Google Berencana Lepas 32 Juta Nyamuk Steril di Amerika Serikat

- Jurnalis

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:17 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Google Berencana Lepas 32 Juta Nyamuk Steril di Amerika Serikat (Foto: Ai)

Google Berencana Lepas 32 Juta Nyamuk Steril di Amerika Serikat (Foto: Ai)

Kabarinaja.id – Raksasa teknologi Google mengambil langkah tidak biasa dalam sektor kesehatan masyarakat dengan mengajukan izin pelepasan hingga 32 juta nyamuk jantan steril di wilayah California dan Florida. Proyek ambisius ini dirancang untuk berjalan selama dua tahun ke depan guna menekan populasi serangga pembawa virus berbahaya.

Melalui dokumen resmi yang kini tengah di tinjau oleh Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), Google mengusulkan pelepasan hingga 16 juta nyamuk setiap tahunnya. Langkah ini menjadi bagian dari program bertajuk “Debug”, sebuah inisiatif global yang memanfaatkan integrasi teknologi untuk mengendalikan penyebaran penyakit mematikan seperti demam berdarah dengue, Zika, chikungunya, demam kuning, hingga virus West Nile. Saat ini, permohonan tersebut masih berada dalam fase evaluasi dan menunggu hasil masa konsultasi publik sebelum EPA menerbitkan izin eksperimen resmi.

Mekanisme proyek ini mengandalkan pendekatan biologis yang matang. Google membiakkan nyamuk jantan yang telah di suntik dengan bakteri alami bernama Wolbachia. Ketika nyamuk jantan steril ini kawin dengan nyamuk betina liar di alam bebas, telur-telur yang di hasilkan di pastikan gagal menetas. Pola tersebut secara bertahap akan memangkas populasi serangga dari generasi ke generasi berikutnya.

Baca Juga :  Meta Kehilangan 20 Juta Akun Aktif, Pengguna Facebook dan WhatsApp Turun

Masyarakat tidak perlu khawatir digigit, sebab program ini hanya menyasar nyamuk jantan yang secara biologis tidak mengisap darah manusia maupun menyebarkan penyakit. Pada fase awal di Amerika Serikat, target utama proyek di fokuskan pada spesies Aedes aegypti. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), spesies ini menempati posisi sebagai salah satu vektor penyakit paling berbahaya di kawasan tropis dan subtropis.

Keunggulan utama program Debug terletak pada otomatisasi proses pembiakan. Google menggunakan kombinasi analitik data, sensor otomatis, serta teknologi computer vision berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menyortir jenis kelamin nyamuk dengan akurasi tinggi. Sistem canggih tersebut juga mampu memetakan lokasi geografis secara presisi dan menentukan jumlah sebaran yang optimal agar target penurunan populasi tercapai secara efektif.

Baca Juga :  YouTube Rilis 3 Fitur Premium Baru, Tantang Dominasi Spotify

Skema ini telah terbukti sukses dalam skala internasional. Sebelum menyasar Amerika Serikat, Google telah menguji coba program serupa di Singapura bersama National Environment Agency setempat. Hasil pemantauan berkala menunjukkan bahwa pelepasan nyamuk ber-Wolbachia berhasil melumpuhkan populasi Aedes aegypti hingga 80-90 persen di area uji coba. Penurunan tersebut berdampak langsung pada merosotnya kasus demam berdarah hingga lebih dari 70 persen dalam kurun waktu enam sampai 12 bulan.

Inovasi biologi ini hadir sebagai solusi jangka panjang di tengah mandeknya metode konvensional. Penggunaan pestisida kimia secara masif selama ini dinilai kurang efektif karena memicu resistansi pada tubuh nyamuk. Faktor geografis perkotaan yang padat juga menyulitkan petugas kesehatan untuk memusnahkan seluruh sarang jentik secara manual. Jika EPA memberikan lampu hijau, langkah Google ini akan tercatat sebagai salah satu proyek intervensi kesehatan berbasis teknologi terbesar di Amerika Serikat. (Wd/*)

Berita Terkait

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk
34 Juta Orang Sudah Periksa Mata, 1,6 Juta Terindikasi Gangguan Penglihatan
3 Manfaat dan Cara Mengolah Kulit Ubi Jalar
31.000 Email Phishing Terungkap, Penipu Manfaatkan Layanan Resmi Microsoft
Harga Spotify Premium Oktober 2026: Ini Perbedaan Tiga Paketnya
Sering Cari Gejala Penyakit di Google? Coba Cek Kesehatan Gratis
Internet Hilang Saat Perjalanan? Google Maps Tetap Bisa Digunakan
Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:04 WIB

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:09 WIB

34 Juta Orang Sudah Periksa Mata, 1,6 Juta Terindikasi Gangguan Penglihatan

Minggu, 18 Oktober 2026 - 18:49 WIB

3 Manfaat dan Cara Mengolah Kulit Ubi Jalar

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:09 WIB

31.000 Email Phishing Terungkap, Penipu Manfaatkan Layanan Resmi Microsoft

Selasa, 13 Oktober 2026 - 07:09 WIB

Harga Spotify Premium Oktober 2026: Ini Perbedaan Tiga Paketnya

Berita Terbaru

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya (Foto:  Pemkab Lumajang/rri)

Nasional

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:13 WIB

 Angga Sasongko Soroti Insentif Pajak Ekonomi Kreatif (Foto: Medcom/Rafi)

Ekonomi

Angga Sasongko Soroti Insentif Pajak Ekonomi Kreatif

Sabtu, 24 Okt 2026 - 06:19 WIB

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk

Kesehatan

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk

Jumat, 23 Okt 2026 - 17:04 WIB