AI Dimanfaatkan Peretas, Strategi Serangan Siber Berubah Drastis

Kaspersky mengungkap perubahan strategi ransomware, pemanfaatan AI dalam pengembangan malware, hingga meningkatnya ancaman supply chain dan eksploitasi zero-day.

- Jurnalis

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

AI Dimanfaatkan Peretas, Strategi Serangan Siber Berubah Drastis (Foto: medcom)

AI Dimanfaatkan Peretas, Strategi Serangan Siber Berubah Drastis (Foto: medcom)

Kabarinaja.id – Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah wajah ancaman keamanan digital. Teknologi yang sebelumnya banyak di gunakan untuk meningkatkan produktivitas kini juga di manfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menyusun serangan yang lebih terarah, terencana, dan lebih sulit di kenali sistem keamanan.

Perubahan tersebut di ungkapkan oleh tim Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky dalam ajang Kaspersky Cyber Security Week yang di gelar pada Senin, 3 Agustus 2026. Temuan itu menunjukkan bahwa pola serangan tidak lagi mengandalkan jumlah target, melainkan berfokus pada efektivitas serangan terhadap sasaran tertentu.

AI Membuat Serangan Ransomware Semakin Selektif

Head of GReAT META and APAC Kaspersky, Sergey Lozhkin, menjelaskan bahwa kelompok ransomware kini meninggalkan strategi penyebaran secara acak yang selama bertahun-tahun menjadi pola umum.

Menurutnya, para pelaku kini lebih memilih organisasi atau individu tertentu setelah melakukan analisis mendalam terhadap calon target.

“Pola serangan ransomware telah mengalami perubahan signifikan. Kelompok ransomware kini tidak lagi menyerang semua target secara acak. Sekarang mereka memilih target secara spesifik,” ujar Sergey Lozhkin dalam presentasinya.

Sebelum melancarkan aksinya, pelaku mengumpulkan berbagai informasi melalui media sosial, LinkedIn, hingga berbagai sumber terbuka lainnya. AI di gunakan untuk mempercepat proses pengumpulan dan analisis data sehingga profil target dapat di pelajari secara lebih rinci.

Pendekatan tersebut membuat serangan memiliki peluang keberhasilan yang lebih tinggi karena di susun berdasarkan karakteristik masing-masing target.

Penurunan Serangan yang Digagalkan Bukan Berarti Ancaman Berkurang

Lozhkin menyebut jumlah serangan ransomware yang berhasil di hentikan di kawasan Asia Pasifik selama paruh pertama 2026 memang lebih rendah di bandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, kondisi itu tidak menunjukkan ancaman telah mereda.

Sebaliknya, pelaku kini lebih memilih melakukan operasi dengan sasaran yang telah di pilih secara cermat di bandingkan menyebarkan serangan secara luas. Strategi tersebut membuat jumlah insiden terlihat menurun, tetapi tingkat efektivitas setiap serangan justru meningkat.

Baca Juga :  Model AI OpenAI Tak Terduga Keluar dari Sandbox, Begini Respons Hugging Face

AI Membantu Pengembangan Malware Generasi Baru

Selain memilih target, AI juga mulai di manfaatkan dalam proses pembuatan perangkat lunak berbahaya atau malware.

Berdasarkan pengamatan tim GReAT selama beberapa bulan terakhir, hampir seluruh kelompok ancaman siber telah menggunakan model AI untuk mempercepat penyusunan kode berbahaya sekaligus meningkatkan efektivitas operasi mereka.

Bahasa Pemrograman Modern Semakin Banyak Digunakan

Peneliti Kaspersky juga menemukan semakin banyak kelompok Advanced Persistent Threat (APT) menggunakan bahasa pemrograman modern seperti Rust dan Go.

Pemanfaatan bahasa tersebut membuat malware menjadi lebih rumit untuk di analisis maupun di deteksi oleh perangkat keamanan konvensional.

Dalam sejumlah investigasi, tim GReAT juga menemukan teknik komunikasi tersembunyi yang di gunakan untuk mengirim maupun mengambil data dari sistem korban.

Salah satu teknik yang di temukan memanfaatkan Microsoft Outlook Calendar sebagai media komunikasi dengan server command and control (C2). Aktivitas tersebut membuat lalu lintas data tampak seperti penggunaan aplikasi biasa sehingga lebih sulit di curigai.

Supply Chain Attack Masih Menjadi Ancaman Serius

Selain ransomware dan APT, serangan terhadap rantai pasok perangkat lunak atau supply chain attack masih menjadi perhatian utama sepanjang 2026.

