Belanja Barang Mahal Bikin Lega, Ini Alasannya

Kepuasan setelah membeli barang mahal berkaitan dengan sistem penghargaan otak, emosi, dan kemampuan mengendalikan impuls.

- Jurnalis

Selasa, 11 Agustus 2026 - 11:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Belanja Barang Mahal Bikin Lega, Ini Alasannya (Foto:  Shutterstock/BongkarnGraphic/kompas/Ai)

Belanja Barang Mahal Bikin Lega, Ini Alasannya (Foto: Shutterstock/BongkarnGraphic/kompas/Ai)

Kabarinaja.id Membeli barang mahal ketika kondisi keuangan terbatas bisa menghadirkan perasaan yang bertolak belakang. Ada rasa senang dan lega setelah transaksi, tetapi muncul pula kekhawatiran karena uang yang terpakai.

Fenomena tersebut bukan semata persoalan kemampuan mengatur keuangan. Aktivitas belanja juga melibatkan sistem otak yang mengatur emosi, motivasi, penghargaan, serta kemampuan seseorang mengendalikan keputusan.

Pakar neurosains dr. Rizki Edmi Edison, Ph.D., menjelaskan kepuasan berbelanja berkaitan dengan aktivitas sistem limbik. Bagian otak tersebut berhubungan dengan pemrosesan emosi dan dapat berhadapan dengan fungsi korteks prefrontal yang membantu seseorang berpikir secara rasional.

“Ketika emotional state-nya sangat aktif, pada saat itu otak depan untuk berpikir logisnya jadi turun,” ujar Edmi kepada Kompas.com, Jumat (24/7/2026).

Rasa Senang Sudah Muncul Sebelum Transaksi

Sensasi menyenangkan ketika hendak membeli sesuatu ternyata tidak selalu berasal dari barang yang sudah dimiliki. Proses menunggu, memilih, hingga membayangkan mendapatkan barang tersebut juga dapat memunculkan respons penghargaan di otak.

Psikiater Siloam Hospitals Mampang, dr. Karina Kalani Firdaus, Sp.KJ., menjelaskan dopamin berperan sebagai sinyal yang berkaitan dengan antisipasi terhadap penghargaan.

“Dopamin itu lebih ke sinyal antisipasi dan memprediksi kita akan dapat reward. Makanya orang lebih tinggi rasa senangnya pas saat baru mau beli, pas lagi window shopping,” kata Karina kepada Kompas.com, Senin (27/7/2026).

Menurutnya, rasa puas yang sesungguhnya lebih berkaitan dengan sistem opioid. Karena itu, sensasi senang saat berbelanja tidak selalu bertahan lama setelah barang berhasil diperoleh.

Ketika Otak Mulai Terbiasa

Kepuasan dari aktivitas konsumsi juga dapat mengalami proses adaptasi. Seseorang bisa membutuhkan pengalaman belanja yang lebih besar untuk mendapatkan tingkat kesenangan yang sebelumnya diperoleh dari pembelian sederhana.

Edmi menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan sistem motivasi yang mengejar kepuasan. Jika terus berulang, kemampuan otak untuk melakukan pengendalian rasional dapat semakin melemah.

Baca Juga :  Strategi Vespa Hadapi Perang Fitur, Fokus Gaya Hidup, Bukan Sekadar Spesifikasi

Karina menyebut kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan toleransi pada sistem opioid. Akibatnya, seseorang berpotensi mencari pengalaman belanja yang lebih ekstrem untuk memperoleh sensasi menyenangkan.

Ketika kemampuan mengendalikan dorongan semakin menurun, perilaku belanja dapat berkembang menjadi pola adiktif atau kompulsif.

“Sesuatu menjadi patologis ketika kemampuan kontrol itu semakin menurun dan ia tak lagi bisa menahan impulsnya,” ujar Karina.

Mengapa Belanja Sering Dianggap Sebagai Self-Reward?

Sebagian orang menggunakan istilah self-reward atau retail therapy untuk menjelaskan kebiasaan membeli sesuatu setelah mengalami tekanan. Pembelian tersebut dianggap sebagai bentuk penghargaan kepada diri sendiri setelah melewati situasi yang melelahkan.

Edmi melihat perilaku tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan terhadap harga diri dan pengakuan. Barang tertentu dapat memberikan asosiasi mengenai status, kemampuan, atau pencapaian seseorang.

“Yang dikejar adalah value asosiasi. Mereka membeli sesuatu untuk menunjukkan status atau power-nya kembali,” tutur Edmi.

Pada kondisi tertentu, seseorang bisa merasa bahwa membeli barang mahal merupakan bukti dirinya masih mampu mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sensasi tersebut kemudian memberikan pengalaman psikologis berupa kendali terhadap keadaan.

Namun, efek tersebut tidak otomatis berarti belanja mampu mengatasi stres secara klinis.

Karina mengatakan belum terdapat bukti kuat bahwa aktivitas belanja dapat menurunkan biomarker stres seperti kortisol secara objektif. Menurut dia, efek yang muncul lebih bersifat psikologis dan berlangsung sementara.

Rasa Lega Bisa Berubah Menjadi Penyesalan

Masalah muncul ketika rasa senang setelah berbelanja tidak sebanding dengan konsekuensi keuangan yang harus ditanggung. Euforia dapat berkurang setelah seseorang kembali melihat kondisi saldo atau kebutuhan lain yang belum terpenuhi.

