi karya lokal untuk memperoleh pengalaman, jejaring, serta akses pasar yang lebih luas.

Danau Toba Tak Hanya Dipandang sebagai Destinasi

Ketua Steering Committee TCCF Mora Nasution mengatakan festival tersebut ingin memperluas cara pandang terhadap Danau Toba.

Baca Juga :  Touring Motor Sumba 600 Km, Ini Syarat Ikutnya

Menurut Mora, kawasan tersebut telah dikenal sebagai salah satu destinasi super prioritas dengan daya tarik internasional. Namun, pengembangan destinasi perlu berjalan bersama penguatan masyarakat dan kebudayaan yang hidup di dalamnya.

“Danau Toba itu menjadi salah satu destinasi super prioritas yang mana sudah punya kelas di mata dunia. Tapi, kita tidak hanya bicara bagaimana melestarikan tempatnya saja, tetapi juga bicara manusia dengan seni dan budaya yang berdampak terhadap nilai ekonomi.”

Karena itu, TCCF diarahkan menjadi ruang kolaborasi yang dapat mengimplementasikan berbagai program Kementerian Ekraf di Sumatera Utara.

Mora berharap festival tersebut tidak berhenti sebagai agenda tahunan yang memperoleh dukungan pemerintah. Penguatan masyarakat, seni, budaya, dan potensi ekonomi menjadi bagian penting dari arah pengembangannya.

Ribuan Peserta Akan Terlibat

TCCF 2026 menargetkan hampir 2.000 peserta paduan suara. Selain itu, penyelenggara menyiapkan ruang bagi sekitar 70 penyanyi vokal solo.

Kompetisi musik tersebut akan berjalan beriringan dengan pengenalan kekayaan budaya Indonesia. Unsur budaya diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi karya kreatif, produk unggulan, hingga inovasi.

Identitas masyarakat Batak juga menjadi bagian dari konsep festival. Sejumlah filosofi dan unsur budaya seperti Dalihan Na Tolu, Tondi, Gondang, dan Tortor akan dikaitkan dengan kegiatan musik.

Pendekatan tersebut menempatkan budaya bukan sekadar sebagai warisan yang perlu dipertahankan. Tradisi juga dapat menjadi sumber kreativitas sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Dengan agenda yang menggabungkan musik, budaya, dan ekonomi kreatif, Toba Caldera Culture Festival 2026 berupaya memperluas peran talenta daerah. Samosir pun diposisikan sebagai ruang pertemuan antara potensi lokal dan jaringan yang lebih luas. (Wd/*)

Berita Terkait

Festival Golo Koe 2026, Cara Baru Menikmati Labuan Bajo
Curug Minger di Lereng Gunung Slamet Tawarkan Suasana Sejuk
UNESCO Pilih Beijing sebagai Ibu Kota Arsitektur Dunia 2029, Ini Alasannya
Touring Motor Sumba 600 Km, Ini Syarat Ikutnya
Begawi Festival Budaya Lampung Satukan Saibatin Pepadun
Indonesia-India Restorasi Prambanan Jadi Alat Diplomasi
Cara dan Syarat Dapat Tiket Masuk Ancol Gratis 10 Juli
Selatan Sunset Festival 2026 Dongkrak Pariwisata dan UMKM Payakumbuh
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:09 WIB

Toba Caldera Culture Festival Siapkan Talenta Lokal Go Global

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:35 WIB

Festival Golo Koe 2026, Cara Baru Menikmati Labuan Bajo

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:43 WIB

Curug Minger di Lereng Gunung Slamet Tawarkan Suasana Sejuk

Kamis, 6 Agustus 2026 - 17:05 WIB

UNESCO Pilih Beijing sebagai Ibu Kota Arsitektur Dunia 2029, Ini Alasannya

Rabu, 29 Juli 2026 - 16:04 WIB

Touring Motor Sumba 600 Km, Ini Syarat Ikutnya

Berita Terbaru

SG Rapper FF Masih Worth It? Cek Atribut dan Cara Klaim

Game

SG Rapper FF Masih Worth It? Cek Atribut dan Cara Klaim

Sabtu, 22 Agu 2026 - 16:09 WIB

Makna Lagu "bERANI" Kunto Aji (Foto: Instagram @tenuedeattire/RRI)

Showbiz

Makna Lagu “bERANI” Kunto Aji dan Pesannya

Sabtu, 22 Agu 2026 - 14:02 WIB

GTA 6 Terbaru Ungkap Lima Fitur Menarik

Game

GTA 6 Terbaru Ungkap Lima Fitur Menarik

Sabtu, 22 Agu 2026 - 12:03 WIB