China Produksi 470 Drama AI Setiap Hari, Industri Dracin Berubah Total

pavicon

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026 - 11:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabarinaja.idIndustri drama pendek China saat ini tengah mengalami perubahan besar. Jika beberapa tahun lalu proses produksi masih melibatkan aktor, kameramen, penata cahaya, hingga tim efek visual, kini sebagian besar pekerjaan tersebut mulai di gantikan oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Perubahan itu terlihat dari munculnya serial berjudul Carrying the Dragon King’s Baby. Sekilas, tayangan tersebut tampak seperti drama fantasi biasa yang beredar di platform video pendek. Namun ketika di perhatikan lebih detail, gerakan karakter dan visualnya menyerupai perpaduan film digital dengan adegan video game.

Dalam salah satu cuplikan, seorang perempuan muda terlihat di lempar ke atas tempat tidur oleh pria bertubuh besar. Sesaat kemudian muncul tanaman merambat menyerupai api yang menyatu dengan tubuh perempuan tersebut hingga memunculkan tato naga di dadanya. Seluruh adegan itu ternyata di buat sepenuhnya menggunakan AI tanpa keterlibatan aktor manusia maupun kru produksi konvensional.

Fenomena tersebut menandai babak baru industri hiburan digital China yang kini berlomba memanfaatkan AI generatif demi memangkas biaya dan mempercepat produksi konten.

Dracin Jadi Mesin Uang Baru

Drama pendek China mulai populer sejak 2018. Formatnya di buat khusus untuk konsumsi pengguna smartphone dengan durasi episode sangat singkat, rata-rata hanya satu hingga dua menit.

Cerita yang di angkat biasanya sederhana namun penuh konflik emosional, mulai dari balas dendam, perebutan cinta, hingga hubungan penuh intrik. Pola itu sengaja di pertahankan karena di anggap efektif membuat penonton terus menonton episode berikutnya.

Ledakan popularitas dracin semakin terasa setelah promosi besar-besaran di lakukan melalui TikTok, Instagram, hingga Facebook. Potongan adegan dramatis di pakai sebagai “umpan” agar pengguna tertarik berlangganan aplikasi.

Nilai bisnis industri ini pun melonjak tajam. Pada 2024, pasar drama pendek China di sebut mencapai 6,9 miliar dollar AS dan untuk pertama kalinya melampaui pendapatan film bioskop tahunan di negara tersebut.

Baca Juga :  Meta Pangkas 8.000 Pekerja demi Otomatisasi AI, Organisasi Dirombak Total

Perusahaan-perusahaan dracin China kini mulai agresif berekspansi ke pasar global. Amerika Serikat menjadi salah satu pasar terbesar dengan kontribusi hampir separuh pendapatan internasional industri mikrodrama.

Firma riset Omdia memperkirakan nilai pasar drama pendek dunia pada 2026 bisa menyentuh 14 miliar dollar AS. Angka itu menunjukkan bahwa format hiburan singkat berbasis mobile masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar.

Produksi Makin Cepat dan Murah Berkat AI

Teknologi AI menjadi faktor utama yang mendorong ledakan produksi dracin. Pada Januari 2026, rata-rata sekitar 470 judul drama AI di laporkan di rilis setiap hari di China.

Platform drama seperti FlexTV bahkan mulai meninggalkan proses syuting tradisional dan beralih sepenuhnya ke produksi berbasis AI.

Wakil Presiden FlexTV, Tang Tang, menyebut industri hiburan China bergerak sangat cepat dan menuntut pengembalian modal dalam waktu singkat. Serial yang gagal menghasilkan keuntungan dalam satu bulan di anggap tidak layak di teruskan.

Sebelum AI digunakan secara luas, satu proyek drama membutuhkan waktu produksi sekitar tiga hingga empat bulan. Biaya produksinya di pasar Amerika Utara bahkan bisa mencapai 200.000 dollar AS.

Kini proses tersebut dapat di pangkas menjadi kurang dari satu bulan dengan efisiensi biaya hingga 90 persen. AI mampu membuat karakter, latar, efek visual, hingga animasi hanya dari instruksi teks yang di masukkan operator.

Bos Kunlun Tech, Han “Daniel” Fang, menilai perkembangan ini berkaitan dengan perubahan pola konsumsi masyarakat modern. Durasi perhatian pengguna internet yang semakin pendek membuat format drama singkat di nilai paling cocok di padukan dengan AI.

