Kabarinaja.id – El Nino 2026 menunjukkan penguatan dan berpeluang menjadi salah satu episode terkuat sejak pencatatan dimulai pada 1950. NOAA memperkirakan fenomena iklim tersebut masih akan meningkat hingga penghujung tahun.
Pembaruan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada 13 Agustus 2026 menunjukkan pemanasan signifikan di Pasifik khatulistiwa. Suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian timur tercatat lebih dari 2 derajat Celsius di atas kondisi rata-rata.
Data tersebut menjadi salah satu indikator yang memperkuat perhatian terhadap perkembangan El Nino. Fenomena ini dapat mengubah pola atmosfer dan memengaruhi kondisi cuaca di berbagai kawasan.
Indikator Pasifik Menunjukkan Pemanasan
Pada Juli 2026, indeks Nino-3.4 tercatat mencapai +1,4 derajat Celsius. Sementara itu, indeks Nino-3 berada di angka +1,7 derajat Celsius dan Nino-1+2 mencapai +2,9 derajat Celsius.
NOAA memperkirakan penguatan masih berlangsung dalam beberapa bulan mendatang. Periode Oktober hingga Desember 2026 menjadi salah satu fase yang mendapat perhatian dalam proyeksi tersebut.
NOAA memperkirakan peluang El Nino mencapai tingkat historis pada periode tersebut mencapai 69 persen. Jika proyeksi itu terealisasi, kekuatannya dapat melampaui sejumlah episode El Nino sejak 1950.
El Nino 2026 Berpeluang Sangat Kuat
Prediksi NOAA juga menunjukkan kemungkinan lebih dari 90 persen El Nino berada pada kategori sangat kuat selama musim gugur dan musim dingin 2026-2027.
Gambaran serupa muncul dalam prediksi eksperimental Geophysical Fluid Dynamics Laboratory (GFDL) NOAA. Model tersebut diperbarui pada 6 Agustus 2026 dan memproyeksikan penguatan hingga musim gugur.
Seluruh 30 anggota ensemble dalam model GFDL memperkirakan puncak kekuatan El Nino dapat bersaing dengan beberapa kejadian terkuat dalam catatan sejarah. Puncaknya diperkirakan terjadi sekitar Oktober hingga Januari.
Dampak Tidak Seragam di Setiap Wilayah
Kekuatan El Nino yang tinggi tidak otomatis menghasilkan dampak serupa di seluruh dunia. NOAA menjelaskan bahwa fenomena yang lebih kuat memang meningkatkan peluang munculnya pola cuaca terkait El Nino.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti setiap wilayah pasti mengalami dampak yang sama. Faktor geografis dan pola atmosfer turut menentukan bagaimana pengaruh El Nino muncul di suatu kawasan.
Karena itu, perkembangan El Nino 2026 perlu dilihat berdasarkan wilayah dan periode waktu. Perubahan kondisi Pasifik menjadi salah satu indikator penting untuk memantau perkembangan cuaca dan iklim.
Memahami Perbedaan El Nino dan La Nina
El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Pasifik tropis bagian tengah dan timur mengalami pemanasan. Perubahan tersebut kemudian dapat memengaruhi sirkulasi atmosfer dan pola cuaca di berbagai belahan dunia.
Kebalikannya adalah La Nina, yang ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tropis. Kedua fenomena tersebut merupakan bagian dari siklus El Nino-Southern Oscillation atau ENSO.
Ketika El Nino maupun La Nina tidak berlangsung, kondisi tersebut disebut ENSO-neutral. Posisi ini menggambarkan keadaan iklim yang berada di antara dua fase tersebut.
Saat ini, NOAA menetapkan status El Nino Advisory. Proyeksi hingga awal 2027 juga masih menunjukkan probabilitas El Nino yang sangat tinggi.
Perkembangan beberapa bulan ke depan akan menentukan seberapa dekat El Nino 2026 dengan tingkat kekuatan historis. Pemantauan berkala tetap diperlukan karena proyeksi iklim dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi laut dan atmosfer. (Wd/*)










