Kabarinaja.id – Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin hingga menyentuh angka 5,50 persen. Kebijakan moneter terbaru ini diperkirakan belum mengganggu fundamental sektor properti secara drastis. Sektor ini diprediksi hanya akan mengalami perlambatan laju pemulihan, terutama jika tekanan ekonomi terus menggerus daya beli masyarakat.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga ini meningkatkan beban pendanaan bagi pengembang maupun konsumen. Sektor properti memandang kebijakan ini sebagai tantangan baru dalam perputaran modal. Sisi positifnya, lonjakan sebesar 25 basis poin tersebut masih berada dalam tahapan yang wajar.
“Belum cukup besar untuk mengubah fundamental pasar properti maupun mengganggu ekosistem investasi properti secara signifikan,” ujar Ferry dalam keterangan resminya, Kamis (11/6/2026).
Ferry mengingatkan semua pihak agar mewaspadai akumulasi berbagai tekanan ekonomi nasional saat ini. Kenaikan biaya hidup, lonjakan harga energi, dan potensi pelemahan daya beli masyarakat menjadi kombinasi faktor yang jauh lebih berbahaya bagi industri properti.
Properti Tetap Menjadi Instrumen Investasi Aman
Aset riil seperti rumah dan apartemen dinilai masih mampu menjaga nilai kekayaan investor dalam jangka panjang. Karakteristik pasar properti yang stabil membuatnya tetap memikat dibandingkan instrumen investasi lain yang memiliki volatilitas tinggi.
Kondisi fundamental sektor properti Indonesia saat ini terpantau jauh lebih sehat daripada periode krisis sebelumnya. Pengembang berhasil mengendalikan tingkat utang secara bijak, pasokan produk di pasar lebih rasional, dan perbankan memiliki likuiditas yang kuat untuk menyalurkan pembiayaan.
Kenaikan suku bunga acuan secara otomatis meningkatkan daya tarik instrumen keuangan seperti deposito dan obligasi. Kedua produk tersebut kini menawarkan imbal hasil kompetitif dengan risiko yang jauh lebih minim. Kondisi ini memicu perubahan perilaku para pemilik modal dalam mengesekusi rencana bisnis mereka.
“Sebagian investor akan menjadi lebih selektif dan cenderung menunda investasi properti yang bersifat spekulatif,” kata Ferry menambahkan.
Daya Beli Konsumen Menjadi Penentu Pasar
Colliers memproyeksikan pasar properti sepanjang tahun 2026 tetap tumbuh positif meski dalam ritme yang lebih lambat. Konsumen saat ini memprioritaskan produk properti dengan harga terjangkau, lokasi strategis, serta memiliki skema pembayaran yang fleksibel.
Tingkat suku bunga perbankan bukan lagi menjadi satu-satunya indikator utama yang memengaruhi dinamika pasar. Faktor penentu paling krusial saat ini bergeser pada kemampuan finansial riil masyarakat untuk menjangkau harga hunian.
Pertumbuhan pendapatan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir bergerak lebih lambat daripada laju kenaikan harga rumah di berbagai daerah. Kesenjangan ini membuat ruang finansial konsumen untuk mengambil beban cicilan baru menjadi sangat terbatas. Kenaikan BI Rate yang berjalan simultan dengan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) berpotensi kuat memaksa calon pembeli menunda transaksi mereka. (Wd/*)









