Kabarinaja.id – Madu sering digunakan sebagai pemanis alami maupun campuran makanan dan minuman. Namun, cara mengonsumsi madu yang benar tetap perlu diperhatikan karena madu pada dasarnya mengandung gula dalam jumlah tinggi.
Mayo Clinic menyebut madu umumnya aman dikonsumsi orang dewasa dan anak berusia lebih dari satu tahun. Bahan ini juga memiliki sejumlah senyawa yang berpotensi memberikan manfaat tertentu bagi tubuh.
Gunakan sebagai pengganti pemanis
Salah satu cara sederhana menikmati madu adalah menggunakannya sebagai pemanis makanan atau minuman. Madu dapat ditambahkan secukupnya ke dalam teh, oatmeal, yogurt, atau makanan lain.
Namun, penggunaan madu tidak berarti seseorang bebas mengonsumsinya dalam jumlah banyak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan gula alami yang terdapat dalam madu ke dalam kategori free sugars.
Karena itu, madu sebaiknya diposisikan sebagai bagian dari asupan gula harian, bukan sebagai makanan yang dikonsumsi tanpa batas.
Perhatikan jumlah madu yang dikonsumsi
Kandungan gula membuat konsumsi madu tetap perlu dikendalikan. WHO merekomendasikan agar konsumsi free sugars berada di bawah 10 persen dari total energi harian.
WHO juga menyebut pembatasan hingga kurang dari 5 persen dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan. Batas tersebut berlaku secara keseluruhan untuk gula bebas dari berbagai sumber, termasuk madu.
Artinya, seseorang perlu memperhitungkan konsumsi gula dari makanan dan minuman lain ketika menggunakan madu sebagai pemanis.
Tidak harus diminum dengan air hangat
Madu sering dikonsumsi dengan mencampurkannya ke dalam air hangat. Cara tersebut boleh dilakukan, tetapi bukan satu-satunya metode untuk menikmati madu.
Madu juga dapat langsung digunakan sebagai pemanis makanan atau dicampurkan ke berbagai sajian. Yang lebih penting adalah jumlah konsumsinya tetap terkendali.
Untuk orang yang mengonsumsi madu ketika mengalami batuk, Mayo Clinic menyebut satu sendok teh madu dapat membantu meredakan batuk pada kondisi tertentu. Namun, madu bukan pengganti pemeriksaan atau pengobatan ketika keluhan membutuhkan penanganan medis.
Bayi di bawah satu tahun tidak boleh mengonsumsi madu
Hal yang paling penting dalam cara mengonsumsi madu yang benar berkaitan dengan usia. Bayi berusia kurang dari 12 bulan tidak boleh diberikan madu, termasuk dalam makanan, minuman, susu formula, maupun dot.
CDC menjelaskan bahwa madu dapat mengandung spora bakteri penyebab botulisme. Pada bayi, spora tersebut dapat berkembang di saluran pencernaan dan menghasilkan racun yang menyebabkan infant botulism.
Larangan tersebut berlaku meskipun madu diberikan dalam jumlah sangat sedikit. Karena itu, madu sebaiknya baru diperkenalkan setelah anak berusia setidaknya satu tahun.
Madu bukan berarti bebas gula
Anggapan bahwa madu selalu lebih aman daripada gula perlu ditempatkan secara tepat. Madu memang memiliki karakteristik dan komponen berbeda dibandingkan gula meja, tetapi kandungan gulanya tetap harus diperhitungkan.
Mayo Clinic mencatat bahwa madu sebagian besar terdiri dari gula. Karena itu, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan pola makan secara keseluruhan.
Bagi orang yang sedang mengatur konsumsi gula, memperhatikan label makanan dan total asupan harian menjadi langkah yang lebih penting daripada sekadar mengganti gula dengan madu.
Pilih konsumsi yang sesuai kebutuhan
Tidak ada satu waktu khusus yang wajib digunakan semua orang untuk mengonsumsi madu. Madu dapat dimasukkan ke pola makan sesuai kebutuhan, selama porsinya tetap terkendali.
Bila madu digunakan untuk membantu meredakan batuk, manfaatnya juga perlu dipahami secara realistis. Bukti menunjukkan madu dapat membantu mengurangi batuk pada anak usia satu tahun ke atas, sementara manfaatnya pada orang dewasa tidak selalu lebih baik dibandingkan obat batuk lainnya.
Pada akhirnya, cara terbaik menikmati madu adalah menjadikannya bagian kecil dari pola makan seimbang. Konsumsi secukupnya, perhatikan total gula harian, dan jangan pernah memberikan madu kepada bayi yang belum berusia satu tahun. (Wd/*)










