Kabarinaja.id – Harga cabai rawit merah kembali kembali mengalami kenaikan yang signifikan. Memasuki pertengahan Mei 2026, cabai rawit merah menjadi komoditas dengan lonjakan harga paling tinggi di pasar eceran nasional. Berdasarkan data terbaru Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang di kelola Bank Indonesia, harga cabai rawit merah kini menyentuh Rp71.400 per kilogram pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Angka tersebut melonjak sekitar 9,26 persen di banding harga sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp65.350 per kilogram. Kenaikan ini membuat cabai rawit merah kembali menjadi sorotan di tengah fluktuasi harga bahan pangan pokok dalam beberapa pekan terakhir.
Harga Sejumlah Jenis Cabai Ikut Bergerak
Tak hanya cabai rawit merah, beberapa jenis cabai lain juga mengalami penyesuaian harga. Cabai merah besar tercatat naik menjadi Rp55.200 per kilogram dari sebelumnya Rp52.400 per kilogram. Sementara cabai merah keriting bergerak tipis ke level Rp50.450 per kilogram.
Berbeda dengan dua komoditas tersebut, cabai rawit hijau justru mengalami penurunan harga. Saat ini, komoditas itu di jual sekitar Rp48.100 per kilogram atau turun sekitar 2,63 persen di banding harga sebelumnya.
Kondisi kenaikan harga cabai sebenarnya sudah mulai terlihat sejak akhir April lalu. Perubahan cuaca yang tidak menentu membuat produksi di sejumlah sentra pertanian terganggu. Curah hujan tinggi di sebut memicu serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang berdampak langsung pada kualitas dan jumlah panen petani.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa menjelaskan cuaca masih menjadi tantangan utama dalam menjaga stabilitas produksi cabai rawit merah di berbagai wilayah.
Ia menyebut gangguan hama saat musim hujan membuat distribusi pasokan sempat terhambat. Meski begitu, pemerintah memastikan stok nasional masih berada dalam kondisi aman sehingga kenaikan harga di perkirakan tidak berlangsung terlalu lama.
Jumlah Daerah Terdampak Mulai Menurun
Bapanas mencatat tekanan harga cabai perlahan mulai mereda di banding periode sebelumnya. Hal tersebut terlihat dari berkurangnya jumlah kabupaten dan kota yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) cabai rawit.
Pada minggu pertama Mei 2026, jumlah wilayah terdampak tercatat sebanyak 91 daerah. Angka itu turun di banding minggu ketiga April lalu yang mencapai 127 daerah.
Penurunan jumlah wilayah terdampak menjadi sinyal positif terhadap upaya stabilisasi pasokan pangan nasional. Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga terus melakukan pemantauan distribusi agar harga di tingkat konsumen tidak melonjak terlalu tinggi.
Di sisi lain, fluktuasi harga cabai memang menjadi fenomena yang hampir rutin terjadi setiap tahun, terutama saat musim hujan atau menjelang momen tertentu seperti hari besar keagamaan. Faktor produksi yang sangat bergantung pada cuaca membuat komoditas hortikultura lebih rentan mengalami gejolak harga di banding bahan pangan lain.
Harga Bawang, Beras, dan Minyak Goreng Relatif Stabil
Sementara harga cabai naik, sejumlah komoditas pangan lain justru menunjukkan tren yang lebih stabil. Harga bawang putih tercatat berada di level Rp38.750 per kilogram, sedangkan bawang merah dijual sekitar Rp46.200 per kilogram.
Untuk komoditas beras, harga medium I berada di kisaran Rp15.850 per kilogram dan medium II Rp15.550 per kilogram. Adapun beras kualitas super I di patok Rp16.850 per kilogram, sedangkan super II sekitar Rp16.400 per kilogram.
Harga protein hewani juga tidak mengalami perubahan signifikan. Daging ayam ras di jual sekitar Rp40.400 per kilogram, sementara daging sapi kualitas I mencapai Rp143.850 per kilogram.
Komoditas kebutuhan rumah tangga lainnya seperti gula pasir premium tercatat Rp19.950 per kilogram dan telur ayam ras berada di level Rp30.300 per kilogram. Untuk minyak goreng curah, harga masih bertahan di kisaran Rp20.700 per liter.
Pengamat pangan menilai stabilitas sejumlah bahan pokok menjadi faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga cabai. Pasalnya, cabai termasuk komoditas yang memiliki pengaruh besar terhadap pengeluaran rumah tangga dan inflasi pangan nasional.(Tim)