Proses tersebut dapat membuat seseorang mengalami penyesalan setelah membeli barang atau buyer’s remorse. Perasaan itu semakin mungkin muncul ketika pembelian dilakukan secara impulsif.

Baca Juga :  Kim Nam Gil dan Lee Yoo Mi Dipasangkan di Drakor Thriller Baru ‘Nightmare’

Ada pula konflik antara keinginan untuk berhemat dengan keputusan mengeluarkan uang. Karina menjelaskan kondisi tersebut sebagai bentuk disonansi kognitif.

“Term ini digunakan ketika seseorang punya belief yang kontradiktif, di mana tindakan sama nilainya bertabrakan. Itu ambivalensi yang sebenarnya normal,” jelasnya.

Dengan kata lain, seseorang bisa memahami bahwa pengeluaran tersebut tidak diperlukan, tetapi pada saat yang sama tetap merasa pembelian itu memberikan kepuasan.

Jeda 48 Jam Bisa Membantu Mengendalikan Impuls

Mengambil jarak sebelum melakukan pembelian menjadi salah satu cara yang disarankan untuk mengurangi keputusan impulsif.

Edmi menganjurkan aturan 48 jam sebelum seseorang membeli barang tersier atau barang yang bukan kebutuhan utama. Waktu tersebut memberi kesempatan bagi emosi untuk mereda sehingga keputusan dapat dipertimbangkan kembali secara lebih rasional.

“Satu-satunya cara untuk menekan impulsif, hanyalah jarak waktu dan tempat. Kalau dalam waktu 48 jam lupa, artinya memang tidak penting,” kata Edmi.

Ia juga menjelaskan hubungan antara pusat emosi dan memori dalam otak. Amigdala dan hipokampus berada berdekatan sehingga pengalaman yang memiliki muatan emosional dapat lebih mudah melekat dalam ingatan.

Memberikan jeda dapat membantu mengurangi keterikatan antara dorongan emosional dengan keputusan membeli. Setelah beberapa waktu, seseorang bisa menilai kembali apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan.

Karina juga menyarankan agar seseorang memiliki cara lain untuk menghadapi tekanan. Olahraga, bersosialisasi di ruang publik, menjaga kualitas tidur, serta melakukan grounding atau mindfulness dapat menjadi pilihan selama dorongan belanja mulai mereda.

Pada akhirnya, rasa lega setelah membeli sesuatu tidak selalu menunjukkan bahwa keputusan tersebut tepat. Memahami cara emosi dan sistem penghargaan otak bekerja dapat membantu seseorang memberi ruang bagi pertimbangan rasional sebelum mengeluarkan uang. (Wd/*)

Berita Terkait

Sering Pakai High Heels? 5 Latihan Ini Bantu Jaga Kaki
Warna Seprai Ternyata Bisa Memengaruhi Pilihan Kutu Kasur
Mengapa Pink Identik dengan Perempuan? Ini Sejarahnya
Jenis Pilates dan Manfaatnya, Mana yang Cocok untuk Pemula?
Arti Anomali yang Viral di Medsos, Ternyata Ini Maknanya
Bahasa Gaul Anak Muda Bali Makin Populer, Ini Arti “Sing Mebutuh Ci Nok”
Arti TBL hingga KBL yang Viral, Ini Maknanya di Media Sosial
Asal-usul Kata Boti dan Maknanya di Media Sosial
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 11:06 WIB

Sering Pakai High Heels? 5 Latihan Ini Bantu Jaga Kaki

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:05 WIB

Warna Seprai Ternyata Bisa Memengaruhi Pilihan Kutu Kasur

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:06 WIB

Mengapa Pink Identik dengan Perempuan? Ini Sejarahnya

Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:03 WIB

Jenis Pilates dan Manfaatnya, Mana yang Cocok untuk Pemula?

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:07 WIB

Arti Anomali yang Viral di Medsos, Ternyata Ini Maknanya

Berita Terbaru

IdeaFest 2026 (Foto: medcom)

Teknologi

AI Makin Cepat, Mengapa Keterampilan Manusia Tetap Penting?

Minggu, 6 Sep 2026 - 09:05 WIB

Fitur Tersembunyi Google Maps yang Jarang Diketahui (Foto: medcom)

Teknologi

Fitur Tersembunyi Google Maps yang Jarang Diketahui

Minggu, 6 Sep 2026 - 07:04 WIB

Kolase makanan kekinian yang dapat menjadi inspirasi bagi pemula untuk memulai usaha kuliner dari rumah.

Kuliner

10 Ide Jualan Kekinian yang Bisa Dimulai dari Rumah

Sabtu, 5 Sep 2026 - 21:04 WIB

Ilustrasi yang menggambarkan Al-Khawarizmi mempelajari matematika di masa lalu, sementara konsep algoritma berkembang menjadi bagian penting teknologi digital masa kini.

Tokoh

Al-Khawarizmi dan Algoritma yang Mengubah Dunia

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Seorang penjual mempromosikan kaus melalui siaran langsung dengan bantuan kamera dan ring light. (Foto: pegadaian/Ai)

Ekonomi

Cara Jualan di TikTok Shop agar Produk Lebih Mudah Laku

Sabtu, 5 Sep 2026 - 17:06 WIB