Klaim JHT dan JKP BPJS Naik, OJK Waspadai Efek PHK Massal

pavicon

- Jurnalis

Minggu, 17 Mei 2026 - 12:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabarinaja.idJaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) milik BPJS Ketenagakerjaan mengalami lonjakan sepanjang Maret 2026. Peningkatan tersebut terjadi di tengah masih tingginya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor industri.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, mengungkapkan nilai klaim JHT naik hingga Rp1,85 triliun atau tumbuh 14,1 persen di banding periode sebelumnya. Lonjakan itu dipicu meningkatnya jumlah pekerja yang mencairkan dana setelah kehilangan pekerjaan.

Klaim JKP Melonjak Hampir Dua Kali Lipat

Tak hanya JHT, pembayaran manfaat JKP juga mengalami kenaikan tajam. Sepanjang Maret 2026, klaim program tersebut melonjak hingga 91 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Menurut Ogi, kenaikan itu tidak lepas dari kebijakan relaksasi syarat pencairan manfaat dan penambahan nilai bantuan yang di atur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2025. Kebijakan tersebut membuat akses peserta terhadap manfaat JKP menjadi lebih mudah di banding sebelumnya.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengelolaan dana jaminan sosial yang lebih adaptif terhadap perubahan ekonomi dan kondisi ketenagakerjaan nasional.

Baca Juga :  Shopee Perketat Pengawasan Peredaran Buku Bajakan, Laporan Diproses Tiga Hari

OJK Soroti Risiko pada Industri Asuransi

Meningkatnya angka PHK juga mulai memberi tekanan terhadap industri asuransi, khususnya asuransi jiwa kredit. Saat pendapatan masyarakat terganggu, kemampuan membayar premi maupun cicilan kredit ikut terdampak.

Ogi menjelaskan, banyak masyarakat kini lebih fokus memenuhi kebutuhan pokok setelah kehilangan pekerjaan. Situasi itu membuat risiko polis lapse atau berhenti aktif semakin tinggi. Di sisi lain, perusahaan asuransi juga menghadapi ancaman meningkatnya gagal bayar debitur.

Jika kondisi ekonomi belum membaik, tekanan terhadap rasio klaim dan tingkat solvabilitas perusahaan asuransi berpotensi meningkat. Karena itu, perusahaan di minta lebih waspada dalam mengelola risiko keuangan.

Tekanan Ekonomi Bisa Picu Klaim Tidak Langsung

Meski produk asuransi jiwa kredit umumnya memberikan perlindungan atas risiko meninggal dunia atau cacat tetap total, tekanan ekonomi akibat PHK dinilai tetap bisa berdampak pada kenaikan klaim.

Faktor kesehatan hingga tekanan psikologis akibat kehilangan pekerjaan di sebut dapat memicu risiko baru bagi nasabah. Kondisi itu membuat perusahaan asuransi perlu memperhitungkan dampak sosial-ekonomi secara lebih luas dalam pengelolaan bisnis mereka.

Baca Juga :  Harga Emas Perhiasan Hari Ini 12 Mei 2026, Simak Tarif Terbaru Raja Emas dan Laku Emas

Dalam beberapa bulan terakhir, isu PHK memang menjadi perhatian publik setelah sejumlah perusahaan melakukan efisiensi akibat perlambatan ekonomi global dan penurunan permintaan pasar. Situasi ini turut memengaruhi daya beli masyarakat dan stabilitas sektor keuangan domestik.

OJK Minta Perusahaan Perkuat Manajemen Risiko

Untuk menjaga stabilitas industri, OJK meminta perusahaan asuransi memperkuat manajemen risiko secara menyeluruh. Langkah yang di sarankan meliputi pengetatan proses underwriting pada sektor usaha yang rawan PHK serta penyesuaian premi sesuai profil risiko terbaru.

Perusahaan juga di minta memperkuat skema pembagian risiko dengan pihak perbankan agar penyaluran kredit tetap berjalan sehat dan terukur.

Di samping itu, OJK mendorong peningkatan verifikasi klaim dan integrasi data dengan sektor perbankan. Langkah tersebut di nilai penting agar kualitas kredit debitur bisa di pantau lebih cepat sehingga potensi risiko dapat diantisipasi sejak dini.(Tim)

Berita Terkait

Chip Mulai Langka, Harga HP Diprediksi Naik
Rupiah Masuk Daftar 10 Mata Uang Terlemah Dunia, Ini Penyebabnya
Teknologi Internet 5G Kian Meluas, Aktivitas Digital Masyarakat Jadi Lebih Cepat
Demi SalMar, Miliarder Norwegia Tolak Pindah ke Swiss dan Bayar Pajak Rp 1,76 Miliar per Hari
Rupiah Dekati Rp 17.600, Strategi Pengusaha Hadapi Lonjakan Biaya Impor dan Prediksi Pasar
Rupiah Melemah, Sejumlah Harga Pangan dan Kebutuhan Harian Terancam Naik
Rekomendasi 5 Sekuritas Saham Terbaik 2026
Nilai Tukar Rupiah Melemah Saat Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 17:37 WIB

Chip Mulai Langka, Harga HP Diprediksi Naik

Minggu, 17 Mei 2026 - 15:10 WIB

Rupiah Masuk Daftar 10 Mata Uang Terlemah Dunia, Ini Penyebabnya

Minggu, 17 Mei 2026 - 14:17 WIB

Teknologi Internet 5G Kian Meluas, Aktivitas Digital Masyarakat Jadi Lebih Cepat

Minggu, 17 Mei 2026 - 12:02 WIB

Klaim JHT dan JKP BPJS Naik, OJK Waspadai Efek PHK Massal

Minggu, 17 Mei 2026 - 11:32 WIB

Demi SalMar, Miliarder Norwegia Tolak Pindah ke Swiss dan Bayar Pajak Rp 1,76 Miliar per Hari

Berita Terbaru

Bisnis

Chip Mulai Langka, Harga HP Diprediksi Naik

Minggu, 17 Mei 2026 - 17:37 WIB