Kru Produksi Mulai Tergusur

Efisiensi besar-besaran yang di tawarkan AI membawa dampak serius terhadap pekerja industri kreatif tradisional.

Banyak rumah produksi mulai mengurangi kebutuhan kru kamera, editor visual, penata rias, hingga teknisi pencahayaan. Tim produksi kini cukup diisi produser, penulis naskah, operator AI, dan profesi baru bernama Kurator Aset AI.

Baca Juga :  MacBook Neo Resmi Tersedia di Gerai iBox Seluruh Indonesia, Varian 512GB Paling Diburu

Kurator ini bertugas menerjemahkan naskah menjadi prompt atau instruksi teks agar dapat di pahami sistem AI. Mereka juga membuat referensi karakter, kostum, serta desain adegan menggunakan generator visual seperti Nano Banana milik Google, Seedance dari ByteDance, dan Kling buatan Kuaishou.

Tekanan juga dirasakan para penulis naskah. Banyak penulis mengaku tenggat kerja mereka semakin sempit sementara bayaran terus turun sejak AI mulai mengambil alih sebagian proses produksi.

Kini penulis tidak cukup hanya membuat dialog dan alur cerita. Mereka juga harus mendeskripsikan detail visual secara rinci agar mesin AI mampu menghasilkan adegan sesuai keinginan.

Kalimat sederhana seperti “dia menatap dengan dingin” kini perlu diubah menjadi deskripsi lebih detail, misalnya “cahaya dingin memancar dari sorot matanya”, agar AI dapat menerjemahkannya menjadi visual video.

Perubahan ini membuat banyak pekerja kreatif mulai khawatir terhadap masa depan profesi mereka. Di sisi lain, perusahaan teknologi justru melihat AI sebagai solusi untuk mempercepat produksi dan menekan pengeluaran.

Industri Hiburan yang Semakin Di gendalikan Data

Dracin selama ini memang di kenal mengandalkan formula cerita yang mudah di tebak. Tema cinta segitiga, balas dendam keluarga, hingga hubungan penuh konflik terus di pakai karena terbukti efektif menarik perhatian penonton.

Mantan mitra Legend Capital, Shangguan Hong, menilai AI justru memperkuat pola industri tersebut. Menurutnya, industri drama pendek sejak awal memang lebih berfokus pada data dan perilaku penonton di banding mengejar kualitas artistik tingkat tinggi.

Setiap respons penonton di analisis secara real-time, mulai dari durasi menonton, adegan yang paling sering diputar ulang, hingga momen ketika pengguna berhenti menonton. Data tersebut kemudian di pakai untuk menentukan formula cerita berikutnya.

Karena itulah, AI di anggap sangat cocok untuk industri mikrodrama yang membutuhkan produksi cepat, murah, dan mampu mengikuti tren pasar dalam waktu singkat.(Tim)

Berita Terkait

MacBook Neo Resmi Tersedia di Gerai iBox Seluruh Indonesia, Varian 512GB Paling Diburu
Edit Video Otomatis Lewat Chat, CapCut Segera Terintegrasi dengan Google Gemini AI
Riset Terbaru Ungkap AI Bisa “Panik” Saat Diberi Tugas Sulit
Kolaborasi Samsung dan Google Rilis Kacamata AI Premium Musim Gugur 2026
Meta Pangkas 8.000 Pekerja demi Otomatisasi AI, Organisasi Dirombak Total
Fosil Dinosaurus Raksasa Ditemukan, Dijuluki Titan Terakhir Asia Tenggara
Cara Melacak Lokasi Seseorang Lewat Nomor HP dengan Mudah
Superkomputer China LineShine Tembus Exascale Tanpa GPU Nvidia
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 18:11 WIB

MacBook Neo Resmi Tersedia di Gerai iBox Seluruh Indonesia, Varian 512GB Paling Diburu

Jumat, 22 Mei 2026 - 09:10 WIB

Riset Terbaru Ungkap AI Bisa “Panik” Saat Diberi Tugas Sulit

Kamis, 21 Mei 2026 - 19:28 WIB

Kolaborasi Samsung dan Google Rilis Kacamata AI Premium Musim Gugur 2026

Kamis, 21 Mei 2026 - 17:58 WIB

Meta Pangkas 8.000 Pekerja demi Otomatisasi AI, Organisasi Dirombak Total

Rabu, 20 Mei 2026 - 19:53 WIB

Fosil Dinosaurus Raksasa Ditemukan, Dijuluki Titan Terakhir Asia Tenggara

Berita Terbaru