Kabarinaja.id – Jauh sebelum Android menjadi sistem operasi yang mendominasi pasar smartphone, telepon seluler sudah berkembang menjadi simbol kemewahan. Sejumlah produsen bahkan menawarkan perangkat dengan harga yang sulit dibandingkan dengan ponsel konsumen biasa.
HP termahal sebelum Android tersebut tidak mengandalkan chipset cepat atau kamera beresolusi tinggi seperti perangkat premium masa kini. Nilai jualnya justru berasal dari emas, berlian, batu mulia, kulit khusus, pengerjaan tangan, serta jumlah produksi yang sangat terbatas.
Salah satu merek yang paling identik dengan tren tersebut adalah Vertu. Merek yang didirikan Nokia pada akhir 1990-an itu membangun identitas sebagai produsen perangkat komunikasi mewah.
Dari Ponsel hingga Barang Koleksi
Salah satu contoh ekstrem datang dari Diamond Crypto Smartphone. Perangkat buatan perusahaan Rusia JSC Ancort tersebut dirancang oleh desainer perhiasan Peter Aloisson.
Harga perangkat ini dilaporkan mencapai sekitar USD1,3 juta atau sekitar Rp23 miliar berdasarkan kurs yang digunakan dalam materi sumber. Bodinya memadukan platinum, emas 18 karat, kayu Macassar ebony, serta puluhan berlian.
Diamond Crypto juga menawarkan teknologi enkripsi yang menjadi bagian dari daya tarik produknya. Jadi, perangkat ini tidak hanya dipasarkan melalui kemewahan material, tetapi juga membawa fitur keamanan komunikasi.
Goldvish Le Million
Goldvish Le Million menjadi contoh lain bagaimana telepon seluler pada masa tersebut bisa diperlakukan seperti perhiasan.
Produk buatan perusahaan Swiss Goldvish ini dilaporkan memiliki harga sekitar USD1 juta atau Rp17 miliar. Bodinya menggunakan emas putih 18 karat dan dihiasi berlian.
Produksinya juga sangat terbatas. Kondisi tersebut membuat Goldvish Le Million lebih dekat dengan barang koleksi eksklusif dibandingkan perangkat komunikasi untuk pasar umum.
Ponsel Mewah dengan Produksi Sangat Terbatas
Nama lain yang masuk dalam jajaran ponsel berharga tinggi adalah Gresso Luxor Las Vegas Jackpot.
Gresso memperkenalkan perangkat tersebut pada 2010 dengan harga sekitar USD1 juta. Meski waktunya sudah berada setelah Android mulai hadir, perangkat ini masih menggunakan pendekatan ponsel mewah konvensional.
Material yang digunakan mencakup emas, berlian hitam, kayu African Blackwood berusia ratusan tahun, serta kristal safir pada bagian tombol. Gresso hanya memproduksi tiga unit versi Jackpot.
Sementara itu, Goldvish Revolution diperkenalkan pada 2009 dengan harga sekitar USD488.150 atau Rp8 miliar.
Desainnya cukup berbeda dibanding ponsel biasa pada masa itu. Perangkat tersebut memadukan konsep telepon seluler dengan tampilan yang menyerupai jam tangan mekanis.
Bahan yang digunakan mencakup emas putih dan emas merah muda 18 karat serta berlian. Goldvish juga membuatnya dalam jumlah terbatas, sekitar sembilan unit.
Vertu dan Identitas Ponsel sebagai Simbol Status
Vertu menjadi salah satu merek yang paling kuat dalam membangun kategori ponsel mewah.
Salah satu produknya, Vertu Signature Cobra, memiliki desain berupa ular kobra yang melilit bagian bodi. Ornamen tersebut dihiasi sejumlah batu mulia, termasuk rubi dan zamrud.
Desain Signature Cobra merupakan hasil kolaborasi Vertu dengan rumah perhiasan Prancis Boucheron. Harganya banyak dilaporkan mencapai sekitar USD310.000 atau Rp5,5 miliar dengan produksi hanya delapan unit.
