Kabarinaja.id – Sebanyak 34 juta orang telah menjalani pemeriksaan mata melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dari jumlah tersebut, sekitar 1,6 juta orang terindikasi mengalami gangguan penglihatan sehingga membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Temuan tersebut mendorong pemerintah memperluas upaya deteksi dini melalui program Comprehensive Community Eye Care (CCEC). Program ini dirancang untuk mendekatkan layanan kesehatan mata kepada masyarakat, terutama siswa sekolah dan pekerja.
Kemenkes Perluas Skrining Mata di Sekolah dan Tempat Kerja
Kemenkes meluncurkan program CCEC bertepatan dengan peringatan Hari Penglihatan Sedunia 2026 di kantor kementerian tersebut, Jakarta. Kegiatan peluncuran melibatkan pelajar SMP dan SMA, organisasi profesi, serta sejumlah mitra di bidang kesehatan.
Dalam tiga tahun mendatang, program ini menargetkan pemeriksaan mata terhadap lebih dari 60.000 siswa dan pekerja. Pelaksanaannya direncanakan menjangkau lima provinsi dan 19 kabupaten/kota.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menekankan perlunya pemeriksaan mata secara berkala, termasuk ketika seseorang belum merasakan gangguan penglihatan.
“Jangan tunggu sampai mata kita terasa berat, kabur, atau menyakitkan. Jagalah organ pertama yang bekerja untuk kita setiap hari,” ujar Dante.
Menurut dia, pemeriksaan sejak dini dapat membantu menemukan masalah penglihatan sebelum kondisinya mengganggu aktivitas sehari-hari. Upaya tersebut juga penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mata.
Sebagian Besar Gangguan Penglihatan Bisa Dicegah atau Diobati
Masalah penglihatan masih menjadi tantangan kesehatan di berbagai negara. Dante menyampaikan bahwa sekitar 1,1 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan yang belum mendapatkan penanganan memadai.
Ia juga menyebut sekitar 90 persen kasus tersebut berpotensi dicegah atau ditangani melalui intervensi yang tepat. Karena itu, akses pemeriksaan dan layanan kesehatan mata menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
Kemenkes menjalankan sejumlah langkah untuk memperkuat penanganan masalah tersebut, meliputi:
- Memperluas skrining kesehatan mata melalui program CKG.
- Meningkatkan akses masyarakat terhadap operasi katarak.
- Memeratakan ketersediaan dokter spesialis mata.
- Memperkuat edukasi kesehatan mata di sekolah dan tempat kerja.
Pemerintah turut berkoordinasi dengan BPJS Kesehatan dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI). Kerja sama ini diarahkan untuk mengatasi ketimpangan distribusi layanan operasi katarak antardaerah.
Vision Center Didorong Mendekatkan Layanan ke Masyarakat
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa pengembangan vision center menjadi salah satu upaya memperluas akses pemeriksaan mata.
Model layanan tersebut menghubungkan Puskesmas, dinas kesehatan, tenaga profesional, kader kesehatan, organisasi profesi, dan mitra pembangunan. Kolaborasi ini diharapkan memudahkan masyarakat memperoleh pemeriksaan serta penanganan yang sesuai.
Selama ini, sebagian besar layanan kesehatan mata tersedia di rumah sakit. Kondisi tersebut dapat membuat sebagian masyarakat harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk mendapatkan pemeriksaan.
Melalui pengembangan vision center, layanan pemeriksaan, dukungan tenaga kesehatan profesional, dan penyediaan kacamata diharapkan semakin dekat dengan masyarakat. Puskesmas menjadi salah satu fasilitas yang didorong untuk mendukung perluasan layanan tersebut.
CCEC Targetkan 16.500 Operasi Katarak
Chief of Programs & Partnership The Fred Hollows Foundation, Amanda Huang, mengatakan CCEC melanjutkan kolaborasi dengan pemerintah Indonesia untuk memperluas layanan kesehatan mata berbasis masyarakat.
Selama tiga tahun, program ini memiliki sejumlah target utama. Selain menjangkau lebih dari 60.000 siswa dan pekerja, CCEC merencanakan pelatihan bagi lebih dari 2.000 tenaga kesehatan dan guru.
Program tersebut juga menargetkan dukungan terhadap 16.500 operasi katarak dan distribusi lebih dari 100.000 kacamata. Untuk memperluas jangkauan layanan, pelaksana program berencana membangun 13 vision center baru serta memperkuat 21 pusat layanan yang sudah tersedia.
Amanda berharap pendekatan berbasis masyarakat dapat membantu warga mengakses pemeriksaan dan penanganan lebih awal. Dengan demikian, layanan kesehatan mata diharapkan semakin mudah dijangkau dari lingkungan tempat tinggal.
Skrining Mata Membantu Siswa Mengetahui Kondisi Penglihatan
Manfaat pemeriksaan mata turut dirasakan Fayra Salsabila, siswi SMP Negeri 145 Jakarta, yang mengikuti skrining dalam kegiatan tersebut.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya silinder sebesar 2,00 pada salah satu matanya dan 1,50 pada mata lainnya. Fayra kemudian memperoleh kacamata gratis serta penjelasan mengenai kebiasaan yang perlu diperhatikan untuk menjaga kesehatan mata.
“Aku dapat kacamata gratis dari pemeriksaan ini. Nanti aku tinggal cek lagi untuk pilih model kacamata yang diinginkan di optik,” ujar Fayra.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana skrining dapat membantu siswa mengetahui kondisi penglihatannya. Pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan sesuai hasil evaluasi tenaga kesehatan agar kebutuhan koreksi penglihatan dapat ditangani dengan tepat.
Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Mata
Selain memperluas layanan pemeriksaan, Kemenkes mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kebiasaan sehari-hari, terutama saat menggunakan ponsel dan komputer dalam waktu lama.
Salah satu cara yang dianjurkan adalah menerapkan aturan 20-20-20. Caranya, setiap 20 menit menatap layar, istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat objek berjarak sekitar 20 kaki atau enam meter.
Kebiasaan tersebut dapat membantu mengurangi kelelahan mata akibat penggunaan perangkat digital. Namun, aturan ini tidak menggantikan pemeriksaan profesional apabila penglihatan mulai kabur atau muncul keluhan yang menetap.
Peringatan Hari Penglihatan Sedunia 2026 mengangkat tema nasional “Skrining Mata: Langkah Kecil untuk Manfaat Besar”, sejalan dengan tema global Love Your Eyes.
Melalui program CKG dan CCEC, Kemenkes mendorong masyarakat untuk memeriksakan mata secara berkala. Deteksi dini diharapkan membantu menemukan gangguan penglihatan lebih cepat sekaligus membuka akses terhadap penanganan yang dibutuhkan. (Wd/*)










