Kabarinaja.id – Momen kelulusan atau wisuda menjadi puncak perjalanan akademik yang paling di nantikan oleh setiap mahasiswa. Berdiri di atas panggung, mendengar nama di panggil, dan bersalaman dengan jajaran rektorat merupakan impian yang di tebus dengan kerja keras selama bertahun-tahun.
Dalam upacara sakral tersebut, jubah toga lengkap dengan topi persegi menjadi atribut wajib yang tidak boleh di tinggalkan. Pakaian longgar berwarna hitam ini secara universal di akui sebagai simbol prestasi akademik tertinggi di dunia perguruan tinggi.
Namun, pakaian ini menyimpan sejarah panjang dan makna filosofis yang mendalam. Toga merupakan selubung kehormatan yang menandai transisi besar dari seorang penuntut ilmu menjadi sarjana yang siap mengabdi kepada masyarakat.
Asal-Usul Toga: Dari Romawi Kuno hingga Kampus Eropa
Kata toga berasal dari bahasa Latin “tego“, yang berarti penutup. Sejarawan mengungkapkan bahwa toga pertama kali muncul di era Romawi Kuno pada abad ke-1 Masehi, jauh sebelum universitas pertama di dunia berdiri. Pada masa itu, toga merupakan pakaian sehari-hari yang bersifat formal bagi warga negara Romawi.
Bentuk awal toga berupa potongan kain wol panjang berkisar antara 3,7 hingga 6 meter. Kain ini di sampirkan di atas tunik, lalu di lilitkan ke seluruh tubuh dengan lipatan rapi. Bagi masyarakat Romawi Kuno, toga menjadi satu-satunya pakaian yang di anggap pantas dan terhormat untuk beraktivitas di luar rumah.
Warna dan corak toga pada masa Romawi Kuno juga menjadi indikator status sosial pemakainya:
-
Toga Virilis: Berwarna putih polos, di kenakan oleh pria dewasa sebagai simbol kedewasaan dan hak sipil.
-
Toga Praetexta: Memiliki garis ungu di pinggirannya, khusus untuk pejabat tinggi, hakim, dan anak-anak bangsawan.
-
Toga Pulla: Berwarna gelap atau hitam, di gunakan khusus saat masa berkabung.
-
Toga Candida: Berwarna putih bersih bersinar, di kenakan oleh calon pejabat publik sebagai simbol transparansi dan integritas.
Fungsi toga mulai bergeser seiring runtuhnya Kekaisaran Romawi. Pada abad pertengahan (sekitar abad ke-12 hingga ke-13), universitas awal seperti Universitas Bologna di Italia dan Universitas Paris di Prancis mengadopsi jubah panjang ini sebagai seragam sarjana dan pengajar.
Penggunaan jubah wol tebal ini awalnya memiliki alasan praktis. Gedung universitas pada abad pertengahan yang di bangun dengan batu tebal tidak memiliki sistem pemanas, sehingga jubah berfungsi melindungi tubuh dari suhu dingin ekstrem.
Universitas Oxford dan Universitas Cambridge di Inggris kemudian meresmikan jubah ini sebagai pakaian wajib wisuda pada tahun 1321. Peraturan tersebut sekaligus melarang mahasiswa mengenakan pakaian yang berlebihan. Sejak saat itu, jubah panjang ini resmi menjadi simbol martabat akademik global.
Bedah Filosofi Komponen Toga: Warna Hitam dan Topi Persegi
Setiap elemen pada baju toga modern memiliki makna simbolis tersendiri yang menuntut tanggung jawab moral besar dari pemakainya.
Warna Hitam yang Melambangkan Kemenangan Atas Kegelapan
Warna hitam pada toga melambangkan keagungan dan ketegasan. Dalam konteks akademik, hitam di artikan sebagai simbol kegelapan dan ketidaktahuan. Masa sebelum mengenyam pendidikan tinggi di ibaratkan sebagai fase di mana manusia masih di selimuti misteri ketidaktahuan.
Melalui pembelajaran intensif di bangku kuliah, mahasiswa di latih untuk menghancurkan batasan tersebut. Oleh karena itu, warna hitam pada toga melambangkan kegelapan yang berhasil di tundukkan oleh ilmu pengetahuan.
Topi Persegi sebagai Simbol Sudut Pandang dan Meja Belajar
Topi wisuda berbentuk persegi datar di kenal dengan istilah mortarboard. Bentuk unik ini memiliki dua landasan filosofi utama.
Pertama, bagian atas topi yang datar melambangkan permukaan meja belajar tempat mahasiswa membaca, menulis, dan merenungkan teori ilmiah. Kedua, sudut-sudut tajam pada topi menuntut sarjana untuk berpikir secara rasional dan terstruktur. Bentuk persegi mengajarkan lulusan untuk memandang permasalahan hidup dari berbagai sudut pandang (multi-perspective) secara objektif.
Makna di Balik Prosesi Pemindahan Tali Toga
Momen rektor memindahkan tali rumbai (tassel) pada topi toga menjadi prosesi yang paling di nantikan. Pemindahan tali dari sisi kiri ke sisi kanan ini menyimpan pesan filosofis yang mendalam terkait potensi manusia.
Transformasi Dominasi Otak Kiri ke Otak Kanan
Sebelum pelantikan, tali rumbai menggantung di sebelah kiri karena mahasiswa di dominasi oleh penggunaan otak kiri untuk mengolah materi akademik dan analisis logis. Ketika prosesi berlangsung, rektor memindahkan tali ke sebelah kanan dengan harapan sarjana mulai mengaktifkan kapasitas otak kanan setelah lulus.
Otak kanan bertanggung jawab atas imajinasi, kreativitas, dan inovasi. Melalui simbol ini, lulusan perguruan tinggi dituntut untuk mempraktikkan ilmu mereka secara kreatif di dunia nyata, termasuk menciptakan peluang baru dan lapangan pekerjaan.
Simbol Pembatas Buku Kehidupan
Tali toga juga diibaratkan sebagai pita pembatas buku (bookmark). Pemindahan tali menandakan bahwa bab pembelajaran akademik telah selesai dan ditutup. Wisudawan kini resmi membuka lembaran buku kehidupan baru di dunia profesional dan diingatkan untuk terus menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner). Lulusan baru kini siap melangkah ke fase berikutnya dengan tanggung jawab keilmuan yang melekat pada diri mereka. (Wd/*)









