Kabarinaja.id – Pasar kerja Indonesia menghadapi tantangan dalam menyerap lulusan perguruan tinggi. Data LPEM FEB UI menunjukkan sejumlah bidang studi memiliki proporsi penganggur cukup besar.
Temuan tersebut tercantum dalam Labor Market Brief Volume 7 Nomor 7 yang diterbitkan pada Juli 2026. Laporan berjudul “Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?” ditulis Muhammad Hanri, Ph.D., dan Nia Kurnia Sholihah, M.E.
Analisis tersebut menggunakan data Sakernas Agustus 2025. Peneliti mengkaji kemampuan pasar kerja menyerap lulusan pendidikan tinggi ketika akses pendidikan terus diperluas.
Tingkat Pengangguran Lulusan S1 Meningkat
Data menunjukkan tingkat pengangguran terbuka atau TPT penduduk berpendidikan minimal S1 mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir.
TPT kelompok tersebut berada pada 5,98 persen pada 2021. Angkanya kemudian turun menjadi 4,80 persen pada 2022 sebelum kembali meningkat dalam tiga tahun berikutnya.
Pada 2023, TPT lulusan minimal S1 mencapai 5,18 persen. Angka tersebut naik menjadi 5,25 persen pada 2024 dan kembali meningkat menjadi 5,39 persen pada 2025.
Menurut penulis laporan, angka 2021 kemungkinan masih dipengaruhi gangguan pasar kerja akibat pandemi Covid-19. Karena itu, perkembangan setelah 2022 menjadi perhatian dalam melihat kondisi pasar kerja yang lebih normal.
Manajemen Jadi Bidang Studi dengan Proporsi Terbesar
Berdasarkan bidang studi pendidikan terakhir, Manajemen menjadi jurusan dengan proporsi terbesar di antara penduduk berpendidikan minimal S1 yang menganggur.
Berikut enam bidang studi dengan proporsi terbesar:
- Manajemen: 10,3 persen
- Hukum: 9,0 persen
- Ekonomi: 8,7 persen
- Pendidikan: 7,1 persen
- Akuntansi: 5,1 persen
- Ilmu Komputer atau Informatika: 4,6 persen
Keenam bidang tersebut secara keseluruhan mencakup sekitar 40 persen dari penduduk berpendidikan minimal S1 yang menganggur.
LPEM FEB UI melihat adanya pola pada daftar tersebut. Sebagian besar bidang studi memiliki cakupan keilmuan luas dan menghasilkan lulusan dalam jumlah besar.
Manajemen menjadi salah satu contohnya. Bidang tersebut mencakup pengelolaan organisasi, pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, aset, hingga berbagai kegiatan industri.
Banyak Lulusan, Persaingan Masuk Kerja Ketat
Besarnya jumlah lulusan dari rumpun bisnis membuat persaingan untuk memperoleh pekerjaan awal menjadi lebih kompleks.
Lulusan Manajemen, Akuntansi, dan bidang bisnis lainnya dapat memasuki banyak sektor. Pilihannya antara lain administrasi, pemasaran, perbankan, keuangan, sumber daya manusia, hingga pengelolaan usaha.
Namun, banyaknya pilihan pekerjaan tidak otomatis membuat proses rekrutmen menjadi lebih mudah. Untuk posisi awal yang bersifat umum, lulusan rumpun bisnis juga berhadapan dengan kandidat dari Ekonomi, Hukum, Komunikasi, serta ilmu sosial lainnya.
Situasi serupa dapat ditemukan pada lulusan Hukum dan Ekonomi. Keduanya mempunyai jalur karier yang relatif jelas, tetapi sebagian lulusan akhirnya bekerja pada bidang yang tidak sepenuhnya berkaitan dengan pendidikan mereka.
Bidang Pendidikan Dipengaruhi Formasi dan Kebutuhan Daerah
Bidang Pendidikan juga masuk dalam enam besar berdasarkan proporsi penganggur berpendidikan minimal S1.
Cakupan bidang ini cukup luas, mulai dari pendidikan guru, bahasa, ekonomi, sains, hingga pendidikan vokasi. Kondisi tersebut membuat karakteristik pasar kerjanya tidak seragam.
Proses lulusan Pendidikan memasuki dunia kerja dapat dipengaruhi pola rekrutmen guru dan jumlah formasi yang tersedia. Kebutuhan sekolah di setiap wilayah serta persyaratan profesi juga turut menentukan peluang penyerapan tenaga kerja.
Karena itu, jumlah lulusan yang besar tidak selalu sejalan dengan ketersediaan posisi pekerjaan pada waktu yang sama.
Lulusan Informatika Juga Menghadapi Tantangan
Ilmu Komputer atau Informatika selama ini kerap dipandang sebagai salah satu bidang dengan prospek kerja kuat. Namun, data LPEM FEB UI menunjukkan bidang tersebut tetap masuk daftar enam besar dengan proporsi penganggur terbesar.
