Kabarinaja.id – Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Kurs dolar AS kini berada di kisaran Rp17.600 dan menjadi salah satu level tertinggi dalam sejarah perdagangan rupiah. Situasi tersebut di perkirakan akan berdampak langsung pada kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dalam waktu dekat.
Tekanan terhadap rupiah di nilai belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kondisi ini membuat biaya impor semakin mahal, sementara Indonesia masih bergantung pada pasokan luar negeri untuk sejumlah bahan baku industri hingga kebutuhan konsumsi harian.
Ekonom Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, mengatakan pelemahan mata uang domestik berpotensi memicu imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor. Menurutnya, dampak tersebut perlahan akan di rasakan masyarakat melalui lonjakan harga barang di pasar.
Ia menjelaskan, mahalnya dolar membuat biaya distribusi dan ongkos produksi ikut meningkat. Beban itu kemudian diteruskan ke harga jual barang yang di konsumsi masyarakat sehari-hari.
“Karena banyak bahan baku dan barang konsumsi masih mengandalkan impor, tekanan harga kemungkinan akan mulai terlihat dalam beberapa bulan ke depan,” ujarnya, belum lama ini.
Harga Plastik hingga Produk Kemasan Diprediksi Ikut Naik
Salah satu sektor yang mulai merasakan dampak pelemahan rupiah adalah industri plastik. Harga bahan baku di sebut mengalami kenaikan karena pasokan impor semakin mahal dan distribusi menjadi lebih berat.
Kondisi tersebut tidak bisa di anggap sepele. Plastik menjadi komponen penting dalam banyak produk rumah tangga, mulai dari kemasan makanan, minyak goreng, minuman, hingga kebutuhan industri lainnya. Ketika harga bahan baku naik, produsen berpotensi menyesuaikan harga jual ke konsumen.
Nailul Huda menilai efek pelemahan rupiah akan menjalar ke banyak sektor secara bertahap. Bukan hanya pengusaha besar, pedagang kecil seperti penjual gorengan hingga pelaku UMKM juga di perkirakan terkena dampaknya akibat naiknya biaya operasional.
Di sisi lain, masyarakat berpenghasilan rendah menjadi kelompok yang paling rentan. Kenaikan harga kebutuhan harian biasanya lebih cepat terasa pada pengeluaran rumah tangga, terutama untuk makanan dan barang konsumsi rutin.
Indonesia Masih Bergantung pada Barang Impor
Pandangan serupa disampaikan Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Ia mengingatkan bahwa Indonesia masih mengimpor berbagai komoditas penting seperti gandum, kedelai, bawang putih, susu, bahan baku obat, hingga kebutuhan industri manufaktur.
Ketika kurs dolar menguat, biaya masuk barang-barang tersebut otomatis meningkat. Dampaknya memang tidak selalu terasa seketika, namun perlahan akan tercermin pada harga barang di tingkat konsumen.
“Pengaruhnya akan merembet ke harga makanan, obat-obatan, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lain,” kata Yusuf.
Tekanan kurs juga berisiko memengaruhi daya beli masyarakat apabila kenaikan harga tidak di imbangi pertumbuhan pendapatan. Situasi ini membuat pelaku usaha harus lebih berhati-hati mengatur biaya produksi, sementara pemerintah di harapkan mampu menjaga stabilitas harga pangan dan pasokan barang impor strategis.
Sejumlah ekonom menilai penguatan sektor produksi dalam negeri menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan impor. Dengan begitu, gejolak nilai tukar tidak terlalu mudah mengguncang harga kebutuhan masyarakat saat dolar AS mengalami penguatan tajam.(Tim)









