Kabarinaja.id – Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menunda rencana aksi militer terhadap Iran langsung mengubah arah pasar energi. Pasar merespons cepat sinyal damai ini. Risiko gangguan pasokan di Timur Tengah yang sebelumnya di khawatirkan investor kini menyusut. Dampaknya, tekanan beli pada minyak mentah global langsung mengendur.
Data Reuters pada Selasa (19/5) mencatat pelemahan signifikan pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI). Kontrak pengiriman Juli merosot USD 2,08 atau jatuh 2,02 persen, sehingga menetap di level USD 102,34 per barel. Penurunan ini mengoreksi lonjakan tajam pada sesi sebelumnya, di mana WTI kontrak Juni sempat melesat 3,1 persen ke angka USD 108,66 per barel. Untuk kontrak bulan terdekat, harganya ikut terpangkas USD 1,54 atau 1,42 persen menjadi USD 107,12 per barel. Minyak Brent kontrak Juli juga melepas keuntungan setelah sebelumnya bertengger di USD 112,10 per barel akibat kenaikan 2,6 persen.
Kontras Sektor Energi dan Logam Industri
Situs Barchart menunjukkan arah pergerakan yang berbeda untuk komoditas di luar minyak bumi. Batu bara berjangka Newcastle kontrak Juli justru menguat 1,15 persen. Lonjakan ini mengunci posisi harga batubara di level USD 140,45 per ton. Tingginya permintaan amunisi pembangkit listrik di Asia tengah menjaga tren positif komoditas ini.
Sektor logam dasar dan perkebunan ikut bergerak di zona hijau:
-
CPO (Minyak Kelapa Sawit): Kontrak Juli merangkak naik 0,27 persen menuju level MYR 4.534 per ton.
-
Nikel: Kontrak Juli bertambah 0,35 persen hingga mencapai level USD 18.505 per ton.
-
Timah: Kontrak Mei terapresiasi tipis 0,19 persen dan bertahan pada posisi USD 52.305 per ton.
Dampak dan Langkah Strategis bagi Pelaku Usaha
Fluktuasi tajam ini memicu efek domino bagi industri dalam negeri. Penurunan harga minyak dunia berpotensi meringankan beban biaya logistik dan operasional manufaktur dalam jangka pendek. Namun, penguatan batubara dan nikel menjadi sinyal positif bagi emiten pertambangan di Bursa Efek Indonesia.
Pelaku usaha sektor transportasi perlu memanfaatkan momentum penurunan harga minyak ini untuk mengamankan kontrak pengadaan bahan bakar jangka pendek. Bagi para investor saham berbasis komoditas, diversifikasi portofolio ke sektor logam industri seperti nikel layak dipertimbangkan. Sektor ini relatif stabil dan mendapat dorongan positif dari tren adopsi kendaraan listrik global yang terus berjalan. (Wd/*)