Proporsinya mencapai 4,6 persen. Angka itu memang paling rendah dibandingkan lima bidang lain dalam daftar, tetapi menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga digital belum otomatis menjamin seluruh lulusan langsung mendapatkan pekerjaan.
LPEM FEB UI menilai bidang teknologi memiliki cakupan program yang sangat beragam. Perubahan kebutuhan industri, perbedaan kualitas pendidikan, kemampuan praktis, pengalaman kerja, dan teknologi yang digunakan perusahaan dapat memengaruhi proses rekrutmen.
Dengan demikian, gelar di bidang teknologi tidak menjadi satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang memasuki industri.
Tantangan Serupa Terlihat di Amerika Serikat
Persoalan transisi dari perguruan tinggi menuju dunia kerja juga terjadi di Amerika Serikat.
Federal Reserve Bank of New York menganalisis 73 bidang studi menggunakan data Biro Sensus 2024. Analisis tersebut secara khusus melihat tingkat pengangguran lulusan baru berusia 22 hingga 27 tahun dengan gelar sarjana atau lebih tinggi.
Sejumlah jurusan yang berkaitan dengan seni tercatat memiliki tingkat pengangguran relatif tinggi. Antropologi bahkan berada di posisi teratas dengan tingkat pengangguran hampir 8 persen.
Pendidikan Anak Usia Dini juga termasuk kelompok dengan tingkat pengangguran tinggi. Namun, beberapa bidang pendidikan lainnya justru mencatat tingkat pengangguran yang relatif rendah.
Perbedaan Kondisi Tiap Jurusan
Kepala ekonom Glassdoor, Daniel Zhao, menilai daftar tersebut menunjukkan bahwa persoalan pengangguran lulusan baru tidak hanya terjadi pada satu kelompok keilmuan.
Menurut Zhao, beberapa bidang memang mempunyai pasar kerja yang lebih terbatas. Namun, terdapat pula bidang seperti teknik komputer dan ilmu komputer yang menawarkan peluang pekerjaan dengan tingkat penghasilan tinggi.
Ia juga menyoroti fenomena pengangguran terselubung. Kondisi tersebut menggambarkan lulusan yang bekerja pada pekerjaan yang pada umumnya tidak membutuhkan gelar sarjana.
Lulusan teknik komputer dan ilmu komputer memiliki tingkat pengangguran terselubung di bawah 20 persen. Sementara itu, angka tersebut mencapai lebih dari 50 persen pada lulusan antropologi, seni rupa, dan seni pertunjukan.
Perbedaan tersebut turut berkaitan dengan kemampuan lulusan menunggu pekerjaan yang sesuai. Lulusan teknologi dapat memiliki insentif lebih besar untuk menunggu karena pekerjaan di sektor tersebut cenderung menawarkan penghasilan lebih tinggi.
Pasar Kerja AS Makin Menantang bagi Fresh Graduate
Tantangan lulusan baru di Amerika Serikat berlangsung ketika aktivitas perekrutan mengalami perlambatan.
Pertumbuhan lapangan kerja tahunan AS tercatat berada pada level terendah sejak 2003 di luar periode resesi. Pada saat yang sama, tingkat PHK tidak mengalami kenaikan tajam dan tingkat pengangguran keseluruhan masih relatif rendah.
Masalah utamanya berada pada aktivitas perekrutan yang melemah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Situasi tersebut membuat lulusan baru harus menghadapi persaingan lebih ketat karena mereka belum memiliki pengalaman kerja yang panjang.
Tingkat pengangguran lulusan baru perguruan tinggi mencapai 5,6 persen pada Desember. Angka tersebut meningkat dibandingkan 4,8 persen pada awal 2025.
Riset Goldman Sachs menilai rendahnya perekrutan yang berlangsung bersamaan dengan rendahnya PHK kemungkinan ikut mendorong kenaikan pengangguran pekerja muda.
Pendidikan Tinggi dan Kesiapan Pasar Kerja
Data Indonesia dan Amerika Serikat memperlihatkan bahwa gelar perguruan tinggi tidak selalu menjamin transisi cepat menuju pekerjaan.
Besarnya jumlah lulusan, kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri, pengalaman kerja, serta ketersediaan posisi menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi proses tersebut.
Bagi Indonesia, temuan LPEM FEB UI menjadi relevan ketika pemerintah memperluas akses pendidikan tinggi melalui rencana pendirian universitas baru. Perluasan akses pendidikan perlu berjalan seiring dengan kesiapan pasar kerja agar peningkatan jumlah lulusan dapat diikuti peluang kerja yang memadai.
Persoalan tersebut pada akhirnya bukan sekadar mengenai jurusan mana yang memiliki pengangguran lebih tinggi. Tantangannya juga terletak pada kemampuan pendidikan tinggi menyiapkan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. (Wd/*)










