Kabarinaja.id – TikTok resmi mengumumkan serangkaian langkah baru untuk memperkuat transparansi konten berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Langkah strategis ini bertujuan membantu pengguna mengenali, memahami, dan memanfaatkan teknologi AI secara lebih bertanggung jawab di dalam platform.
Manajemen TikTok menjelaskan bahwa perluasan program literasi menjadi fokus utama, di samping peningkatan sistem deteksi spam berbasis AI. Perusahaan juga mempererat kemitraan global guna memastikan ekosistem digital tetap aman dan transparan bagi seluruh komunitas.
Untuk menyusun panduan edukasi, TikTok menggandeng organisasi NAMLE serta pakar AI Henry Ajder. Panduan tersebut di rancang agar pengguna dapat memanfaatkan teknologi AI secara bijak tanpa terjebak informasi yang keliru.
TikTok bahkan telah meluncurkan sebuah hub edukasi khusus di dalam aplikasi. Fasilitas baru ini langsung mengarahkan pengguna untuk mempelajari keterampilan praktis mengenali konten buatan AI saat mereka mencari istilah terkait di kolom pencarian.
Komitmen tersebut di perkuat melalui kolaborasi dengan organisasi terpercaya seperti NoFiltr dan Raspberry Pi Foundation. Sejak meluncur pada November 2025, konten edukatif ini terbukti efektif dan telah meraup lebih dari 200 juta tayangan.
Demi memperluas jangkauan program literasi ini, TikTok mengalokasikan dana lebih dari USD4 juta (sekitar Rp72,3 juta). Perusahaan jejaring sosial ini juga berencana terus menambah nilai investasi seiring perkembangan platform.
Perang Melawan Spam AI dan Akun Palsu
Penguatan sistem tidak hanya menyasar aspek edukasi, melainkan juga penanggulangan konten spam. TikTok menyadari penyalahgunaan AI untuk memproduksi spam secara massal dapat menenggelamkan karya autentik para kreator.
Sebagai langkah konkret, TikTok memanfaatkan teknologi mutakhir untuk mendeteksi dan menghapus akun-akun bermasalah dalam skala besar. Sepanjang kuartal pertama tahun ini, sistem keamanan mereka berhasil menghapus lebih dari 86 juta akun palsu.
Uji coba peningkatan sistem deteksi kini sedang berjalan untuk memfilter akun yang mengunggah spam berbasis AI. Pengawasan ketat di prioritaskan pada topik sensitif yang memengaruhi kesejahteraan publik, seperti politik, tips finansial, serta kesehatan.
Perluasan Pelabelan AIGC dan Teknologi C2PA
TikTok kini resmi bergabung sebagai anggota Dewan Pembina Coalition for Content Provenance and Authenticity (C2PA). Langkah ini mempertegas posisi TikTok yang dua tahun lalu menjadi platform video pertama yang menerapkan teknologi Kredensial Konten C2PA.
Melalui integrasi Kredensial Konten, alat pelabelan mandiri bagi kreator, serta teknologi invisible watermarking, TikTok menunjukkan hasil nyata. Platform ini tercatat telah memberikan label pada lebih dari 3 miliar video sebagai AI Generated Content (AIGC).
Berbagai pembaruan ini melengkapi peluncuran perangkat kreatif baru seperti Smart Split dan AI Outline. Pengguna juga diberikan kendali penuh melalui fitur Manage Topics untuk mengatur volume konten AIGC yang muncul pada beranda mereka. (Wd/*)









