Kabarinaja.id – Nilai tukar mata uang terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan. CNBC Indonesia merangkum daftar 10 mata uang dengan nilai terendah terhadap dolar AS berdasarkan jumlah unit mata uang lokal yang di butuhkan untuk memperoleh US$1.
Semakin besar nominal yang di perlukan untuk di tukar dengan satu dolar AS, maka semakin rendah nilai mata uang tersebut terhadap greenback. Meski begitu, kurs yang tinggi tidak selalu menandakan kondisi ekonomi sebuah negara berada dalam situasi paling buruk.
Faktor seperti inflasi jangka panjang, kebijakan moneter, kondisi geopolitik, hingga sejarah redenominasi mata uang ikut memengaruhi besar kecilnya nilai tukar sebuah negara terhadap dolar AS.
Rial Iran Jadi Mata Uang Paling Rendah
Dalam daftar tersebut, rial Iran menempati posisi pertama sebagai mata uang dengan nilai tukar terendah terhadap dolar AS. Untuk memperoleh US$1, dibutuhkan sekitar 1.318.130 rial Iran.
Kondisi itu di pengaruhi tekanan ekonomi berkepanjangan yang di alami Iran dalam beberapa tahun terakhir, termasuk sanksi internasional dan tingginya inflasi domestik yang berdampak pada pelemahan nilai mata uang negara tersebut.
Di posisi berikutnya terdapat pound Lebanon dengan nilai tukar sekitar 89.500 per US$1. Krisis ekonomi dan keuangan yang melanda Lebanon dalam beberapa tahun terakhir membuat nilai mata uang negara itu merosot tajam.
Sementara itu, dong Vietnam berada di posisi ketiga dengan kurs sekitar 26.350 per dolar AS. Di susul leone Sierra Leone sebesar 22.683 per US$1 dan kip Laos di kisaran 21.808 per dolar AS.
Rupiah Masuk Enam Besar
Rupiah juga masuk dalam daftar mata uang dengan nilai terendah terhadap dolar AS. Saat ini, kurs rupiah berada di sekitar Rp17.460 per US$1 dan menempatkan Indonesia di posisi keenam dalam daftar tersebut.
Meski begitu, sejumlah ekonom menilai posisi rupiah tidak bisa langsung di samakan dengan negara yang mengalami krisis ekonomi berat. Nilai tukar rupiah di pengaruhi berbagai faktor global, mulai dari penguatan dolar AS, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, hingga dinamika pasar keuangan internasional.
Dalam beberapa periode terakhir, tekanan terhadap mata uang negara berkembang memang meningkat seiring ketidakpastian ekonomi global dan arus modal asing yang bergerak lebih cepat ke aset dolar AS.
Bank Indonesia sendiri terus melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah agar tetap terkendali, termasuk intervensi pasar valas dan penguatan instrumen moneter domestik.
Daftar 10 Mata Uang Nilai Terendah
Setelah rupiah, daftar berikutnya di isi oleh som Uzbekistan dengan kurs sekitar 12.072 per US$1. Kemudian ada franc Guinea sebesar 8.735 per dolar AS, guarani Paraguay sekitar 6.081 per dolar AS, dan ariary Madagaskar sebesar 4.158 per US$1.
Pengamat ekonomi menilai daftar tersebut lebih mencerminkan nilai nominal kurs dibanding kekuatan ekonomi secara keseluruhan. Beberapa negara dengan kurs tinggi tetap memiliki pertumbuhan ekonomi stabil karena struktur ekonomi domestik yang kuat dan tingkat daya beli masyarakat yang berbeda.
Karena itu, nilai tukar mata uang sebaiknya tidak di lihat hanya dari besar kecilnya angka terhadap dolar AS, melainkan juga mempertimbangkan inflasi, cadangan devisa, stabilitas ekonomi, serta kemampuan negara menjaga pertumbuhan jangka panjang.(Tim)









