Asal-usul Kata Boti dan Maknanya di Media Sosial

Istilah “boti” mengalami perubahan bentuk dan makna setelah menyebar luas melalui media sosial.

- Jurnalis

Senin, 24 Agustus 2026 - 13:04 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Asal-usul Kata Boti dan Maknanya di Media Sosial (Foto:  Ilustrasi Ai)

Asal-usul Kata Boti dan Maknanya di Media Sosial (Foto: Ilustrasi Ai)

Kabarinaja.id Istilah boti semakin sering muncul dalam percakapan digital Indonesia. Kata tersebut dapat ditemukan dalam komentar media sosial, meme, hingga obrolan sehari-hari, termasuk ketika pengguna membahas laki-laki yang dianggap memiliki perilaku feminin.

Popularitasnya membuat boti berkembang menjadi bagian dari bahasa informal yang dikenal luas. Namun, di balik penggunaannya sebagai istilah pergaulan, kata tersebut memiliki sejarah pembentukan dan konteks sosial yang lebih kompleks.

Ahli bahasa dari Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, Dr. Mahmud Fasya, M.A., menjelaskan bahwa boti merupakan kata tunggal atau monomorfemis dalam bahasa Indonesia. Artinya, kata tersebut tidak dapat lagi dipecah menjadi morfem yang lebih kecil.

Asal-usul kata boti dari bahasa Inggris

Menurut Mahmud, istilah boti secara etimologis dipahami sebagai bentuk adaptasi dari kata bahasa Inggris, bottom. Dalam komunitas LGBTQ+, kata tersebut memiliki makna yang berkaitan dengan peran tertentu dalam relasi seksual.

Istilah itu kemudian mengalami perubahan ketika masuk dan digunakan dalam bahasa Indonesia. Proses tersebut tidak berlangsung dalam bentuk penerjemahan langsung, melainkan melalui pemendekan sekaligus penyesuaian bunyi.

Mahmud menyampaikan penjelasan tersebut pada Kamis, 9 Juli 2026.

“Dalam proses adaptasinya ke dalam bahasa Indonesia, bentuk tersebut mengalami pemendekan dan penyesuaian fonologis sehingga menjadi boti. Perubahan bentuk ini mencerminkan gejala penyerapan kosakata asing yang lazim terjadi dalam bahasa gaul Indonesia, yaitu melalui penyederhanaan pelafalan agar lebih mudah diucapkan dan lebih sesuai dengan pola fonologi bahasa Indonesia,” ujarnya.

Fenomena semacam itu menunjukkan bagaimana bahasa gaul dapat menyerap istilah asing, lalu mengubah bentuknya agar lebih mudah digunakan dalam komunikasi sehari-hari.

Dari istilah komunitas menjadi bahasa populer

Penyebaran boti tidak berhenti pada kelompok yang mengenal istilah tersebut sejak awal. Seiring waktu, kata ini masuk ke ruang komunikasi yang lebih luas dan mulai digunakan berbagai lapisan masyarakat.

Remaja hingga figur publik turut menggunakan istilah tersebut. Dalam sejumlah percakapan digital, boti bahkan digunakan sekadar sebagai bahasa gaul atau bahan candaan tanpa pemahaman mengenai konteks awalnya.

Baca Juga :  7 Terminal Bandara Terindah di Dunia 2026

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa sebuah kata dapat memperoleh fungsi baru ketika berpindah dari satu lingkungan sosial ke lingkungan lainnya.

Media sosial menjadi salah satu ruang utama yang mempercepat proses tersebut. Video pendek, meme, serta kolom komentar memungkinkan istilah tertentu dikenal banyak orang dalam waktu relatif singkat.

Ketika kata berubah menjadi label sosial

Mahmud menilai penggunaan boti tidak cukup dilihat sebagai persoalan kosakata. Menurutnya, pilihan bahasa juga berhubungan dengan cara masyarakat membentuk pandangan terhadap identitas, gender, serta perbedaan.

Ia menggunakan pemikiran Norman Fairclough mengenai bahasa sebagai praktik sosial. Dalam perspektif tersebut, bahasa tidak berdiri sendiri karena penggunaannya berkaitan dengan nilai, ideologi, kepentingan, dan relasi kekuasaan dalam masyarakat.

Karena itu, penyebutan seseorang dengan istilah tertentu dapat memiliki konsekuensi lebih jauh daripada sekadar memberikan gambaran mengenai orang tersebut.

“Dalam konteks penggunaan kata ‘boti’, perspektif Fairclough membantu menjelaskan bahwa penyebutan seseorang sebagai ‘boti’ tidak sekadar memberikan informasi mengenai orang yang dibicarakan. Sebaliknya, pelabelan itu juga dapat menjadi tindakan sosial yang mengonstruksi identitas seseorang berdasarkan norma maskulinitas yang dominan,” kata Mahmud.

Jika sebuah label terus digunakan dalam percakapan digital maupun konten hiburan, istilah tersebut berpotensi dianggap sebagai sesuatu yang lazim. Pada tahap itu, bahasa ikut memengaruhi persepsi mengenai kelompok atau perilaku yang dianggap sesuai maupun berbeda dari norma sosial.

“Padahal, bahasa sedang bekerja membentuk cara berpikir kolektif mengenai siapa yang dianggap ‘normal’ dan siapa yang ditempatkan sebagai ‘tidak normal atau berbeda’,” tuturnya.

Media sosial mempercepat perubahan makna

Selain Fairclough, Mahmud mengaitkan fenomena tersebut dengan konsep symbolic power dari Pierre Bourdieu. Dalam konteks ini, pemberian label dapat menjadi bentuk kekuasaan simbolik yang memengaruhi posisi seseorang di lingkungan sosial.

