Meta Bakar Rp248 Triliun demi AI, Investor Masih Skeptis

- Jurnalis

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

CEO Meta Mark Zuckerberg (Foto: Facebook Mark Zuckerberg/detik)

CEO Meta Mark Zuckerberg (Foto: Facebook Mark Zuckerberg/detik)

Kabarinaja.id – Meta Platforms Inc. harus menghadapi kenyataan pahit setelah menggelontorkan dana fantastis sebesar USD 14,3 miliar atau sekitar Rp248 triliun untuk mengejar ketertinggalan di sektor kecerdasan buatan (AI). Setahun pasca-perekrutan Alexandr Wang dan tim insinyur Scale AI untuk menakhodai Meta Superintelligence Labs, raksasa media sosial ini masih berjuang keras menarik minat pengguna berbayar serta meyakinkan para investor Wall Street.

Langkah masif tersebut membuahkan hasil awal berupa peluncuran model AI terbaru bernama Muse Spark pada April lalu. Kini, CEO Meta Mark Zuckerberg memikul tanggung jawab besar untuk mengubah inovasi teknologi tersebut menjadi mesin pendapatan baru yang menguntungkan bagi perusahaan.

Analis dari William Blair, Ralph Schackart menyatakan bahwa pasar saat ini membutuhkan bukti konkret mengenai adopsi dan komersialisasi produk kecerdasan buatan tersebut. Investor menantikan langkah nyata Meta dalam memonetisasi produk berbasis AI, di luar pemanfaatan teknologi yang selama ini sekadar mengoptimalkan sistem periklanan digital mereka.

Sikap skeptis Wall Street tecermin langsung pada pergerakan saham perusahaan di lantai bursa. Nilai saham Meta merosot hingga 18 persen dalam 12 bulan terakhir, meskipun perusahaan sempat melaporkan pertumbuhan pendapatan yang meyakinkan sebesar 33 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Baca Juga :  Cara Mendaftarkan Lokasi Rumah di Google Maps, Cukup Lewat HP

Sebelum fokus pada Muse Spark, Meta mengandalkan model bahasa besar bernama Llama dengan strategi sumber terbuka (open source) gratis untuk memikat para pengembang. Strategi tersebut goyah setelah peluncuran Llama 4 pada April 2025 di nilai gagal total di pasar, sehingga memaksa Zuckerberg mengubah arah haluan dan beralih menggandeng Scale AI.

Kehadiran Muse Spark yang dirancang oleh Alexandr Wang di harapkan menjadi titik balik baru bagi ekosistem Meta. Model kecerdasan buatan ini di buat agar mampu terintegrasi secara mulus ke dalam platform utama seperti Facebook dan Instagram, serta perangkat keras pintar kacamata Ray-Ban Meta.

Kendati demikian, reputasi Meta di mata komunitas pengembang belum sepenuhnya pulih akibat kegagalan proyek masa lalu. CEO startup Neurometric, Rob May menilai bahwa sebagian besar komunitas pengembang AI cenderung mengabaikan posisi Meta untuk saat ini.

Harapan cerah datang dari mantan Kepala AI Google Cloud yang kini menjabat CEO Lovelace, Andrew Moore. Menurutnya, peluang Meta untuk memimpin pasar belum sepenuhnya tertutup asalkan perusahaan mampu menunjukkan keunggulan spesifik, baik dari efisiensi biaya maupun aspek teknis yang bernilai tinggi bagi pengembang.

Baca Juga :  Cara Aktif dan Matikan Notifikasi Fitur SISCAMLING Telkomsel

Tantangan Zuckerberg kian berat karena situasi internal perusahaan sedang tidak ideal pasca-pemecatan sekitar 8.000 karyawan. Situasi tersebut memicu penurunan moral kerja serta memunculkan rumor ketegangan antara Alexandr Wang dan mantan CEO GitHub, Nat Friedman, yang kini sama-sama berada di jajaran elite divisi AI Meta.

Alexandr Wang menepis kabar miring mengenai friksi internal tersebut dan menegaskan bahwa Muse Spark baru merupakan langkah awal dari proyek yang lebih besar. Manajemen Meta berjanji akan segera merilis model AI yang jauh lebih kuat dalam waktu dekat.

Upaya tersebut menjadi krusial mengingat para kompetitor utama seperti OpenAI, Anthropic, dan Google terus merilis pembaruan teknologi dengan ritme yang sangat cepat. Profesor bisnis dari International Institute for Management Development Swiss, Howard Yu menekankan bahwa frekuensi dan konsistensi peluncuran produk menjadi kunci utama untuk memenangkan persaingan ketat ini. (Wd/*)

Berita Terkait

31.000 Email Phishing Terungkap, Penipu Manfaatkan Layanan Resmi Microsoft
Harga Spotify Premium Oktober 2026: Ini Perbedaan Tiga Paketnya
Internet Hilang Saat Perjalanan? Google Maps Tetap Bisa Digunakan
Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya
Kingston Pertahankan 62% Pasar DRAM, AI Jadi Pendorong
Penyalahgunaan AI Meningkat, Pengawasan Perlu Diperketat
WhatsApp Siapkan Tampilan Baru di Android, Navigasi Makin Modern
Cara Bayar Virtual Account Beda Bank dengan Mudah
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:09 WIB

31.000 Email Phishing Terungkap, Penipu Manfaatkan Layanan Resmi Microsoft

Selasa, 13 Oktober 2026 - 07:09 WIB

Harga Spotify Premium Oktober 2026: Ini Perbedaan Tiga Paketnya

Jumat, 9 Oktober 2026 - 07:07 WIB

Internet Hilang Saat Perjalanan? Google Maps Tetap Bisa Digunakan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:08 WIB

Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:05 WIB

Kingston Pertahankan 62% Pasar DRAM, AI Jadi Pendorong

Berita Terbaru

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya (Foto:  Pemkab Lumajang/rri)

Nasional

Dana Operasional SPPG Tersendat, Ini 3 Penyebabnya

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:13 WIB

 Angga Sasongko Soroti Insentif Pajak Ekonomi Kreatif (Foto: Medcom/Rafi)

Ekonomi

Angga Sasongko Soroti Insentif Pajak Ekonomi Kreatif

Sabtu, 24 Okt 2026 - 06:19 WIB

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk

Kesehatan

5 Tanaman Hias Berwarna Cerah untuk Rumah yang Minim Nyamuk

Jumat, 23 Okt 2026 - 17:04 WIB