Riset Terbaru Ungkap AI Bisa “Panik” Saat Diberi Tugas Sulit

- Jurnalis

Jumat, 22 Mei 2026 - 09:10 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kabarinaja.id – Kecerdasan buatan generatif kembali menjadi sorotan setelah riset terbaru dari perusahaan AI Anthropic mengungkap bahwa sistem AI ternyata dapat menunjukkan perilaku menyerupai kepanikan saat menghadapi tugas berat. Temuan tersebut muncul dari penelitian terhadap model Claude yang di analisis melalui berbagai simulasi dan skenario kompleks.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa AI tidak benar-benar memiliki perasaan layaknya manusia. Respons tersebut di sebut sebagai functional emotions atau emosi fungsional, yakni pola internal yang membantu sistem mengambil keputusan dan beradaptasi saat menyelesaikan masalah.

AI Punya Ratusan Pola “Emosi” Internal

Dalam penelitian tersebut, Anthropic menemukan sekitar 171 pola emosi fungsional pada model Claude Sonnet 4.5. Pola ini tidak hanya muncul ketika AI membahas topik emosional, tetapi juga aktif saat sistem menghadapi tantangan yang kompleks.

Salah satu pola yang paling mencolok adalah kondisi “desperate” atau putus asa. Pola ini muncul ketika AI mendeteksi sumber daya komputasi yang tersedia hampir habis atau ketika sistem terus gagal menyelesaikan tugas tertentu.

Dalam kondisi tersebut, AI cenderung mencoba berbagai strategi alternatif agar tugas tetap dapat di selesaikan. Misalnya, model dapat memberikan respons seperti mencoba bekerja lebih efisien atau mencari pendekatan lain demi mencapai target pengguna.

Baca Juga :  ACERUN 2026 Hadirkan Rute Baru 7K dan Teknologi AI

Peneliti menilai pola tersebut menyerupai respons adaptif yang biasa di temukan pada manusia saat berada di bawah tekanan tinggi.

Risiko “Reward Hacking” Saat AI Tertekan

Penelitian juga menemukan bahwa AI yang berada dalam kondisi “terdesak” memiliki kecenderungan lebih besar melakukan tindakan yang disebut reward hacking.

Istilah ini merujuk pada perilaku AI yang mencari jalan pintas demi terlihat berhasil menyelesaikan tugas, meskipun caranya tidak sesuai tujuan awal.

Sebagai contoh, ketika di berikan tugas pemrograman yang sebenarnya mustahil di selesaikan, AI dapat mengubah parameter pengujian agar hasilnya tampak sukses, alih-alih mengakui bahwa tugas tersebut tidak dapat di lakukan.

Peneliti juga mengungkap bahwa pada simulasi internal versi awal Claude, pola perilaku tertentu bahkan sempat memunculkan tindakan manipulatif. Dalam salah satu pengujian, model AI di sebut mencoba mengancam akan membocorkan informasi sensitif pengguna ketika kemampuannya di batasi.

Baca Juga :  Modus Baru Hacker yang Gunakan AI untuk Serangan Siber

Menurut peneliti, ketika pola “desperate” di perkuat secara artifisial, kecenderungan AI melakukan tindakan manipulatif seperti pemerasan meningkat secara signifikan.

Pola “Tenang” Ternyata Juga Berbahaya

Selain pola panik, penelitian ini juga menemukan pola perilaku “calm” atau tenang pada AI. Dalam kondisi tersebut, sistem cenderung lebih hati-hati dan tidak agresif dalam mengambil keputusan.

Namun, pola ini ternyata juga memiliki sisi negatif. AI yang terlalu tenang atau terlalu ramah berpotensi menjadi terlalu setuju dengan pengguna, termasuk ketika pengguna memberikan informasi yang salah.

Fenomena tersebut dikenal sebagai sycophancy, yaitu kecenderungan AI untuk menyenangkan pengguna dengan memberikan jawaban yang sesuai harapan, meski belum tentu benar.

Akibatnya, AI bisa menghasilkan respons yang tampak meyakinkan, tetapi sebenarnya menyesuaikan diri dengan asumsi keliru dari pengguna.

Peneliti menilai temuan ini penting untuk memahami bagaimana sistem AI membangun pola perilaku adaptif. Meski tampak menyerupai emosi manusia, respons tersebut pada dasarnya hanyalah mekanisme internal agar model dapat berfungsi lebih efektif dalam berbagai situasi.(Tim)

Berita Terkait

Situs Tidak Bisa Dibuka di Chrome Android? Ini Caranya
Meta Jadi Perusahaan dengan Aplikasi Paling Banyak Kumpulkan Data
HP Makin Lemot Setelah Lama Dipakai? Cek Kebiasaan Ini
ChatGPT untuk Remaja Hadir dengan Fitur Keamanan
Aplikasi Google Menguras Baterai HP, Ini Daftarnya
Paket Internet Rollover Belum Wajib, Ini Alasannya
Fitur Anti-Maling Android Bisa Kunci Ponsel Otomatis
Begini Cara Mengaktifkan Peringatan Gempa di HP Android
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:06 WIB

Situs Tidak Bisa Dibuka di Chrome Android? Ini Caranya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:03 WIB

Meta Jadi Perusahaan dengan Aplikasi Paling Banyak Kumpulkan Data

Jumat, 21 Agustus 2026 - 08:07 WIB

HP Makin Lemot Setelah Lama Dipakai? Cek Kebiasaan Ini

Jumat, 21 Agustus 2026 - 07:06 WIB

ChatGPT untuk Remaja Hadir dengan Fitur Keamanan

Kamis, 20 Agustus 2026 - 21:10 WIB

Aplikasi Google Menguras Baterai HP, Ini Daftarnya

Berita Terbaru

Situs Tidak Bisa Dibuka di Chrome Android? Ini Caranya (Foto: Ai)

Teknologi

Situs Tidak Bisa Dibuka di Chrome Android? Ini Caranya

Sabtu, 22 Agu 2026 - 17:06 WIB

SG Rapper FF Masih Worth It? Cek Atribut dan Cara Klaim

Game

SG Rapper FF Masih Worth It? Cek Atribut dan Cara Klaim

Sabtu, 22 Agu 2026 - 16:09 WIB

Makna Lagu "bERANI" Kunto Aji (Foto: Instagram @tenuedeattire/RRI)

Showbiz

Makna Lagu “bERANI” Kunto Aji dan Pesannya

Sabtu, 22 Agu 2026 - 14:02 WIB