Penggunaan boti, menurut dia, dapat memperlihatkan bagaimana label bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Istilah tersebut tidak selalu dipakai untuk menggambarkan seseorang secara netral, tetapi dapat menjadi penilaian terhadap individu yang dianggap tidak sesuai dengan standar maskulinitas yang berlaku.

Baca Juga :  Wajah Seseorang Tak Boleh Dipakai Sembarangan untuk Konten

Dari sinilah sebuah istilah dapat berfungsi sebagai penguat stereotipe. Penggunaannya berulang kali juga dapat memengaruhi cara lingkungan memperlakukan orang yang mendapatkan label tersebut.

Kecepatan media sosial membuat perubahan semacam ini semakin mudah terjadi.

“Media sosial mempercepat proses tersebut. Sebuah istilah yang awalnya dikenal dalam lingkup komunitas tertentu dapat menyebar secara masif hanya dalam hitungan hari melalui meme, video pendek, komentar, dan berbagai bentuk komunikasi digital lainnya. Dalam proses penyebaran itu, makna asli sering kali memudar dan digantikan oleh makna baru yang dibentuk oleh pengguna mayoritas,” ujar Mahmud.

Mengapa konteks penggunaan bahasa penting?

Perjalanan kata boti memperlihatkan bahwa perubahan bahasa berjalan beriringan dengan perubahan masyarakat. Sebuah istilah bisa berpindah lingkungan, memperoleh pengguna baru, lalu mengalami pergeseran fungsi dan pemaknaan.

Mahmud karena itu menekankan pentingnya literasi berbahasa di tengah komunikasi digital yang bergerak cepat. Menurutnya, memahami sebuah istilah tidak cukup dengan mengetahui arti leksikalnya, tetapi juga perlu melihat dampak sosial dari penggunaannya.

“Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan bahasa tidak pernah terlepas dari perubahan masyarakat. Setiap kali sebuah kata dipakai untuk menilai, mengejek, atau menggolongkan seseorang, sesungguhnya masyarakat sedang membangun realitas sosial melalui bahasa,” katanya.

Ia menambahkan bahwa perkembangan bahasa tetap merupakan bagian alami dari dinamika masyarakat. Namun, penggunaan istilah tertentu tetap membutuhkan kesadaran terhadap konteks dan dampaknya kepada orang lain.

“Bahasa memang terus berkembang, tetapi perkembangan itu seharusnya diiringi dengan tanggung jawab sosial. Sebuah istilah dapat menjadi sarana keakraban ketika digunakan dalam komunitas yang memaknainya secara positif, tetapi dapat pula menjadi sumber stigma ketika digunakan untuk memberi label atau merendahkan orang lain,” ujar Mahmud.

Dengan demikian, perjalanan kata boti tidak semata-mata menggambarkan munculnya sebuah istilah dalam bahasa gaul. Fenomena tersebut juga menunjukkan bagaimana bahasa, budaya, media sosial, dan kekuasaan dapat saling berhubungan dalam membentuk cara masyarakat memahami identitas serta perbedaan. (Wd/*)

Berita Terkait

Arti TBL hingga KBL yang Viral, Ini Maknanya di Media Sosial
Arti Orang Have dan Bahasa Gaul Gen Z yang Viral
Belanja Barang Mahal Bikin Lega, Ini Alasannya
Sering Cemas Saat Jauh dari HP? Kenali Nomophobia
Wajah Seseorang Tak Boleh Dipakai Sembarangan untuk Konten
Arti Plenger, Bahasa Gaul Viral di Media Sosial
Kata-Kata Afirmasi Positif Pagi Hari agar Lebih Semangat dan Percaya Diri
Tren Global 2026 Berubah Drastis, AI Otonom hingga Gaya Hidup Autentik Makin Dominan
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 14:05 WIB

Arti TBL hingga KBL yang Viral, Ini Maknanya di Media Sosial

Senin, 24 Agustus 2026 - 13:04 WIB

Asal-usul Kata Boti dan Maknanya di Media Sosial

Senin, 24 Agustus 2026 - 12:03 WIB

Arti Orang Have dan Bahasa Gaul Gen Z yang Viral

Selasa, 11 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Belanja Barang Mahal Bikin Lega, Ini Alasannya

Selasa, 11 Agustus 2026 - 10:08 WIB

Sering Cemas Saat Jauh dari HP? Kenali Nomophobia

Berita Terbaru

Arti TBL hingga KBL yang Viral, Ini Maknanya di Media Sosial (Foto:  ILustrasi Ai)

Lifestyle

Arti TBL hingga KBL yang Viral, Ini Maknanya di Media Sosial

Senin, 24 Agu 2026 - 14:05 WIB

Asal-usul Kata Boti dan Maknanya di Media Sosial (Foto:  Ilustrasi Ai)

Lifestyle

Asal-usul Kata Boti dan Maknanya di Media Sosial

Senin, 24 Agu 2026 - 13:04 WIB

Arti Orang Have dan Bahasa Gaul Gen Z yang Viral (Foto: Ilustrasi Ai/wolipop)

Lifestyle

Arti Orang Have dan Bahasa Gaul Gen Z yang Viral

Senin, 24 Agu 2026 - 12:03 WIB

Miss Universe 2025 Fátima Bosch  (Foto: dok. Instagram @fatimaboschfdz/wolipop)

Showbiz

Miss Universe 2025 Fátima Bosch Terancam Ditangkap

Senin, 24 Agu 2026 - 11:04 WIB

Mekyla Li (Foto: Instagram Mekyla Li/cnnbrasil)

Showbiz

Mekyla Li Dicopot dari Miss Grand USA 2026, Ini Penyebabnya

Senin, 24 Agu 2026 - 09:32 WIB