Jenis serangan ini di lakukan dengan menyusupi repositori perangkat lunak atau akun pengembang, kemudian menyisipkan kode berbahaya ke dalam pembaruan aplikasi resmi.

Karena pembaruan berasal dari sumber terpercaya, malware dapat menyebar ke banyak perangkat tanpa memicu kecurigaan pengguna.

Menurut paparan Lozhkin, tim GReAT menemukan sejumlah insiden yang melibatkan perangkat lunak keamanan, aplikasi pengembang, hingga library yang di gunakan jutaan pengembang di berbagai negara.

Baca Juga :  Cara Beli Saldo Google Play Pakai Pulsa Tanpa Kartu Kredit Termudah

Eksploitasi Zero-Day Terus Dimanfaatkan Kelompok APT

Ancaman lain yang masih aktif di manfaatkan pelaku adalah eksploitasi zero-day, yaitu kerentanan keamanan yang belum di ketahui atau belum di perbaiki oleh pengembang perangkat lunak.

Selama sekitar satu dekade terakhir, tim GReAT telah mengidentifikasi puluhan celah keamanan pada berbagai platform besar.

Sebagian besar kerentanan tersebut di ketahui setelah sebelumnya di manfaatkan dalam operasi nyata oleh kelompok peretas.

Fakta itu menunjukkan bahwa pelaku ancaman terus meningkatkan kemampuan teknis mereka melalui kombinasi AI, eksploitasi zero-day, hingga penyusupan terhadap rantai pasok perangkat lunak.

AI Belum Menggantikan Peran Analis Keamanan

Meski AI mulai di manfaatkan oleh pelaku kejahatan siber, teknologi tersebut juga memberikan manfaat besar bagi industri keamanan digital.

Lozhkin menjelaskan bahwa peneliti Kaspersky telah menggunakan AI untuk membantu mempercepat analisis ancaman dan meningkatkan produktivitas dalam proses penelitian.

Namun, investigasi mendalam tetap di lakukan oleh analis keamanan karena AI di nilai belum mampu memahami konteks serangan secara menyeluruh maupun mengambil keputusan yang memerlukan penilaian manusia.

Pendekatan yang menggabungkan kemampuan AI dengan keahlian analis masih di anggap sebagai strategi paling efektif dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.

Organisasi Perlu Menyesuaikan Strategi Pertahanan Digital

Temuan GReAT menunjukkan bahwa lanskap keamanan siber kini berubah lebih cepat di bandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Karena itu, organisasi tidak cukup hanya memperkuat perlindungan infrastruktur digital. Pemantauan terhadap rantai pasok perangkat lunak, aktivitas AI, serta indikator ancaman terbaru juga menjadi bagian penting dalam strategi pertahanan.

Perubahan pola serangan ini memperlihatkan bahwa pelaku kejahatan siber terus beradaptasi dengan teknologi baru. Langkah antisipasi yang lebih proaktif di perlukan agar organisasi mampu mendeteksi ancaman lebih dini sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas. (Wd/*)

Berita Terkait

Tren Global 2026 Berubah Drastis, AI Otonom hingga Gaya Hidup Autentik Makin Dominan
SAP Autonomous Enterprise AI Terinspirasi Evolusi GTA
Internet Tercepat dan Terlambat di Dunia, Ini Daftar Negaranya
Tak Perlu Mulai dari Nol, Begini Cara Memindahkan Memori ChatGPT ke Claude
Privasi AI Terancam, Chat Claude Sempat Muncul di Google
Masih Cas HP Seperti Ini? Kebiasaan yang Dianggap Benar Ternyata Keliru
Notifikasi Ponsel Sulit Diabaikan, Ini Penyebabnya
Model AI OpenAI Tak Terduga Keluar dari Sandbox, Begini Respons Hugging Face
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 22:01 WIB

Tren Global 2026 Berubah Drastis, AI Otonom hingga Gaya Hidup Autentik Makin Dominan

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:28 WIB

SAP Autonomous Enterprise AI Terinspirasi Evolusi GTA

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:05 WIB

AI Dimanfaatkan Peretas, Strategi Serangan Siber Berubah Drastis

Senin, 3 Agustus 2026 - 09:11 WIB

Internet Tercepat dan Terlambat di Dunia, Ini Daftar Negaranya

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:07 WIB

Tak Perlu Mulai dari Nol, Begini Cara Memindahkan Memori ChatGPT ke Claude

Berita Terbaru

SAP Autonomous Enterprise AI Terinspirasi Evolusi GTA (Foto: Medcom/Mamduh)

Teknologi

SAP Autonomous Enterprise AI Terinspirasi Evolusi GTA

Selasa, 4 Agu 2026 - 12:28 WIB