Kabarinaja.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mematangkan rencana besar pengembangan kawasan wisata terpadu di sekitar Candi Borobudur. Program ini akan menghubungkan lima daerah penyangga dalam satu jaringan destinasi yang saling terkoneksi guna memperkuat daya tarik pariwisata sekaligus memperluas dampak ekonomi bagi masyarakat.
Konsep tersebut menempatkan Borobudur bukan hanya sebagai tujuan utama wisata, melainkan sebagai pusat perjalanan yang terhubung dengan berbagai destinasi unggulan di wilayah sekitarnya. Dengan skema ini, wisatawan di harapkan tidak hanya berkunjung ke Borobudur, tetapi juga menjelajahi kawasan lain yang memiliki potensi wisata alam, budaya, hingga desa wisata.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan persiapan saat ini di fokuskan agar program tersebut dapat mulai di jalankan pada 2027. Salah satu prioritas yang tengah di persiapkan adalah peningkatan infrastruktur menuju berbagai destinasi wisata yang akan masuk dalam kawasan aglomerasi tersebut.
Menurutnya, pembangunan akses yang memadai menjadi faktor penting untuk mendukung mobilitas wisatawan antardaerah. Pemerintah kabupaten dan kota juga di minta aktif menghadirkan lebih banyak agenda wisata dan event yang mampu menarik kunjungan sepanjang tahun.
Luthfi menilai jumlah kegiatan yang di gelar saat ini masih perlu di tingkatkan. Semakin banyak event yang terselenggara, semakin besar peluang wisatawan memperpanjang masa tinggal mereka di Jawa Tengah. Sektor pariwisata juga di yakini tetap memiliki prospek kuat karena mampu menggerakkan ekonomi masyarakat secara langsung.
Konsep pengembangan kawasan wisata terintegrasi ini mengadopsi pola yang telah di terapkan di sejumlah negara tujuan wisata dunia. Model tersebut memungkinkan berbagai destinasi dalam satu kawasan saling mendukung sehingga manfaat ekonomi tidak hanya terpusat pada satu lokasi, tetapi menyebar ke wilayah lain di sekitarnya.
Lima daerah yang di proyeksikan menjadi tulang punggung pengembangan kawasan wisata Borobudur meliputi Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Temanggung.
Kabupaten Magelang tetap menjadi pusat utama karena menjadi lokasi berdirinya Candi Borobudur. Daerah ini juga memiliki banyak desa wisata dan objek wisata alam yang terus berkembang. Sementara itu, Kota Magelang di persiapkan sebagai gerbang wisata sekaligus pusat layanan penunjang bagi para pengunjung.
Kabupaten Purworejo akan memperkuat jaringan wisata melalui potensi alam dan budayanya. Kabupaten Kebumen menawarkan daya tarik pantai serta kawasan geopark yang dapat menjadi alternatif perjalanan wisata. Adapun Kabupaten Temanggung memiliki kekayaan wisata pegunungan dan desa wisata yang selama ini menjadi favorit wisatawan pencinta alam.
Tak hanya fokus pada konektivitas kawasan, pemerintah juga menaruh perhatian besar terhadap pengembangan desa wisata. Langkah ini di nilai penting untuk menciptakan pemerataan manfaat ekonomi hingga tingkat desa sekaligus memperkuat identitas wisata berbasis budaya dan kearifan lokal.
Dalam rencana yang telah di susun, Kabupaten Magelang menargetkan pengembangan 50 desa wisata, Purworejo 45 desa wisata, Kebumen 35 desa wisata, Temanggung 30 desa wisata, dan Kota Magelang lima desa wisata. Target tersebut diharapkan mampu melahirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berbasis sektor pariwisata.
Apabila program ini berjalan sesuai rencana, kawasan Borobudur berpotensi berkembang menjadi salah satu destinasi wisata terintegrasi terbesar di Indonesia. Wisatawan akan memperoleh pengalaman perjalanan yang lebih beragam, sementara masyarakat di daerah penyangga dapat menikmati manfaat ekonomi yang lebih merata dari sektor pariwisata.(Tim)









