Mesin Tik Proklamasi Ternyata Bukan Milik Laksamana Maeda

Mesin tik yang dipakai Sayuti Melik pada 17 Agustus 1945 ternyata berasal dari kantor militer Jerman di Jakarta.

- Jurnalis

Kamis, 27 Agustus 2026 - 14:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Replika mesin tik yang digunakan oleh Sayuti Melik untuk mengetik naskah Proklamasi (Foto: Kompas.com/ Suci Wulandari Putri)

Replika mesin tik yang digunakan oleh Sayuti Melik untuk mengetik naskah Proklamasi (Foto: Kompas.com/ Suci Wulandari Putri)

Kabarinaja.id – Mesin tik naskah Proklamasi yang digunakan Sayuti Melik pada 17 Agustus 1945 ternyata bukan milik Laksamana Tadashi Maeda. Alat tersebut dipinjam dari kantor militer Jerman di Jakarta menjelang pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Fakta itu terungkap dari penelusuran sejarah di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta Pusat. Museum tersebut menempati bekas rumah Maeda, tempat para tokoh bangsa menyusun rumusan Proklamasi.

Pemandu museum, Karisa, menjelaskan bahwa mesin tik yang digunakan malam itu berbeda dengan mesin tik yang tersedia di rumah Maeda.

“Mesin tik ini punya kedutaan Jerman, dulu kantornya di dekat sini,” kata Karisa kepada Kompas.com pada Minggu (3/8/2025) yang lalu.

Mengapa Mesin Tik Harus Didatangkan dari Tempat Lain?

Masalahnya muncul ketika konsep tulisan tangan Soekarno harus segera diketik ulang. Mesin tik yang tersedia di rumah Maeda menggunakan huruf kanji sehingga tidak dapat digunakan untuk mengetik teks berbahasa Indonesia.

Kondisi tersebut membuat Sayuti Melik membutuhkan mesin tik dengan huruf Latin. Pembantu Maeda, Satzuki Mishima, kemudian mengambil inisiatif untuk mencari perangkat yang sesuai.

Baca Juga :  Suku Kerinci: Sejarah, Budaya Matrilineal, dan Aksara Incung

Menurut buku 17 Fakta Mencengangkan di Balik Kemerdekaan Indonesia karya Hendri F. Isnaeni (2015), Mishima meminjam mesin tik tersebut dari kantor militer Jerman.

Mishima kemudian mengendarai jeep menuju kantor militer Jerman. Di sana, ia bertemu Mayor Kandelar, seorang perwira Angkatan Laut Jerman pada masa Nazi.

Mesin tik dengan huruf Latin itu akhirnya dipinjamkan kepada Mishima. Perangkat tersebut lalu dibawa kembali ke rumah Maeda untuk digunakan dalam proses pengetikan naskah Proklamasi.

Sayuti Melik Mengetik Ulang Konsep Soekarno

Setelah rumusan Proklamasi selesai, Soekarno menyerahkan konsep tulisan tangan kepada Sayuti Melik untuk diketik ulang. Peristiwa tersebut berlangsung di tengah kesibukan para tokoh yang berada di rumah Maeda.

Dalam buku Hendri F. Isnaeni, kesaksian mengenai proses tersebut juga dikaitkan dengan BM Diah. Ia menyebut Soekarno memanggil Sayuti Melik sambil menunjukkan selembar kertas berisi konsep Proklamasi.

Sayuti kemudian menuju meja tulis yang dilengkapi mesin tik. Dari sanalah teks tulisan tangan Soekarno diubah menjadi naskah ketikan yang kemudian dikenal sebagai naskah Proklamasi.

Baca Juga :  Cek Penerima PIP 2026: Cara Mudah Pastikan Bantuan Cair

Keberadaan mesin tik itu menjadi bagian penting dari rangkaian peristiwa yang berlangsung beberapa jam sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Jejak Mesin Tik Asli Belum Diketahui

Meski perannya tercatat dalam sejarah, keberadaan mesin tik yang digunakan Sayuti Melik kini belum diketahui secara pasti. Museum Perumusan Naskah Proklamasi hanya menampilkan replika, bukan perangkat asli yang digunakan pada malam tersebut.

Karisa menjelaskan, ada kemungkinan mesin tik itu dikembalikan ke kantor militer Jerman setelah proses pengetikan selesai. Namun, tidak terdapat informasi pasti mengenai keberadaan perangkat tersebut setelah dikembalikan.

“Yang ada di museum sekarang hanyalah replika. Mesin tik aslinya kemungkinan besar dikembalikan lagi ke kantor militer Jerman setelah digunakan,” jelas Karisa.

Jejak sederhana sebuah mesin tik itu memperlihatkan bahwa proses menuju Proklamasi berlangsung melalui berbagai peran. Selain para tokoh yang merumuskan teks, ada pula orang-orang di belakang layar yang membantu memastikan naskah tersebut dapat disiapkan tepat waktu. (Wd/*)

Berita Terkait

Meutya Hafid Ajak Anak Seimbangkan Aktivitas Digital
Mulai 2027, Pensiunan Berpeluang Terima Uang Langsung ke Rekening
Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya
Kebijakan Tinggal Kelas Bisa Berlaku 2027, Ini Penjelasan Mendikdasmen
Biaya Haji 2027 Turun, Ini Besaran Pelunasan Jemaah
Cara Konfirmasi Data ASN yang Tidak Sesuai di MyASN
Pengangkatan Bangkai KM Virgo Ditargetkan Mulai Oktober 2026
Perencanaan Kekayaan Anak Perlu Dimulai Sejak Dini
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Meutya Hafid Ajak Anak Seimbangkan Aktivitas Digital

Minggu, 11 Oktober 2026 - 13:06 WIB

Mulai 2027, Pensiunan Berpeluang Terima Uang Langsung ke Rekening

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:08 WIB

Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:01 WIB

Kebijakan Tinggal Kelas Bisa Berlaku 2027, Ini Penjelasan Mendikdasmen

Kamis, 8 Oktober 2026 - 11:54 WIB

Biaya Haji 2027 Turun, Ini Besaran Pelunasan Jemaah

Berita Terbaru

Rachel Vennya Buka Suara soal Karhutla Kalimantan (Foto:  Instagram/rachelvennya/medcom)

Showbiz

Rachel Vennya Buka Suara soal Karhutla Kalimantan

Rabu, 14 Okt 2026 - 12:07 WIB

Kombinasi Dinding Polos dan Roster untuk Teras Rumah

Tips & Trik

Kombinasi Dinding Polos dan Roster untuk Teras Rumah

Selasa, 13 Okt 2026 - 09:24 WIB