IHSG Anjlok ke Level 6.821 Saat Rupiah Tembus Rp17.505

- Jurnalis

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:47 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kabarinaja.id – Tekanan besar kembali menghantam pasar keuangan Indonesia pada perdagangan Selasa pagi, 12 Mei 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat bergerak di zona hijau mendadak berbalik melemah tajam hingga turun lebih dari satu persen. Kondisi itu terjadi di tengah anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mencetak rekor terendah baru.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG terkoreksi 1,22% ke posisi 6.821 pada pukul 09.25 WIB. Sepanjang sesi perdagangan pagi, indeks bergerak cukup fluktuatif dari level tertinggi 6.977 hingga menyentuh titik terendah di 6.818.

Sementara itu, rupiah di pasar spot melemah ke posisi Rp17.505 per dolar AS. Angka tersebut menjadi level terlemah sepanjang sejarah bagi mata uang Indonesia dan memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Saham Big Caps Jadi Beban Utama IHSG

Tekanan jual terlihat hampir merata di berbagai sektor. Saham sektor perindustrian memimpin pelemahan dengan penurunan 2,94%. Disusul sektor infrastruktur yang turun 2,41%, serta sektor kesehatan yang terkoreksi 1,52%.

Aktivitas perdagangan saham juga terpantau cukup ramai. Nilai transaksi mencapai Rp2,34 triliun dengan volume perdagangan sekitar 6,12 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 464 ribu kali.

Baca Juga :  Tencent Cloud Perkenalkan WorkBuddy dan Miora di SuperAI 2026 Jakarta

Mayoritas saham berada di zona merah. Sebanyak 396 saham melemah, 179 saham menguat, sedangkan 148 saham lainnya bergerak stagnan.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi penekan utama laju IHSG pagi ini. Saham PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) merosot hingga 15%. Kemudian PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) turun 5,33%, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terkoreksi 4,75%, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) melemah 4,71%.

Rupiah Tertekan Sentimen Global dan Harga Minyak

Pelemahan rupiah di pengaruhi meningkatnya ketidakpastian global. Pasar merespons pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meragukan keberlanjutan gencatan senjata dengan Iran.

Situasi geopolitik di Timur Tengah membuat pasar khawatir terhadap gangguan distribusi energi dunia, terutama di jalur strategis Selat Hormuz. Kekhawatiran itu langsung mendorong harga minyak dunia naik tajam dan memicu aksi hindar risiko di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 4,62% ke level US$99,19 per barel. Sementara minyak Brent di perdagangkan di kisaran US$105,29 per barel pada perdagangan pagi.

Baca Juga :  Lantik Pengurus SMSI Kerinci-Sungai Penuh Periode 2025-2028, Ini Pesan Ketua SMSI Provinsi Jambi

Kenaikan harga energi global dinilai dapat memperbesar tekanan inflasi, meningkatkan biaya impor, dan mempersempit ruang gerak bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah.

Pasar Menanti Keputusan MSCI

Pelaku pasar juga sedang menanti hasil evaluasi indeks dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pengumuman tersebut menjadi perhatian karena adanya potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global MSCI.

Jika bobot Indonesia benar-benar di pangkas, arus modal asing dikhawatirkan keluar lebih besar dari pasar saham domestik. Kondisi tersebut dapat memperdalam tekanan terhadap IHSG maupun rupiah dalam jangka pendek.

Analis pasar melihat pergerakan rupiah saat ini masih rentan terhadap sentimen eksternal. Bila tekanan berlanjut, level Rp17.550 hingga Rp17.600 per dolar AS di perkirakan menjadi area support berikutnya yang akan di uji pasar.

Di tengah situasi tersebut, investor cenderung memilih instrumen yang di anggap lebih aman sambil menunggu kepastian arah kebijakan global dan stabilitas geopolitik dunia.(Tim)

Berita Terkait

Cara Menabung dengan Metode Kakeibo untuk Mengatur Keuangan
Cara Jualan di TikTok Shop agar Produk Lebih Mudah Laku
Cara Mendapatkan Uang dari HP Tanpa Modal, Ini 15 Peluangnya
Ekonomi Indonesia Ditargetkan Tumbuh 6% pada 2027, Ini Strateginya
Cara Pinjam Uang di GoPay, Cek Syarat dan Langkahnya
Cara Menghasilkan Uang dari ZEPETO World
Ekspor Indonesia Ditargetkan Tembus USD 315 Miliar pada 2026
Paylater Makin Diminati, Penolong atau Beban Finansial?
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 13:07 WIB

Cara Menabung dengan Metode Kakeibo untuk Mengatur Keuangan

Sabtu, 5 September 2026 - 17:06 WIB

Cara Jualan di TikTok Shop agar Produk Lebih Mudah Laku

Sabtu, 5 September 2026 - 15:02 WIB

Cara Mendapatkan Uang dari HP Tanpa Modal, Ini 15 Peluangnya

Kamis, 3 September 2026 - 19:03 WIB

Ekonomi Indonesia Ditargetkan Tumbuh 6% pada 2027, Ini Strateginya

Jumat, 28 Agustus 2026 - 13:13 WIB

Cara Pinjam Uang di GoPay, Cek Syarat dan Langkahnya

Berita Terbaru

Bahaya Headphone Jika Dipakai Terlalu Lama (Foto: jalantikus)

Kesehatan

Bahaya Headphone Jika Dipakai Terlalu Lama

Sabtu, 12 Sep 2026 - 21:09 WIB

14 Aplikasi Video Call Gratis untuk Temani Komunikasi (Foto: romper.com/play.google.com/jalantikus)

Teknologi

14 Aplikasi Video Call Gratis untuk Temani Komunikasi

Sabtu, 12 Sep 2026 - 19:02 WIB

BlockAway Proxy: Cara Pakai dan Risiko Keamanannya

Teknologi

BlockAway Proxy: Cara Pakai dan Risiko Keamanannya

Sabtu, 12 Sep 2026 - 16:22 WIB

PUBG Mobile 4.6 Resmi Rilis, Mode Vampire Jadi Andalan (Foto: Dok. Level Infinite/ggwp)

Game

PUBG Mobile 4.6 Resmi Rilis, Mode Vampire Jadi Andalan

Sabtu, 12 Sep 2026 - 07:03 WIB

Tren Foto 80-an Makin Viral, Ini Prompt AI yang Bisa Dicoba

Teknologi

Tren Foto 80-an Makin Viral, Ini Prompt AI yang Bisa Dicoba

Jumat, 11 Sep 2026 - 22:11 WIB