Kabarinaja.id – Nilai tukar rupiah menutup perdagangan pekan kedua Mei dengan rapor merah. Data Bloomberg pada Jumat (15/5) menunjukkan mata uang garuda terkoreksi 67,50 poin atau 0,39 persen, terparkir di posisi Rp 17.596 per dolar AS. Angka ini memicu alarm bagi sektor riil, meskipun pemerintah mencoba meredam kepanikan publik.
Presiden Prabowo Subianto memberikan perspektif berbeda saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Sabtu (16/5). Ia meyakini fondasi ekonomi masyarakat arus bawah masih kokoh. Menurutnya, aktivitas ekonomi di pedesaan tidak bersentuhan langsung dengan denominasi dolar AS sehingga efeknya tidak seketika melumpuhkan.
“Rakyat di desa tidak bertransaksi memakai dolar,” tegas Prabowo. Ia menekankan bahwa ketahanan pangan dan energi nasional tetap terjaga di tengah kepanikan global. Keyakinan pemerintah berpijak pada stabilitas domestik yang di anggap masih mampu meredam guncangan eksternal.
Dilema Pengusaha: Margin Menipis, Ekspansi Tertahan
Ketenangan di level kebijakan belum sepenuhnya dirasakan pelaku industri. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, melihat tren ini bukan sekadar fluktuasi jangka pendek. Kenaikan yield US Treasury dan ketegangan geopolitik global memaksa modal keluar dari pasar negara berkembang menuju aset berbasis dolar.
Bagi dunia usaha, ini adalah hantaman pada struktur biaya. Industri manufaktur Indonesia berada dalam posisi rentan karena 70 persen kebutuhan bahan baku masih bergantung pada impor. Mengingat komponen bahan baku menyumbang 55 persen dari total biaya produksi, setiap penurunan nilai rupiah secara otomatis mendongkrak biaya modal.
Tekanan ini kian berat karena daya beli masyarakat belum pulih total. Perusahaan sulit menaikkan harga jual secara drastis. Akibatnya, pelaku usaha terpaksa menyerap lonjakan biaya tersebut, yang kemudian menggerus margin keuntungan. Langkah pahit seperti membatasi ekspansi hingga menunda penyerapan tenaga kerja baru kini menjadi pilihan rasional untuk menjaga arus kas.
Risiko Rp 18.000 dan Beban Subsidi Energi
Analisis lebih tajam datang dari pengamat pasar, Ibrahim Assuaibi. Ia memperingatkan adanya potensi rupiah menembus level psikologis baru di angka Rp 18.000 pada Mei ini. Jika batas tersebut terlampaui, risiko pergerakan menuju Rp 22.000 bukan lagi sekadar isapan jempol.
Konflik di Selat Hormuz menjadi pemicu utama. Eskalasi di wilayah tersebut mengerek harga minyak mentah dunia sekaligus memperkasa indeks dolar. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak adalah pedang bermata dua. Sebagai negara importir minyak sekitar 1,5 juta barel per hari, kebutuhan akan dolar untuk mengamankan stok BBM dan subsidi energi meningkat tajam.
Sekitar 85 persen minyak impor dialokasikan untuk subsidi. Kondisi ini menciptakan permintaan dolar yang masif di pasar domestik, yang secara mekanis terus menekan posisi rupiah.
Langkah Praktis bagi Pembaca
Menghadapi ketidakpastian kurs ini, masyarakat dan pelaku UMKM perlu melakukan langkah mitigasi mandiri:
-
Prioritaskan Produk Lokal: Mengurangi konsumsi barang impor akan membantu menekan permintaan valuta asing secara kolektif.
-
Efisiensi Biaya: Bagi pengusaha kecil, tinjau kembali rantai pasok dan cari substitusi bahan baku lokal untuk menjaga stabilitas harga jual.
-
Waspada Inflasi: Pelemahan rupiah biasanya diikuti kenaikan harga barang elektronik dan otomotif. Tunda pembelian barang impor non-primer hingga situasi mereda.
(Wd/*)









