Kabarinaja.id – OpenAI memperkenalkan alat verifikasi publik bernama Verify untuk membantu pengguna mengidentifikasi apakah sebuah gambar di buat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Kehadiran alat ini menjadi respons atas semakin banyaknya gambar hasil AI yang beredar di media sosial dan platform digital. Informasi ini merujuk pada materi yang diberikan pengguna.
Melalui layanan yang tersedia di situs OpenAI, pengguna dapat mengunggah gambar dan memeriksa apakah file tersebut berasal dari produk OpenAI, termasuk ChatGPT, Codex, maupun API yang mereka sediakan.
Gabungkan Dua Teknologi Verifikasi
OpenAI tidak hanya mengandalkan satu metode untuk mendeteksi asal-usul gambar. Perusahaan tersebut mengombinasikan dua standar industri yang memiliki fungsi berbeda namun saling melengkapi.
Teknologi pertama adalah C2PA (Coalition for Content Provenance and Authenticity). Standar ini menggunakan metadata yang di sematkan pada file untuk menunjukkan proses pembuatan gambar serta perubahan yang pernah di lakukan. Informasi tersebut dapat diverifikasi melalui mekanisme kriptografis sehingga lebih mudah ditelusuri.
Secara sederhana, C2PA berfungsi layaknya identitas digital sebuah gambar. Standar ini juga telah digunakan pada sejumlah produk Google, meski implementasinya di berbagai platform belum sepenuhnya merata.
Teknologi kedua adalah SynthID, sistem watermark tak kasat mata yang dikembangkan Google. Berbeda dengan metadata biasa, SynthID menanamkan sinyal langsung ke dalam piksel gambar sehingga lebih sulit dihilangkan.
Watermark tersebut dirancang tetap dapat terdeteksi meskipun gambar telah mengalami berbagai modifikasi, seperti dipotong, diberi filter, dikompresi, hingga diambil ulang melalui tangkapan layar.
Dua Sistem dengan Fungsi yang Saling Melengkapi
OpenAI mengakui bahwa setiap teknologi memiliki keterbatasan. Metadata C2PA dapat dihapus atau dimodifikasi oleh pihak tertentu, sehingga efektivitasnya bergantung pada keberadaan data tersebut di dalam file.
Sebaliknya, SynthID menawarkan ketahanan yang lebih tinggi karena sinyalnya tertanam langsung pada gambar. Walaupun demikian, informasi yang diberikan watermark ini tidak sedetail metadata C2PA.
Karena itu, penggunaan kedua sistem secara bersamaan dinilai mampu meningkatkan akurasi pelacakan asal-usul gambar. Metadata menyediakan konteks yang lebih lengkap, sedangkan watermark berperan sebagai lapisan cadangan ketika metadata tidak lagi tersedia.
Muncul di Tengah Meningkatnya Konten AI
Peluncuran Verify terjadi ketika penggunaan gambar AI semakin meluas dan kerap memunculkan kontroversi. Salah satu kasus terbaru adalah diskualifikasi pemenang kompetisi fotografi setelah penyelenggara menemukan watermark SynthID tersembunyi pada gambar yang dikirimkan.
Skala penggunaan teknologi ini juga terus bertambah. Google DeepMind melaporkan bahwa lebih dari 100 miliar gambar, video, dan file audio telah di beri watermark SynthID hingga saat ini.
OpenAI kini bergabung dengan sejumlah perusahaan teknologi lain seperti Kakao, ElevenLabs, dan Nvidia sebagai pengguna teknologi tersebut.
Cara Menggunakan Verify
Untuk memanfaatkan layanan ini, pengguna cukup mengunggah satu gambar ke platform Verify. Setelah proses analisis selesai, sistem akan menampilkan apakah gambar mengandung metadata C2PA, watermark SynthID, atau tidak ditemukan tanda apa pun.
OpenAI menyarankan pengguna memotong tangkapan layar sedekat mungkin dengan objek gambar yang ingin diperiksa. Pengguna juga di anjurkan tidak mengunggah file yang berisi lebih dari satu gambar agar hasil analisis lebih akurat.
Saat ini, Verify baru mampu mendeteksi gambar yang dibuat melalui ChatGPT, OpenAI API, dan Codex. Artinya, gambar AI yang berasal dari platform lain belum dapat diidentifikasi oleh sistem tersebut untuk sementara waktu. (Wd/*)









