Cara Cek Titik Karhutla di Indonesia lewat SiPongi+ dan BMKG

SiPongi+ dan BMKG menyediakan peta serta informasi hotspot yang bisa dipantau masyarakat melalui internet.

- Jurnalis

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Cara Cek Titik Karhutla di Indonesia lewat SiPongi+ dan BMKG (Foto: sipongi.gakkum.kehutanan.go.id)

Cara Cek Titik Karhutla di Indonesia lewat SiPongi+ dan BMKG (Foto: sipongi.gakkum.kehutanan.go.id)

Kabarinaja.id – Cara cek titik karhutla di Indonesia kini dapat dilakukan secara online melalui platform resmi pemerintah. Masyarakat bisa memanfaatkan SiPongi+ milik Kementerian Kehutanan serta layanan pemantauan hotspot BMKG untuk melihat indikasi titik panas di berbagai wilayah.

Informasi tersebut dapat membantu masyarakat mengenali wilayah yang terindikasi memiliki hotspot. Data juga menjadi salah satu bahan pemantauan awal dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Hotspot Bukan Berarti Pasti Terjadi Kebakaran

Sebelum membaca peta karhutla, masyarakat perlu memahami arti hotspot atau titik panas. Istilah tersebut merujuk pada lokasi yang menunjukkan anomali suhu dibandingkan area di sekitarnya berdasarkan pengamatan satelit.

BMKG menjelaskan bahwa deteksi hotspot menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar. Satelit yang digunakan antara lain NOAA20, S-NPP, TERRA, dan AQUA.

Pengamatan dilakukan pada siang dan malam hari untuk masing-masing satelit. Namun, wilayah yang tertutup awan atau masuk area yang tidak teramati dapat menyebabkan hotspot tidak terdeteksi.

Karena itu, keberadaan satu titik panas sebaiknya dipahami sebagai indikasi anomali panas. Data tersebut tidak dengan sendirinya menjadi bukti bahwa kebakaran telah dipastikan terjadi di lokasi tersebut.

Cara Cek Titik Karhutla di Indonesia lewat SiPongi+

Salah satu sumber yang dapat digunakan adalah SiPongi+, sistem pemantauan karhutla yang dikelola Kementerian Kehutanan. Situs tersebut menyediakan informasi hotspot terkini dan berbagai data terkait kebakaran hutan.

Pada halaman sebaran titik panas, pengguna dapat menyaring data berdasarkan periode, provinsi, satelit, serta tingkat kepercayaan. Data yang tersedia juga dapat diunduh dalam format XLSX, TXT, dan KMZ.

Baca Juga :  Gempa Magnitudo 7,7 Mengguncang Nusa Tenggara Timur

Langkah memantau hotspot di SiPongi+

  1. Buka situs resmi SiPongi+.
  2. Pilih menu Peta Hotspot untuk melihat persebaran titik panas pada peta.
  3. Tentukan periode yang ingin diperiksa sesuai kebutuhan pemantauan.
  4. Pilih provinsi untuk mempersempit wilayah pencarian hotspot.
  5. Tentukan sumber satelit yang ingin digunakan dalam penyaringan data.
  6. Periksa tingkat kepercayaan hotspot yang tersedia pada sistem.
  7. Amati titik panas yang muncul pada peta beserta informasi wilayahnya.

SiPongi+ juga menampilkan kategori tingkat kepercayaan hotspot, yaitu Low, Medium, dan High. Kategori tersebut membantu pengguna membaca tingkat keyakinan sistem terhadap hasil deteksi titik panas.

Bagi pengguna yang membutuhkan data untuk analisis lebih lanjut, SiPongi+ menyediakan fasilitas pengunduhan data. Pilihan tersebut berguna untuk pengolahan informasi di luar halaman peta.

Pantau Hotspot Karhutla Melalui BMKG

Selain SiPongi+, masyarakat dapat menggunakan laman resmi BMKG untuk memantau sebaran titik panas Indonesia. BMKG menyediakan halaman khusus Citra Sebaran Titik Panas (Hotspot) – Indonesia yang menampilkan hasil pengamatan satelit.

