Muka Air Danau Toba Turun 1,6 Meter, IPB Peringatkan Ancaman Kematian Ikan

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026 - 09:02 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kabarinaja.idPenurunan muka air di kawasan Danau Toba mulai menjadi perhatian serius para peneliti. Institut Pertanian Bogor (IPB) mengungkap kondisi tersebut di picu musim kemarau berkepanjangan yang berpotensi mengganggu ekosistem dan aktivitas perikanan budi daya di kawasan danau terbesar di Indonesia itu.

Ahli Penginderaan Jauh Satelit IPB, Jonson Lumban Gaol, menjelaskan hasil pemantauan satelit altimetri menunjukkan muka air Danau Toba terus mengalami penurunan sejak Juni 2025 hingga Maret 2026.

Penurunan itu tercatat mencapai sekitar 1,6 meter dan berpotensi bertambah hingga 2 meter apabila musim kemarau terus berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Ancaman El Nino dan IOD Positif Perburuk Situasi

Kondisi tersebut di nilai bisa semakin parah setelah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG memprediksi kemungkinan terjadinya fenomena El Nino bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif pada 2026.

Menurut Jonson, kombinasi dua fenomena iklim itu dapat memicu musim kering lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk kawasan Danau Toba.

“Kombinasi ini dapat memicu musim kering berkepanjangan di Indonesia, termasuk di kawasan Danau Toba, yang pada akhirnya mempercepat penyusutan volume air danau dan dapat menyebabkan kematian massal ikan di KJA [Keramba Jaring Apung],” jelas Jonson dalam keterangan resmi IPB.

Baca Juga :  Wahana Kora-Kora di Pasar Malam Kerinci Patah, Tiga Pengunjung Luka-luka

Fenomena serupa sebelumnya pernah terjadi pada 2016 ketika muka air danau turun hingga sekitar dua meter. Saat itu, ribuan ton ikan di laporkan mati di area Keramba Jaring Apung (KJA).

Peristiwa kematian ikan juga kembali terjadi pada 2018, 2020, dan 2023 meski dalam skala yang lebih kecil. Semua kejadian tersebut umumnya muncul ketika permukaan air danau berada pada level rendah.

Penyebab Kematian Ikan Bukan Sekadar Air Surut

Jonson menegaskan kematian massal ikan sebenarnya bukan di sebabkan langsung oleh surutnya air danau. Faktor utama justru muncul saat cuaca ekstrem di sertai angin kencang mengaduk lapisan sedimen di dasar perairan.

Saat sedimen limbah organik terangkat ke permukaan, kualitas air akan memburuk dan mengganggu sistem pernapasan ikan.

“Pada saat yang sama, air dari lapisan bawah yang miskin oksigen naik ke atas, menyebabkan penurunan drastis kadar oksigen terlarut sehingga ikan di KJA mati,” jelasnya.

Ia juga menyoroti penumpukan limbah organik dan limbah rumah tangga di dasar danau yang selama ini menjadi masalah serius. Dalam kondisi normal, limbah tersebut masih bisa di uraikan bakteri dengan bantuan oksigen.

Baca Juga :  Proyek Tanggul dan Normalisasi Sungai Batang Merao Dikebut, Warga Harap Banjir Segera Teratasi

Namun ketika kadar oksigen menurun drastis, proses penguraian berubah menjadi anaerobik dan menghasilkan gas beracun seperti hidrogen sulfida dan metana.

Menurut Jonson, gas hidrogen sulfida dapat merusak sistem pernapasan ikan, sementara gas metana ikut memperburuk kualitas air dan meningkatkan risiko kematian massal.

Nelayan Diminta Waspada dan Siapkan Langkah Cepat

IPB mengingatkan para nelayan dan pembudi daya ikan agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi perubahan kondisi cuaca di Danau Toba. Tanda-tanda seperti angin kencang dan perubahan warna air menjadi keruh perlu segera di antisipasi.

Jonson menyarankan agar keramba di pindahkan ke wilayah perairan yang lebih dalam atau ikan segera di panen untuk mengurangi risiko kerugian lebih besar.

“Di sisi lain, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan perlu bergerak lebih proaktif, tidak hanya dengan imbauan, tetapi juga dengan sistem yang mampu memberikan peringatan dini secara akurat dan cepat,” tegasnya.

Pengamat lingkungan menilai kondisi Danau Toba saat ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan ekosistem danau secara berkelanjutan. Aktivitas budi daya ikan yang terus meningkat tanpa pengawasan limbah yang baik di khawatirkan dapat mempercepat penurunan kualitas air di masa mendatang.(Tim)

Berita Terkait

Jumat Berkah Warung Buk Dorlan Bagikan 100 Kotak Nasi untuk Warga
Gen Auto Care Hadir di Sungai Penuh, Wako Alfin Beri Dukungan
Suku Kerinci: Sejarah, Budaya Matrilineal, dan Aksara Incung
Mengenal Aksara Incung, Jejak Peradaban Tulisan Kerinci
Alghifari Media Tech Hadirkan Jasa Website Profesional
Kenduri Sko Berakhir, Ini Pesan Ninik Mamak Rio Jayo
Luhah Rio Jayo Sungai Penuh Menggelar Ritual Penurunan dan Penyucian Benda Pusaka
Wujud Kepedulian, PT Kerinci Merangin Hidro Gelar Khitan Massal Gratis untuk Anak-Anak di Batang Merangin
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 20:04 WIB

Jumat Berkah Warung Buk Dorlan Bagikan 100 Kotak Nasi untuk Warga

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:15 WIB

Gen Auto Care Hadir di Sungai Penuh, Wako Alfin Beri Dukungan

Jumat, 17 Juli 2026 - 12:37 WIB

Suku Kerinci: Sejarah, Budaya Matrilineal, dan Aksara Incung

Jumat, 17 Juli 2026 - 09:34 WIB

Mengenal Aksara Incung, Jejak Peradaban Tulisan Kerinci

Senin, 13 Juli 2026 - 13:03 WIB

Alghifari Media Tech Hadirkan Jasa Website Profesional

Berita Terbaru

76 Pelajar Terpilih Jadi Paskibraka Nasional 2026 (Foto: setneg.go.id)

Nasional

76 Pelajar Terpilih Jadi Paskibraka Nasional 2026

Selasa, 11 Agu 2026 - 19:01 WIB

Curug Minger di Lereng Gunung Slamet Tawarkan Suasana Sejuk (Foto:  wisatalombok.co.id/britainaja.com)

Wisata

Curug Minger di Lereng Gunung Slamet Tawarkan Suasana Sejuk

Selasa, 11 Agu 2026 - 17:43 WIB

Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti (Foto: RRI/Hana Syarif)

Ekonomi

Ekspor Indonesia Ditargetkan Tembus USD 315 Miliar pada 2026

Selasa, 11 Agu 2026 - 16:07 WIB

Ilustrasi. Kebiasaan di Kamar Mandi yang Picu Stroke (Foto: Ai)

Kesehatan

Kebiasaan di Kamar Mandi yang Picu Stroke

Selasa, 11 Agu 2026 - 15:08 WIB

Artis Drakor Ha Young (Foto: Netflix/metcom)

Internasional

Ha Young Terseret Sejarah Keluarga, Agensi Akhirnya Minta Maaf

Selasa, 11 Agu 2026 - 14:01 WIB