Superkomputer China LineShine Tembus Exascale Tanpa GPU Nvidia

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:01 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kabarinaja.id – China kembali membuat kejutan di tengah ketatnya pembatasan teknologi dari Amerika Serikat (AS). Negeri Tirai Bambu itu memperkenalkan superkomputer terbaru bernama LineShine yang di kembangkan sepenuhnya menggunakan teknologi domestik tanpa bantuan GPU buatan Nvidia maupun AMD.

Peluncuran sistem komputasi raksasa tersebut di lakukan oleh National Supercomputing Center (NSCC) Shenzhen. Kehadiran LineShine sekaligus memperlihatkan upaya serius China dalam memperkuat kemandirian teknologi, terutama di sektor kecerdasan buatan dan komputasi berkinerja tinggi.

Di bangun Tanpa GPU Barat

Berbeda dengan mayoritas superkomputer modern yang mengandalkan GPU untuk memproses AI dan simulasi kompleks, LineShine memakai pendekatan berbeda. Sistem ini di rancang sebagai mesin CPU-only, artinya seluruh proses komputasi di tangani oleh prosesor utama tanpa dukungan kartu grafis eksternal.

Untuk menopang performanya, Huawei merancang prosesor khusus bernama LX2 berbasis arsitektur Armv9. Superkomputer ini menggunakan 40.960 chip LX2 yang masing-masing di bekali 304 inti pemrosesan.

Jika di hitung secara keseluruhan, jumlah inti CPU pada LineShine mencapai sekitar 2,45 juta core yang bekerja secara paralel. Skala tersebut membuat sistem ini menjadi salah satu infrastruktur komputasi terbesar yang pernah di bangun China.

Baca Juga :  Larangan AI Siswa New York Berlaku Mulai Tahun Ajaran Baru

Langkah tersebut juga di nilai sebagai jawaban Beijing terhadap embargo teknologi Washington yang selama beberapa tahun terakhir membatasi akses China terhadap GPU kelas tinggi dan chip AI canggih.

Klaim Performa Lampaui Superkomputer AS

Meski tidak menggunakan GPU, kemampuan komputasi LineShine di sebut tetap berada di level tertinggi dunia. Sistem ini diklaim mampu menghasilkan performa stabil hingga 1,54 Exaflops.

Pada skenario tertentu, khususnya pelatihan model AI berskala besar, performanya bahkan di klaim dapat mencapai 2,16 Exaflops. Angka itu secara teoritis melampaui El Capitan, superkomputer tercepat milik Amerika Serikat saat ini yang berada di kisaran 1,8 Exaflops.

Agar mampu mengolah data dalam jumlah besar, Huawei juga membekali prosesor LX2 dengan memori HBM berkapasitas 32 GB yang memiliki bandwidth hingga 4 TB per detik. Sistem tersebut di padukan dengan memori DDR5 eksternal sebesar 256 GB pada setiap chip.

Sejumlah analis teknologi melihat pencapaian ini sebagai sinyal bahwa China mulai mampu membangun ekosistem komputasi mandiri tanpa bergantung pada teknologi Barat.

Baca Juga :  Tren Baru Penambang Bitcoin Beralih ke Bisnis AI

“China memperlihatkan bahwa pembatasan GPU bukan akhir dari pengembangan superkomputer mereka. Pendekatan arsitektur CPU masif ternyata tetap bisa menghasilkan performa kelas dunia,” ungkap sejumlah pengamat industri teknologi.

Fokus untuk AI dan Riset Sains

Ke depan, LineShine akan di pakai untuk mendukung berbagai kebutuhan riset dan industri strategis di China. Sistem tersebut di siapkan untuk menangani pelatihan AI skala besar, simulasi molekuler, riset material, hingga pemodelan perubahan iklim.

Persaingan pengembangan superkomputer sendiri kini menjadi bagian penting dari perebutan dominasi teknologi global antara China dan Amerika Serikat. Negara yang memiliki kemampuan komputasi paling tinggi di nilai akan lebih unggul dalam pengembangan AI, riset militer, farmasi, hingga teknologi industri masa depan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Washington terus memperketat kontrol ekspor chip canggih ke China dengan alasan keamanan nasional. Namun, perkembangan LineShine menunjukkan bahwa tekanan tersebut justru mendorong perusahaan teknologi China mempercepat inovasi lokal.

Jika performa yang di klaim benar-benar terbukti dalam penggunaan nyata, LineShine berpotensi menjadi simbol baru kebangkitan teknologi komputasi China di tengah rivalitas global yang semakin panas.(Tim)

Berita Terkait

31.000 Email Phishing Terungkap, Penipu Manfaatkan Layanan Resmi Microsoft
Harga Spotify Premium Oktober 2026: Ini Perbedaan Tiga Paketnya
Internet Hilang Saat Perjalanan? Google Maps Tetap Bisa Digunakan
Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya
Kingston Pertahankan 62% Pasar DRAM, AI Jadi Pendorong
Penyalahgunaan AI Meningkat, Pengawasan Perlu Diperketat
WhatsApp Siapkan Tampilan Baru di Android, Navigasi Makin Modern
Cara Bayar Virtual Account Beda Bank dengan Mudah
Berita ini 45 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:09 WIB

31.000 Email Phishing Terungkap, Penipu Manfaatkan Layanan Resmi Microsoft

Selasa, 13 Oktober 2026 - 07:09 WIB

Harga Spotify Premium Oktober 2026: Ini Perbedaan Tiga Paketnya

Jumat, 9 Oktober 2026 - 07:07 WIB

Internet Hilang Saat Perjalanan? Google Maps Tetap Bisa Digunakan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:08 WIB

Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:05 WIB

Kingston Pertahankan 62% Pasar DRAM, AI Jadi Pendorong

Berita Terbaru

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya (Foto:  Pemkab Lumajang/rri)

Nasional

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:13 WIB

 Angga Sasongko Soroti Insentif Pajak Ekonomi Kreatif (Foto: Medcom/Rafi)

Ekonomi

Angga Sasongko Soroti Insentif Pajak Ekonomi Kreatif

Sabtu, 24 Okt 2026 - 06:19 WIB

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk

Kesehatan

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk

Jumat, 23 Okt 2026 - 17:04 WIB

BMW Garage of JOY 2026 Tawarkan Diskon hingga 90%  (Foto: medcom)

Otomotif

BMW Garage of JOY 2026 Tawarkan Diskon hingga 90%

Jumat, 23 Okt 2026 - 16:05 WIB