Ada pula VIPN Black Diamond Smartphone yang dirancang oleh Jaren Goh. Perangkat ini dibanderol sekitar USD300.000 atau Rp5,3 miliar.
Black Diamond menggunakan titanium dan polycarbonate pada bodinya. Untuk ukuran zamannya, perangkat tersebut juga membawa spesifikasi yang menarik, termasuk prosesor Intel 400 MHz dan kamera 4 megapiksel.
Namun, nilai utama perangkat tersebut tetap terletak pada desain serta materialnya. Kemampuannya tentu tidak dirancang untuk menandingi smartphone modern.
Vertu Golden Series
Vertu juga memiliki lini Golden Series yang terdiri atas Kinko, Kikusui, Nanten, dan Daigo.
Keempat model tersebut dilaporkan memiliki harga sekitar 20 juta yen atau sekitar USD180.000, setara dengan Rp3,2 miliar berdasarkan konversi yang digunakan dalam materi sumber.
Spesifikasinya relatif serupa. Perbedaan utama berada pada desain bagian belakang masing-masing model.
Ketika Harga Ditentukan oleh Eksklusivitas
Selain produk dengan harga ratusan ribu dolar, Vertu juga menghadirkan Signature Diamond.
Seri tersebut memperlihatkan pendekatan berbeda dalam memasarkan perangkat komunikasi. Telepon tidak sekadar diposisikan sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai produk dengan material premium dan pengerjaan yang menyerupai barang perhiasan.
Daya tariknya berasal dari material, proses pengerjaan, dan eksklusivitas. Pendekatan itu berbeda dengan persaingan smartphone masa kini yang banyak berfokus pada performa prosesor, kualitas kamera, layar, dan kemampuan perangkat lunak.
Vertu juga pernah bekerja sama dengan Ferrari melalui seri Ascent Ferrari. Ponsel tersebut menggunakan elemen desain yang terinspirasi dari kendaraan Ferrari, termasuk penggunaan material kulit dan detail yang mengingatkan pada interior mobil.
Harga seri ini tidak berada pada level ekstrem seperti beberapa model lain dalam daftar. Faktor yang ditonjolkan lebih banyak berkaitan dengan kolaborasi merek, material premium, serta eksklusivitas.
Sebelum Android, Ponsel Sudah Menjadi Barang Mewah
Vertu Signature Series menjadi contoh lain dari perubahan cara sebuah ponsel diposisikan di pasar.
Sebelum smartphone modern menjadi perangkat utama, seri ini menawarkan produk dengan perhatian besar terhadap material dan pengerjaan. Beberapa model menggunakan logam mulia dan kristal safir.
Harga tertentu dari seri tersebut bahkan jauh melampaui ponsel konsumen biasa pada masanya. Konsepnya menunjukkan bahwa nilai sebuah telepon seluler tidak selalu ditentukan oleh kemampuan teknis.
Jika dibandingkan dengan smartphone premium sekarang, alasan di balik harga ponsel mewah generasi tersebut memang berbeda.
Smartphone modern biasanya menawarkan harga tinggi melalui kombinasi prosesor, kamera, layar, material bodi, fitur perangkat lunak, dan teknologi lainnya. Sementara itu, ponsel mewah generasi awal lebih menekankan kelangkaan, material berharga, pengerjaan khusus, serta nama besar merek.
Karena itu, sejumlah perangkat tersebut lebih tepat dipandang sebagai barang koleksi yang memadukan teknologi dan perhiasan. Fungsinya tetap sebagai alat komunikasi, tetapi nilai ekonominya sangat dipengaruhi oleh eksklusivitas dan material yang digunakan.
Era tersebut menjadi bagian menarik dari sejarah perkembangan telepon seluler. Jauh sebelum perang spesifikasi smartphone berlangsung, industri ponsel sudah menunjukkan bahwa sebuah perangkat komunikasi dapat diposisikan sebagai simbol status dan koleksi bernilai tinggi. (Wd/*)










