Rupiah Dekati Rp 17.600, Strategi Pengusaha Hadapi Lonjakan Biaya Impor dan Prediksi Pasar

Industri Manufaktur Terjepit di Tengah Depresiasi Rupiah

- Jurnalis

Minggu, 17 Mei 2026 - 08:27 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Rupiah Dekati Rp 17.600, Strategi Pengusaha Hadapi Lonjakan Biaya Impor dan Prediksi Pasar (Foto: Ai)

Rupiah Dekati Rp 17.600, Strategi Pengusaha Hadapi Lonjakan Biaya Impor dan Prediksi Pasar (Foto: Ai)

Kabarinaja.id – Nilai tukar rupiah menutup perdagangan pekan kedua Mei dengan rapor merah. Data Bloomberg pada Jumat (15/5) menunjukkan mata uang garuda terkoreksi 67,50 poin atau 0,39 persen, terparkir di posisi Rp 17.596 per dolar AS. Angka ini memicu alarm bagi sektor riil, meskipun pemerintah mencoba meredam kepanikan publik.

Presiden Prabowo Subianto memberikan perspektif berbeda saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Sabtu (16/5). Ia meyakini fondasi ekonomi masyarakat arus bawah masih kokoh. Menurutnya, aktivitas ekonomi di pedesaan tidak bersentuhan langsung dengan denominasi dolar AS sehingga efeknya tidak seketika melumpuhkan.

“Rakyat di desa tidak bertransaksi memakai dolar,” tegas Prabowo. Ia menekankan bahwa ketahanan pangan dan energi nasional tetap terjaga di tengah kepanikan global. Keyakinan pemerintah berpijak pada stabilitas domestik yang di anggap masih mampu meredam guncangan eksternal.

Dilema Pengusaha: Margin Menipis, Ekspansi Tertahan

Ketenangan di level kebijakan belum sepenuhnya dirasakan pelaku industri. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, melihat tren ini bukan sekadar fluktuasi jangka pendek. Kenaikan yield US Treasury dan ketegangan geopolitik global memaksa modal keluar dari pasar negara berkembang menuju aset berbasis dolar.

Baca Juga :  Review LG UltraGear G4: Monitor Gaming IPS 144Hz Murah Terbaik

Bagi dunia usaha, ini adalah hantaman pada struktur biaya. Industri manufaktur Indonesia berada dalam posisi rentan karena 70 persen kebutuhan bahan baku masih bergantung pada impor. Mengingat komponen bahan baku menyumbang 55 persen dari total biaya produksi, setiap penurunan nilai rupiah secara otomatis mendongkrak biaya modal.

Tekanan ini kian berat karena daya beli masyarakat belum pulih total. Perusahaan sulit menaikkan harga jual secara drastis. Akibatnya, pelaku usaha terpaksa menyerap lonjakan biaya tersebut, yang kemudian menggerus margin keuntungan. Langkah pahit seperti membatasi ekspansi hingga menunda penyerapan tenaga kerja baru kini menjadi pilihan rasional untuk menjaga arus kas.

Risiko Rp 18.000 dan Beban Subsidi Energi

Analisis lebih tajam datang dari pengamat pasar, Ibrahim Assuaibi. Ia memperingatkan adanya potensi rupiah menembus level psikologis baru di angka Rp 18.000 pada Mei ini. Jika batas tersebut terlampaui, risiko pergerakan menuju Rp 22.000 bukan lagi sekadar isapan jempol.

Baca Juga :  Harga Mitsubishi Xpander Bekas 2018 Mulai Rp145 Juta, Masih Jadi Favorit Keluarga

Konflik di Selat Hormuz menjadi pemicu utama. Eskalasi di wilayah tersebut mengerek harga minyak mentah dunia sekaligus memperkasa indeks dolar. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak adalah pedang bermata dua. Sebagai negara importir minyak sekitar 1,5 juta barel per hari, kebutuhan akan dolar untuk mengamankan stok BBM dan subsidi energi meningkat tajam.

Sekitar 85 persen minyak impor dialokasikan untuk subsidi. Kondisi ini menciptakan permintaan dolar yang masif di pasar domestik, yang secara mekanis terus menekan posisi rupiah.

Langkah Praktis bagi Pembaca

Menghadapi ketidakpastian kurs ini, masyarakat dan pelaku UMKM perlu melakukan langkah mitigasi mandiri:

  1. Prioritaskan Produk Lokal: Mengurangi konsumsi barang impor akan membantu menekan permintaan valuta asing secara kolektif.

  2. Efisiensi Biaya: Bagi pengusaha kecil, tinjau kembali rantai pasok dan cari substitusi bahan baku lokal untuk menjaga stabilitas harga jual.

  3. Waspada Inflasi: Pelemahan rupiah biasanya diikuti kenaikan harga barang elektronik dan otomotif. Tunda pembelian barang impor non-primer hingga situasi mereda.

(Wd/*)

Berita Terkait

Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya
Kebijakan Tinggal Kelas Bisa Berlaku 2027, Ini Penjelasan Mendikdasmen
Biaya Haji 2027 Turun, Ini Besaran Pelunasan Jemaah
Cara Konfirmasi Data ASN yang Tidak Sesuai di MyASN
Pengangkatan Bangkai KM Virgo Ditargetkan Mulai Oktober 2026
Perencanaan Kekayaan Anak Perlu Dimulai Sejak Dini
Jamur Pangan Indonesia Punya Potensi Lebih dari Sekadar Bahan Makanan
Daftar Negara dengan Skor Membaca Tertinggi di PISA 2025
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:08 WIB

Coding dan AI Baru Menjangkau 25 Persen Sekolah, Ini Kendalanya

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:01 WIB

Kebijakan Tinggal Kelas Bisa Berlaku 2027, Ini Penjelasan Mendikdasmen

Kamis, 8 Oktober 2026 - 11:54 WIB

Biaya Haji 2027 Turun, Ini Besaran Pelunasan Jemaah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:04 WIB

Cara Konfirmasi Data ASN yang Tidak Sesuai di MyASN

Minggu, 4 Oktober 2026 - 13:09 WIB

Pengangkatan Bangkai KM Virgo Ditargetkan Mulai Oktober 2026

Berita Terbaru

Fphubbing: Kebiasaan Main HP yang Mengganggu Pertemanan (Foto: magnific/medcom)

Lifestyle

Fphubbing: Kebiasaan Main HP yang Mengganggu Pertemanan

Sabtu, 10 Okt 2026 - 10:06 WIB

Ilustrasi. 5 Kebiasaan Sepele yang Bisa Merusak Layar HP Lipat (Foto: medcom)

Gadget

5 Kebiasaan Sepele yang Bisa Merusak Layar HP Lipat

Jumat, 9 Okt 2026 - 09:09 WIB