Cara melihat titik panas di laman BMKG

Pengguna cukup membuka situs resmi BMKG, kemudian masuk ke bagian Cuaca. Setelah itu, pilih menu Citra Sebaran Titik Panas (Hotspot) – Indonesia untuk melihat informasi terbaru yang tersedia.

BMKG juga menyediakan tampilan hotspot untuk sejumlah wilayah. Informasi tersebut memungkinkan pemantauan dilakukan dengan cakupan yang lebih spesifik sesuai area yang ingin diperiksa.

Baca Juga :  BMKG Akhiri Peringatan Tsunami, Gelombang Terdeteksi di Sejumlah Daerah

Data hotspot BMKG berasal dari pengamatan satelit dengan sensor VIIRS dan MODIS. Sistem tersebut mendeteksi anomali suhu panas yang berbeda dari kondisi lingkungan di sekitarnya.

Mengapa Pemantauan Hotspot Perlu Dilakukan?

Pemantauan titik panas dapat membantu masyarakat memperoleh gambaran awal mengenai wilayah yang memiliki indikasi anomali panas. Informasi tersebut juga dapat digunakan sebagai salah satu bahan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.

SiPongi+ menyediakan data yang lebih beragam untuk pemantauan, mulai dari sebaran hotspot hingga informasi terkait kebakaran hutan dan lahan. Platform tersebut memang dikembangkan untuk menyediakan informasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan pihak terkait dalam upaya pencegahan karhutla.

BMKG juga menyediakan informasi pendukung terkait karhutla, termasuk pemantauan hotspot, citra sebaran asap, serta sejumlah produk cuaca yang berkaitan dengan kondisi kebakaran hutan dan lahan.

Perhatikan Keterbatasan Data Hotspot

Data titik panas sebaiknya tidak digunakan secara tunggal untuk memastikan sebuah lokasi sedang mengalami kebakaran. Kondisi awan dan area yang tidak teramati satelit dapat memengaruhi hasil deteksi hotspot.

Karena itu, informasi dari SiPongi+ dan BMKG lebih tepat digunakan sebagai bahan pemantauan awal. Jika ditemukan indikasi kebakaran, informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan verifikasi melalui sumber resmi terkait.

Dengan dua layanan tersebut, masyarakat memiliki akses yang lebih mudah untuk memantau kondisi hotspot di Indonesia. Pemantauan secara berkala dapat membantu mengenali perubahan situasi dan meningkatkan kesadaran terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan. (Wd/*)

Berita Terkait

31.000 Email Phishing Terungkap, Penipu Manfaatkan Layanan Resmi Microsoft
Harga Spotify Premium Oktober 2026: Ini Perbedaan Tiga Paketnya
Meutya Hafid Ajak Anak Seimbangkan Aktivitas Digital
Mulai 2027, Pensiunan Berpeluang Terima Uang Langsung ke Rekening
Internet Hilang Saat Perjalanan? Google Maps Tetap Bisa Digunakan
Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya
Kebijakan Tinggal Kelas Bisa Berlaku 2027, Ini Penjelasan Mendikdasmen
Kingston Pertahankan 62% Pasar DRAM, AI Jadi Pendorong
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:09 WIB

31.000 Email Phishing Terungkap, Penipu Manfaatkan Layanan Resmi Microsoft

Senin, 12 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Meutya Hafid Ajak Anak Seimbangkan Aktivitas Digital

Minggu, 11 Oktober 2026 - 13:06 WIB

Mulai 2027, Pensiunan Berpeluang Terima Uang Langsung ke Rekening

Jumat, 9 Oktober 2026 - 07:07 WIB

Internet Hilang Saat Perjalanan? Google Maps Tetap Bisa Digunakan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:08 WIB

Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya

Berita Terbaru

Rachel Vennya Buka Suara soal Karhutla Kalimantan (Foto:  Instagram/rachelvennya/medcom)

Showbiz

Rachel Vennya Buka Suara soal Karhutla Kalimantan

Rabu, 14 Okt 2026 - 12:07 WIB

Kombinasi Dinding Polos dan Roster untuk Teras Rumah

Tips & Trik

Kombinasi Dinding Polos dan Roster untuk Teras Rumah

Selasa, 13 Okt 2026 - 09:24 WIB